Owa Jawa Dijual Rp150 Ribu, Dari Satu Berita Mudi Menemukan Jalan Konservasi

Author: Redaksi Android62

Harga Owa Jawa yang hanya Rp150 ribu menjadi titik balik bagi Mutia Hanifah atau Mudi dalam melihat konservasi. Kabar itu membuatnya menangis, sekaligus mendorongnya menekuni isu perdagangan satwa liar dengan lebih serius.

Bagi Mudi, peristiwa itu terasa sangat menyesakkan karena ia tahu betapa sulitnya menemukan Owa Jawa di habitat aslinya. Di sisi lain, satwa langka tersebut justru diperdagangkan dengan nilai yang sangat rendah.

Dari keraguan kuliah ke kerja konservasi

Perjalanan Mudi menuju konservasi tidak berlangsung lurus. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi sebelum melanjutkan studi ke jurusan Biologi Konservasi di Universitas Nasional, meski pilihan itu awalnya lebih banyak mengikuti permintaan orang tua.

Selama kuliah, keraguan sempat terus menghantui dirinya. Ia mempertanyakan apakah jalan yang diambil benar-benar cocok untuk dirinya dan apakah ia mampu bertahan di dunia konservasi.

Situasi berubah saat pandemi COVID-19 pada 2020–2021 membatasi aktivitas lapangan. Di tengah keterbatasan itu, Mudi memilih tetap terlibat dengan menjadi relawan yang membantu mengumpulkan data perdagangan satwa liar, khususnya owa.

Ia menelusuri laporan, mengikuti pemberitaan, dan mempelajari data tentang perdagangan, kelahiran, hingga kematian owa dari 2013 sampai 2021. Proses tersebut memperlihatkan kepadanya bahwa isu konservasi tidak hanya terjadi di hutan, tetapi juga di pasar satwa dan ruang publik.

Menemukan peran yang paling dekat

Dari pengalaman itu, Mudi menyadari bahwa dirinya paling nyaman saat berbicara dengan orang lain. Ia juga merasa dekat dengan aktivitas edukasi, anak-anak, dan kegiatan yang mengenalkan alam secara lebih komunikatif.

Sejak 2021, ia mulai lebih serius menekuni konservasi, terutama yang berkaitan dengan perdagangan satwa liar. Ia kemudian bergabung dengan sejumlah organisasi nonpemerintah dan lembaga lingkungan, tetapi jalur yang paling lama ia tekuni bukanlah penelitian lapangan.

Yang paling ia pilih justru jalur edukasi. Saat ini, Mudi bekerja sebagai content creator di penerbit buku anak dan aktif menjadi edukator konservasi di sekolah alam serta berbagai program lingkungan.

Lewat media sosial, ia menggunakan bahasa yang ringan untuk mengenalkan satwa, konservasi, dan kebiasaan sederhana yang lebih ramah lingkungan. Cara ini membuat isu yang kerap terasa berat menjadi lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Alam sebagai ruang belajar

Di luar aktivitas edukasi, Mudi juga menyebut dirinya sebagai eco-traveler. Baginya, bepergian ke alam bukan semata menikmati pemandangan, melainkan juga menghormati lingkungan yang dikunjungi.

Ia menekankan kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum sendiri, membawa tempat makan sendiri, dan meminimalkan karbon saat bepergian. Menurutnya, langkah-langkah kecil itu bisa menjadi bentuk tanggung jawab yang dilakukan siapa saja.

Pandangan tersebut sejalan dengan cara Mudi memaknai konservasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia menilai, orang tidak harus menunggu menjadi peneliti atau terlibat ekspedisi jauh untuk mulai mengambil peran.

Yang ingin ia dorong adalah perubahan cara pandang ketika orang datang ke alam. Alam tidak cukup dilihat sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menuntut rasa hormat dan kepedulian.

Karena itu, pesan yang ia bawa tidak hanya soal berkunjung ke tempat alami. Ia ingin masyarakat belajar tentang alam, menjaga perilaku saat berada di sana, dan ikut mengambil bagian dalam konservasi di Indonesia.

Perjalanan Mudi memperlihatkan bahwa ruang digital bisa menjadi pintu masuk yang kuat untuk mengenalkan isu lingkungan. Dari layar ponsel, edukasi tentang satwa dan kebiasaan ramah lingkungan dapat menjangkau orang-orang yang belum pernah masuk hutan, tetapi tetap bisa mulai peduli dan bertindak.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru