Meta memperluas kendali orang tua atas akun remaja di Instagram dan Facebook lewat pembaruan yang membatasi konten, akun, pencarian, hingga interaksi tertentu. Pembaruan ini ditujukan untuk pengguna remaja 13+ agar pengalaman digital mereka tetap sesuai usia dan lebih aman saat berselancar di ruang sosial milik Meta.
Langkah tersebut diperkenalkan dalam acara “Cerdas Digital 2026: Anak Remaja Aman, Orang Tua Tenang” bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta ECPAT Indonesia. Momentum pengumumannya bertepatan dengan Hari Keluarga Internasional, sehingga pesan yang dibawa menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga keamanan remaja di media sosial.
Pembatasan konten dibuat lebih ketat
Pengaturan bawaan untuk Akun Remaja Instagram kini mengacu pada klasifikasi usia film 13+. Dengan pendekatan ini, Meta ingin membatasi paparan konten yang tidak sesuai usia secara lebih sistematis di Instagram dan Facebook.
Sebelumnya, Meta sudah menahan rekomendasi konten seksual sugestif, gambar grafis yang mengganggu, serta konten dewasa seperti penjualan rokok dan alkohol. Kini, batas itu diperluas ke bahasa kasar, aksi berbahaya, dan unggahan yang dapat mendorong perilaku berisiko, termasuk yang berkaitan dengan perlengkapan ganja.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, mengapresiasi langkah tersebut. Ia menekankan bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan kerja sama nyata antara pemerintah, platform, orang tua, dan masyarakat.
Akun dan pencarian ikut dibatasi
Meta juga memperluas teknologi moderasinya agar akun yang sering membagikan konten tidak sesuai usia tidak mudah menjangkau remaja. Akun seperti itu tidak bisa diikuti oleh remaja, tidak bisa menghubungi mereka lewat pesan langsung, tidak bisa mengikuti profil mereka, dan tidak bisa berinteraksi di kolom komentar.
Pembatasan serupa masuk ke sistem pencarian. Meta memperluas filter untuk topik sensitif dan dewasa, termasuk kata kunci yang disamarkan maupun salah eja, supaya pencarian berisiko tidak mudah lolos.
Penyaringannya tidak berhenti di pencarian saja. Konten yang melanggar pedoman usia juga tidak akan muncul di Explore, Reels, Feed, Stories, komentar, maupun tautan yang dibagikan lewat pesan langsung.
Pengalaman AI dan kontrol orang tua ikut diperbarui
Selain konten dan akun, pengalaman AI untuk remaja juga diperbarui agar respons yang diterima tetap relevan dan aman bagi pengguna usia 13 tahun ke atas. Meta menyesuaikan pengalaman ini sebagai bagian dari perlindungan yang lebih luas untuk pengguna muda.
Bagi orang tua yang ingin pembatasan lebih ketat, Meta menambahkan opsi “Limited Content”. Dengan fitur ini, remaja bahkan tidak dapat melihat, memberi, atau menerima komentar tertentu yang dianggap tidak sesuai.
Kepala Kebijakan Publik Meta Indonesia, Berni Moestafa, menyebut pembaruan ini lahir dari masukan para orang tua. Menurut dia, Meta ingin membantu orang tua merasa lebih tenang saat remaja menggunakan media sosial melalui pengalaman online yang lebih aman dan sesuai usia.
Pendampingan keluarga didorong lebih aktif
Fitur bawaan di Instagram dan Facebook juga dinilai memudahkan orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak. Selebriti sekaligus orang tua, Ersa Mayori, menilai fitur tersebut bisa membantu membatasi kontak yang tidak diinginkan, menyaring konten yang tidak sesuai usia, dan mengatur waktu layar tanpa harus langsung melarang anak memakai media sosial.
Pendekatan ini dianggap penting karena tantangan pengasuhan digital semakin kompleks. Orang tua tidak hanya perlu mengawasi, tetapi juga memahami alat yang tersedia agar batasan bisa diterapkan secara lebih realistis dan konsisten.
Edukasi digital akan diperluas ke sejumlah kota
Sebagai tindak lanjut, Meta bersama ECPAT Indonesia akan menggelar “Smart Digital Parenting Workshop” di berbagai kota di Indonesia. Program ini dijadwalkan berlangsung sepanjang 2026 di Yogyakarta, Denpasar, Batam, dan Kupang.
Koordinator Nasional ECPAT Indonesia, Andy Ardian, menilai orang tua memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan digital remaja yang sehat dan aman. Program edukasi ini akan difokuskan pada peningkatan literasi digital orang tua lewat diskusi, pelatihan, dan alat bantu praktis untuk mendampingi anak menggunakan media sosial.
Bagi Meta, pembaruan ini menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman media sosial yang lebih aman dan sesuai usia bagi remaja di Indonesia. Perlindungan digital itu juga diarahkan tidak hanya berhenti pada fitur, tetapi berlanjut lewat edukasi keluarga dan kolaborasi lintas pihak.
