Palang KA Dan Lampu Merah Sering Diterobos, Ini 5 Penyebab Yang Membuatnya Terus Terulang

Masalah penerobos palang kereta api dan lampu merah ternyata tidak berhenti pada soal pelanggaran sesaat. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, menilai akar utamanya ada pada rendahnya kesadaran keselamatan berlalu lintas.

Menurut Jusri, banyak pengendara cenderung mengabaikan risiko saat berada di jalan. Sikap itu membuat aturan dipandang sebagai penghalang, bukan sebagai perlindungan bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lain.

Kesadaran keselamatan yang lemah

Jusri menjelaskan bahwa safety awareness yang lemah berarti rendahnya kesadaran seseorang terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain. Dalam pola pikir seperti ini, pengendara kerap tidak memikirkan risiko dan merasa tidak akan terjadi apa-apa.

Dari sana muncul berbagai bentuk pelanggaran yang sebenarnya sudah sering terlihat di jalan. Mulai dari tidak memakai helm atau sabuk pengaman, main ponsel saat berkendara, hingga menerobos lampu merah, palang pintu kereta api, dan melawan arus.

Lima pemicu yang sering melahirkan pelanggaran

Salah satu penyebab yang paling sering muncul adalah kurangnya edukasi. Banyak pelanggar tidak memahami pentingnya keselamatan atau aturan lalu lintas, sehingga batas yang seharusnya dipatuhi justru dianggap sepele.

Pemicu berikutnya adalah kebiasaan buruk yang terbentuk dari pelanggaran berulang. Saat seseorang terus melanggar tanpa konsekuensi yang terasa, perilaku itu bisa dianggap normal dan dibawa terus saat berkendara.

Jusri juga menyoroti overconfidence atau rasa terlalu percaya diri. Pengendara yang merasa sudah mahir sering kali justru meremehkan risiko dan mengambil keputusan berbahaya di jalan.

Lingkungan dan penegakan aturan ikut berpengaruh

Pengaruh lingkungan sosial juga tidak kecil. Ketika seseorang melihat orang lain melanggar, ia bisa ikut-ikutan dan menganggap tindakan tersebut wajar.

Selain itu, lemahnya penegakan hukum ikut memperkuat kebiasaan buruk tersebut. Jika sanksi jarang diberikan, pengendara cenderung merasa aman untuk mengulang pelanggaran yang sama.

Faktor terburu-buru kemudian membuat semua pemicu itu semakin kuat. Banyak orang lebih mengutamakan cepat sampai daripada selamat, terutama saat merasa dikejar waktu di jalan.

Pola berisiko lain yang masih sering muncul

Di luar penerobos palang KA dan lampu merah, Jusri juga menyebut perilaku berisiko lain yang masih kerap ditemui. Di antaranya ngebut di area ramai atau jalan sempit, tidak menyalakan lampu sein saat berbelok, serta mengemudi saat mengantuk atau setelah minum alkohol.

Rangkaian perilaku itu menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar tidak tahu aturan. Ada sikap meremehkan bahaya yang membuat pelanggaran lalu lintas terus berulang.

Kasus kecelakaan maut di Bekasi kembali memperlihatkan betapa fatalnya konsekuensi dari kelalaian seperti ini. Peristiwa itu diduga bermula saat KRL Commuter Line menabrak taksi listrik Green SM di perlintasan kereta api di Jalan Ampera, lalu rangkaian kejadian berikutnya berujung pada tabrakan dengan Kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.

Jusri menegaskan bahwa safety awareness yang lemah biasanya lahir dari gabungan pengetahuan yang kurang, sikap yang meremehkan risiko, dan lingkungan yang tidak mendukung perilaku aman. Kombinasi itulah yang membuat pelanggaran seperti menerobos perlintasan KA dan lampu merah tetap terus terjadi di jalan.

Source: oto.detik.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer