Operasi besar untuk menekan ikan invasif sapu-sapu kini menjadi sorotan di Jakarta karena jumlahnya sudah terlanjur banyak di jalur air kota. Dalam sepekan, lebih dari tujuh ton janitor fish telah ditangkap dan dikubur dari waduk serta saluran air, sementara pemerintah menargetkan setidaknya 10 ton agar populasinya bisa ditekan.
Langkah itu memperlihatkan bahwa masalah yang dihadapi Jakarta bukan hanya soal ikan yang merusak ekosistem, tetapi juga persoalan kualitas air yang membuat spesies asing tersebut betah bertahan. Sungai Ciliwung dan anak-anak sungainya kembali menjadi pusat perhatian karena kondisi tercemar masih memberi ruang hidup bagi sapu-sapu untuk berkembang.
Operasi serentak di lima wilayah
Pemerintah kota menggelar pembersihan serentak di lima wilayah administrasi dengan melibatkan ratusan personel. Petugas pemadam kebakaran, petugas penanggulangan bencana, warga, dan relawan lingkungan ikut turun ke lapangan untuk menangkap ikan dari waduk maupun saluran air.
Salah satu temuan datang dari sebuah waduk sedalam 6 meter di Ciracas, Jakarta Timur. Di lokasi itu, petugas mengumpulkan sekitar 320 kilogram ikan invasif, sementara warga menyaksikan tumpukan ikan dimasukkan ke dalam tong merah di tepi waduk.
Wali Kota Jakarta Timur Munjirin menyebut populasi ikan ini sudah berkembang pesat. Ia juga menegaskan bahwa dampaknya tidak berhenti pada ekosistem, karena ikan tersebut ikut memperburuk kondisi dinding sungai dan tanggul.
Ikan asing yang cocok hidup di air kotor
Sapu-sapu dikenal juga sebagai janitor fish atau suckermouth catfish dengan nama ilmiah Pterygoplichthys. Ikan ini bukan spesies asli Indonesia, tetapi sudah lama menyebar di perairan Jakarta yang tercemar dan berlimbah.
Awalnya, ikan ini masuk melalui perdagangan akuarium karena dianggap membantu memakan alga. Setelah dilepas ke alam, ikan tersebut justru menemukan kondisi yang sangat cocok di sungai-sungai perkotaan yang kotor dan kaya limbah.
Secara fisik, janitor fish dapat tumbuh hingga 50 sentimeter dan hidup 10 hingga 15 tahun. Tubuh berlapis dengan warna cokelat kusam membuatnya mudah dikenali saat menempel di dinding sungai atau saluran beton.
Ciliwung sebagai penanda masalah yang lebih besar
Ekolog dari Institut Teknologi Bandung, Dian Rosleine, menilai daya adaptasi ikan ini sangat tinggi. Ia menyebut ikan tersebut mampu bertahan dalam kondisi tercemar ketika spesies lain tidak sanggup hidup, sehingga keberadaannya bisa menjadi penanda buruknya kualitas air.
Ciliwung sendiri dulu mengalirkan air jernih dari pegunungan Jawa Barat menuju Jakarta. Kini sungai itu melewati permukiman padat dan membawa limbah rumah tangga yang belum diolah serta limpasan industri.
Perubahan fisik sungai juga memperkuat keadaan tersebut. Dinding beton menggantikan tepian alami, sementara saat musim kemarau air menjadi lebih hangat dan bergerak lambat, kondisi yang justru menguntungkan janitor fish dibandingkan spesies asli yang lebih rentan.
Perdebatan soal penanganan hasil tangkapan
Operasi massal ini memunculkan perdebatan setelah Majelis Ulama Indonesia atau MUI menyoroti kemungkinan kekejaman jika ikan dikubur dalam keadaan hidup. MUI melalui komisi fatwanya menilai penguburan ikan hidup melanggar hak hewan dalam ajaran Islam.
Menanggapi sorotan itu, Munjirin menyatakan pemerintah akan meninjau ulang metode penanganan dan memastikan semua ikan sudah mati sebelum dikuburkan. Pramono Anung juga menegaskan ikan harus mati terlebih dahulu sebelum dibuang di lokasi yang telah ditentukan.
Pemerintah kota turut menekankan perlunya standar kebersihan agar ikan tidak kembali ke sungai atau masuk lagi ke jalur perdagangan. Penanganan hasil tangkapan menjadi penting karena operasi ini tidak hanya soal jumlah ikan yang diangkat, tetapi juga soal cara memutus siklus penyebarannya.
Opsi pemanfaatan masih dikaji
Di beberapa negara, janitor fish sebenarnya bisa dimakan. Namun Jakarta belum akan menyetujui opsi itu dalam waktu dekat karena ada kekhawatiran kontaminasi logam berat dari perairan yang tercemar.
Pemerintah kota kini mempertimbangkan alternatif lain, termasuk mengolah ikan menjadi pakan ternak atau pupuk. Ada pula gagasan memanfaatkan ikan yang dikubur sebagai kompos alami, bahkan meniru model Brasil yang mengubah ikan ini menjadi arang agar memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Meski operasi pembersihan terus berjalan, langkah itu baru disebut sebagai awal. Tanpa perbaikan pengelolaan limbah dan pengurangan polusi, Ciliwung masih berisiko kembali menjadi habitat ideal bagi sapu-sapu dan terus menekan populasi ikan asli di perairan Jakarta.







