Thailand berada dalam jalur risiko iklim yang makin mengkhawatirkan. Sejumlah wilayah di negara itu diperkirakan bisa mendekati kondisi panas setara Gurun Sahara pada 2070, sebuah perubahan yang tidak lagi sekadar soal cuaca terik, melainkan ancaman langsung bagi kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari.
Peringatan tersebut muncul dari kajian iklim global yang menyoroti bergesernya “ceruk iklim manusia”, yakni rentang suhu tahunan yang selama ribuan tahun paling banyak menopang hunian dan perkembangan peradaban. Ketika sebuah wilayah perlahan keluar dari kisaran itu, dampaknya tidak berhenti pada rasa gerah, tetapi dapat menyentuh cara manusia bekerja, tinggal, dan bertahan.
Ambang panas yang makin berbahaya
Secara historis, populasi manusia paling terkonsentrasi di wilayah dengan suhu rata-rata tahunan sekitar 11°C hingga 15°C. Namun, situasinya menjadi jauh lebih berat saat suhu rata-rata tahunan melewati 29°C, karena hanya sekitar 0,8 persen permukaan daratan bumi yang saat ini berada di kisaran setinggi itu.
Sebagian besar wilayah dengan suhu di atas 29°C memang ada di kawasan gurun seperti Sahara. Karena itu, jika sebuah negara bergerak ke arah rentang panas tersebut, ancamannya bukan lagi sekadar ketidaknyamanan sementara, melainkan tekanan besar terhadap kemampuan manusia mempertahankan kehidupan normal.
Dalam skenario emisi tinggi, wilayah panas ekstrem diperkirakan meluas dan dapat memengaruhi sekitar sepertiga populasi dunia. Thailand menjadi salah satu negara yang dinilai rentan karena suhu rata-rata tahunannya sudah berada di sekitar 26°C, sehingga jaraknya menuju ambang berbahaya itu tidak terlalu jauh.
Thailand sudah akrab dengan panas, tetapi tekanannya terus naik
Thailand bukan wilayah yang asing dengan suhu tinggi, terutama pada periode Maret hingga Mei ketika suhu kerap menembus 40°C. Data yang pernah terekam menunjukkan bahwa panas ekstrem di negara itu sudah pernah melampaui tahap yang biasanya dianggap luar biasa.
Pada gelombang panas 2016, citra satelit NASA menunjukkan suhu permukaan di beberapa wilayah Thailand mencapai 12°C di atas rata-rata normal. Di tahun yang sama, lebih dari 50 kota di Thailand mencatat atau memecahkan rekor suhu harian, sementara Mae Hong Son sempat merekam suhu 44,6°C yang menjadi rekor tertinggi di negara tersebut saat itu.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa suhu ekstrem bukan ancaman yang jauh di depan. Jika proyeksi iklim terus bergerak ke arah yang sama, kejadian yang dulu dianggap puncak anomali bisa berubah menjadi kondisi yang lebih sering muncul dan lebih sulit dihindari.
Beban kesehatan tidak berhenti pada rasa tidak nyaman
Panas ekstrem membawa risiko yang lebih luas dari sekadar tubuh merasa lelah atau tidak nyaman. Para ilmuwan menilai suhu tinggi dapat memicu penyakit jantung, gangguan pernapasan, hingga meluasnya penyakit menular, terutama ketika lingkungan makin sulit dikendalikan.
Kelompok yang paling rentan tetap masyarakat berpenghasilan rendah, lansia, dan pekerja luar ruangan. Di wilayah pedesaan, tekanannya bisa lebih berat karena akses terhadap pendingin ruangan dan infrastruktur adaptasi masih terbatas, sehingga perlindungan terhadap panas tidak merata.
Dampak itu juga terasa pada produktivitas kerja. Sektor pertanian dan konstruksi termasuk dua bidang yang paling rentan ketika suhu naik terlalu tinggi, sementara tanaman juga menghadapi tantangan lebih besar untuk tumbuh dengan optimal.
Tekanan ekonomi dan kebutuhan energi ikut membesar
Kenaikan suhu biasanya mendorong kebutuhan listrik untuk pendinginan. Saat konsumsi energi meningkat tajam, sistem ekonomi ikut menanggung beban tambahan, terutama jika pasokan listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Kondisi seperti itu dapat memperbesar emisi dan pada akhirnya mempercepat perubahan iklim, sehingga panas ekstrem berubah menjadi masalah jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi, kesenjangan sosial, dan ketahanan nasional. Dalam situasi demikian, biaya untuk menyesuaikan hidup sehari-hari tidak hanya muncul di rumah tangga, tetapi juga merembet ke tingkat sistem.
Pendingin udara sering dipandang sebagai solusi cepat menghadapi suhu yang terus naik. Namun, para peneliti menilai pemakaian AC secara besar-besaran bukan jawaban jangka panjang karena membutuhkan infrastruktur energi yang sangat besar.
Adaptasi perlu berjalan bersama penurunan emisi
Peringatan bahwa Thailand bisa sepanas Sahara pada 2070 menunjukkan bahwa risiko iklim sudah bergerak dari kemungkinan teoritis menjadi ancaman yang nyata. Adaptasi tetap diperlukan, tetapi upaya itu tidak akan cukup bila pelepasan emisi gas rumah kaca tidak ikut ditekan.
Tanpa transisi menuju energi bersih, ketergantungan pada pendinginan justru berpotensi memperburuk krisis yang ingin dihadapi. Karena itu, arah kebijakan yang diambil saat ini akan sangat menentukan apakah panas ekstrem di Thailand hanya menjadi tekanan berat atau berkembang menjadi ancaman yang jauh lebih luas bagi kehidupan manusia.
Source: www.viva.co.id






