Orbit Bumi Kian Sesak Oleh 12.550 Puing, Ancaman Tabrakan Makin Sulit Dikendalikan

Author: Redaksi Android62

Beban di orbit Bumi sudah mencapai tingkat yang membuat para pengamat ruang angkasa semakin waspada. Dari 33.269 objek yang mengelilingi Bumi, sekitar 47 persen ternyata bukan satelit aktif, melainkan puing tanpa kendali atau tujuan.

Accu mencatat sedikitnya 12.550 fragmen puing orbit yang terlacak, dan jumlah itu terus bertambah lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengangkatnya dari orbit. Di sisi lain, jumlah satelit aktif mendekati 17.690, sehingga ruang di orbit kian sesak dari waktu ke waktu.

Masalahnya tidak berhenti pada puing kecil yang bisa dilacak. Ada juga hampir 2.400 badan roket yang ditinggalkan, sehingga total sampah antariksa yang mengitari Bumi kemungkinan lebih besar dari hitungan saat ini.

Kecepatan benda-benda itu menjadi sumber bahaya berikutnya. Di atas kepala manusia, semuanya melaju sekitar 17.400 mil per jam, sehingga benturan kecil saja dapat mengacaukan misi bernilai tinggi.

Risiko seperti ini bukan sekadar teori. Pada 2016, puing yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari beberapa perseribu milimeter menghantam jendela Cupola di International Space Station.

Benturan itu meninggalkan kawah selebar seperempat inci pada kaca berlapis empat tersebut. Kejadian itu menunjukkan bahwa objek yang nyaris tak terlihat pun tetap mampu menimbulkan kerusakan serius saat melaju di orbit.

Sumber puing yang terkonsentrasi

Perhitungan Accu juga menunjukkan pola yang tidak merata. Ada tujuh objek sampah untuk setiap 10 satelit yang mengorbit Bumi.

Beban terbesar berasal dari tiga pihak utama. China disebut menyumbang 34 persen dari total sampah antariksa, sedangkan Amerika Serikat dan Commonwealth of Independent States atau CIS masing-masing menyumbang sekitar 31 persen.

Masalah yang belum selesai saat benda turun ke atmosfer

Sebagian objek di orbit memang perlahan turun karena gravitasi Bumi. Namun, proses itu biasanya memakan waktu bertahun-tahun sebelum benda-benda tersebut akhirnya terbakar saat kembali memasuki atmosfer.

Accu menilai pembersihan alami itu tidak otomatis menghapus ancaman. Material seperti aluminium, tembaga, dan litium bisa menguap sebelum mencapai permukaan, tetapi partikelnya tetap bertahan di atmosfer atas.

Dampak penuh dari proses itu masih perlu diteliti lebih lanjut. Meski begitu, bukti yang ada sudah mengarah pada efek berbahaya terhadap lapisan ozon.

Upaya membersihkan orbit masih tertinggal

Di sisi lain, kemampuan untuk membersihkan orbit masih jauh dari memadai. Accu menyebut belum ada proyek besar yang benar-benar siap menghilangkan sampah antariksa dalam skala luas.

Meski demikian, investasi untuk mencegah masalah ini memburuk mulai meningkat. European Space Agency memimpin lewat program ClearSpace-1, yang disebut sebagai misi pengumpulan puing aktif pertama.

Sejumlah perusahaan swasta juga mulai mengembangkan pendekatan mereka sendiri. Teknologi seperti lengan robot, drag sails, dan harpun sedang diteliti sebagai cara potensial untuk menangani puing di orbit.

Total massa sampah antariksa di atas Bumi diperkirakan mencapai sekitar 15.550 ton. Angka itu setara dengan berat sekitar 40 pesawat jumbo jet, dan volumenya terus bertambah.

Accu menegaskan laporan ini bukan untuk menawarkan solusi final, melainkan untuk menunjukkan bahwa masalah tersebut nyata dan membutuhkan koordinasi internasional. Tanpa kendali bersama, eksplorasi ruang angkasa akan menjadi jauh lebih sulit dalam jangka panjang.

Berita Terbaru