Kebutuhan peserta didik Sekolah Rakyat jenjang SD di Jawa Timur belum berjalan mulus meski daya tampung untuk tahun ajaran baru 2026 naik hampir dua kali lipat. Tantangan utamanya bukan pada ruang belajar, melainkan pada kesiapan keluarga untuk melepas anak tinggal di asrama.
Di lapangan, sebagian orang tua masih belum mantap menitipkan anak usia sekolah dasar untuk hidup jauh dari rumah. Kondisi itu membuat penjaringan siswa berjalan lebih lambat dibandingkan kapasitas yang sudah disiapkan.
Masalah yang paling terasa di jenjang SD
Muhammad Amiruddien, Staf Pengolah Data dan Informasi Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, menyebut hambatan itu paling kuat terasa pada jenjang SD. Ia menilai anak-anak usia sekolah dasar masih terlalu kecil untuk langsung beradaptasi dengan pola hidup berasrama.
Menurut Amiruddien, Kementerian Sosial sudah menetapkan standar usia untuk kelas 1 sekitar 7 tahun agar anak tidak terlalu kecil. Namun, ukuran kesiapan keluarga tetap menjadi faktor yang paling menentukan dalam proses pendaftaran.
Sasaran program sudah jelas, penerimaan belum sepenuhnya mulus
Sekolah Rakyat menyasar keluarga dari desil 1 dan 2, sehingga kelompok penerimanya sebenarnya sudah ditentukan dengan jelas. Meski begitu, pelaksanaan di lapangan tetap bergantung pada penerimaan orang tua terhadap sistem asrama bagi anak SD.
Karena itu, persoalan di Jawa Timur bukan hanya soal membuka kuota baru, tetapi juga soal meyakinkan keluarga bahwa pola pendidikan berasrama dapat diterima untuk anak usia sekolah dasar. Pada jenjang lain, pemenuhan kuota disebut tidak seberat di SD.
| Informasi | Rincian |
|---|---|
| Jenjang yang paling terdampak | SD |
| Daya tampung | Naik hampir dua kali lipat untuk tahun ajaran baru 2026 |
| Kendala utama | Orang tua belum siap melepas anak tinggal di asrama |
| Sasaran program | Keluarga desil 1 dan 2 |
| Standar usia kelas 1 | Sekitar 7 tahun menurut Kementerian Sosial |
Prinsip program dan tantangan di lapangan
Secara konsep, Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau keluarga yang masuk kelompok paling membutuhkan. Namun, di Jawa Timur, penyesuaian sosial di tingkat keluarga masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum kuota SD bisa terisi optimal.
Situasi ini menunjukkan bahwa kesiapan teknis penyelenggara tidak otomatis diikuti kesiapan psikologis orang tua. Selama kekhawatiran terhadap pola asrama masih kuat, pemenuhan peserta didik SD diperkirakan tetap menjadi tantangan utama bagi Pemprov Jatim.
Source: www.suarasurabaya.net






