Pantura Jawa Tenggelam, Anak Pesisir Menanggung Harga Pembangunan yang Abai Iklim

Pesisir Pantai Utara Jawa kian menyempit, dan anak-anak menjadi kelompok yang paling awal merasakan dampaknya. Banjir rob, erosi, dan penurunan muka tanah membuat ruang hidup keluarga pesisir terus terdesak dari waktu ke waktu.

Di Kabupaten Demak, Kecamatan Sayung menjadi salah satu contoh paling jelas dari krisis itu. Kawasan ini terdampak banjir rob seluas 1.266 hektare, sementara warga di Desa Sriwulan, Bedono, dan Sidogemah berulang kali harus meninggikan rumah setiap beberapa tahun.

Dampak iklim menekan tumbuh kembang anak

Kerentanan anak di wilayah pesisir bertambah karena usia, gender, dan kondisi disabilitas. Saat harus mengungsi, mereka juga hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan dan menanggung tekanan sosial yang besar.

Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Walhi, Mida Saragih, menilai paparan bencana iklim di Pantura Jawa menciptakan tekanan lingkungan, ekonomi, fisik, dan psikologis. Ia mengatakan dampaknya langsung terasa pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak.

Laporan Children’s Climate Risk Report 2026 dari UNICEF menunjukkan hampir seluruh anak di dunia terpapar risiko iklim. Sebanyak 1,1 miliar anak bahkan menghadapi tiga ancaman sekaligus, yakni kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang panas.

Dalam laporan yang sama, Mida menyebut sedikitnya 33 juta anak terdampak banjir pesisir dan 337 juta terdampak banjir sungai. Angka itu memperlihatkan bahwa ancaman iklim bukan lagi persoalan jauh di luar Jawa, melainkan sudah menyentuh kelompok paling rentan di dalam negeri.

Bedono menyusut, dusun berpindah

Tekanan di pesisir Jawa Tengah tidak berhenti pada banjir rob. Kajian BRIN 2026 mencatat 65,8% wilayah pesisir mengalami erosi sejak 2000-2024, dan kondisi itu diperparah penurunan muka tanah yang terus terjadi di kawasan tersebut.

Jawa Tengah memiliki 341 desa pesisir yang tersebar di 17 kabupaten/kota. Data Walhi Jawa Tengah menunjukkan 96,6% desa pesisir di provinsi itu tergolong rentan terhadap dampak bencana iklim.

Desa Bedono di Sayung memperlihatkan betapa cepat daratan bisa hilang. Berdasarkan data BPS 2023, luas desa ini mencapai 739 hektare atau sekitar 9,38% dari total wilayah Kecamatan Sayung yang seluas 7.880 hektare.

Namun, penelitian Walhi Jawa Tengah 2024 menunjukkan daratan Bedono kini tinggal 94,33 hektare. Sejumlah dusun juga telah berpindah karena huniannya tenggelam, termasuk Dusun Tambaksari pada rentang 1999-2000, Dusun Rejosari atau Senik pada 2006, dan Dusun Mondoliko pada 2023.

WilayahData KunciKeterangan
Sayung, Demak1.266 hektareTerdampak banjir rob
Desa Bedono739 hektareData BPS 2023
Desa Bedono94,33 hektareSisa daratan menurut penelitian Walhi Jawa Tengah 2024
Jawa Tengah341 desa pesisirTersebar di 17 kabupaten/kota
Jawa Tengah96,6%Desa pesisir tergolong rentan terhadap dampak bencana iklim

Pembangunan ikut disorot Walhi

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Tengah, Fahmi Bastian, menilai negara harus memenuhi kewajibannya melindungi generasi sekarang dan generasi mendatang. Ia menegaskan bahwa jika pesisir terus dibiarkan tenggelam, negara bukan hanya gagal melindungi anak hari ini, tetapi juga merampas hak generasi masa depan atas ruang hidup yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

Fahmi menekankan hak antar-generasi menuntut setiap kebijakan pembangunan diuji dari kontribusinya terhadap keselamatan, keberlanjutan, dan kualitas hidup. Karena itu, ia mendesak penanganan bencana iklim yang menyentuh akar kerentanan, terutama penyelamatan Pantura Jawa.

Ia juga menilai pembangunan yang bertumpu pada proyek skala besar justru akan memperparah kerentanan pesisir. Dalam pandangannya, pemerintah sudah sepatutnya menghentikan pengembangan mega proyek Giant Sea Wall dan Kawasan Strategis Nasional Kedungsepur yang mencakup Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan Purwodadi.

Di lapangan, warga pesisir terus hidup dengan ancaman yang sama: banjir rob, erosi, dan tanah yang kian turun. Di tengah tekanan itu, anak-anak menjadi kelompok yang paling mahal membayar harga dari pembangunan yang abai pada krisis iklim.

Source: www.betahita.id

Berita Terkait