Paparan asap rokok di dalam rumah tidak berhenti hanya karena rokok sudah dimatikan. Di udara bisa tetap tersisa partikel berbahaya yang ikut terhirup, sementara sebagian lainnya menempel pada benda-benda di sekitar dan bertahan dalam waktu lama.
Karena itu, rumah, kendaraan, dan ruang tertutup justru bisa menjadi sumber paparan yang terus berulang bagi anggota keluarga. Kondisi ini sering merugikan bayi, anak-anak, dan ibu hamil yang berada paling dekat dengan permukaan benda dan udara di sekitarnya.
WHO menjelaskan bahwa asap rokok pasif merupakan campuran asap dari ujung rokok yang terbakar dan asap yang diembuskan perokok. Lembaga itu juga memperkirakan paparan ini berkontribusi pada sekitar 600.000 kematian dini setiap tahun, dengan banyak korban berasal dari perempuan dan anak-anak yang tidak merokok.
Bahaya rokok tidak selalu tampak seperti asap yang masih mengepul. Mayo Clinic menyebut adanya thirdhand smoke, yaitu residu zat berbahaya yang tertinggal setelah rokok padam dan bisa menetap di dalam ruangan dalam waktu lama.
Residu tersebut dapat mengandung nikotin, formaldehida, dan naftalena. Zat-zat ini bisa melekat pada pakaian, sofa, karpet, dinding, dan lantai, lalu bertahan berbulan-bulan meski aktivitas merokok sudah berhenti.
Kondisi seperti ini kerap tidak disadari karena paparan tidak selalu terjadi lewat hisapan langsung. Anak kecil dan bayi menjadi kelompok yang sangat rentan karena mereka lebih sering menyentuh permukaan benda dan memasukkan tangan ke mulut.
Centers for Disease Control and Prevention atau CDC mencatat paparan asap rokok pasif telah menyebabkan sekitar 2,5 juta kematian pada non-perokok sejak 1964. Bahkan paparan singkat pun tidak bisa dianggap ringan karena dapat memicu peradangan di dalam tubuh selama beberapa jam.
Pada orang dewasa, risikonya berkaitan dengan penyakit jantung koroner, stroke, kanker paru-paru, gangguan fungsi pembuluh darah, dan peningkatan risiko serangan jantung. Paparan ini juga berpengaruh pada kesehatan reproduksi perempuan, termasuk pada ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah.
Dampak pada anak-anak bisa lebih berat karena tubuh mereka masih berkembang. Asap rokok dapat memicu pneumonia, bronkitis, infeksi telinga, gangguan pendengaran, asma yang lebih sering dan lebih berat, gangguan pertumbuhan paru-paru, hingga risiko sudden infant death syndrome atau SIDS pada bayi.
WHO juga menyoroti bahwa paparan asap rokok di lingkungan sehari-hari masih tinggi, termasuk di rumah dan sekolah. Di beberapa wilayah, sekitar 38 persen anak usia 13–15 tahun masih terpapar asap rokok di rumah, sementara hanya sebagian kecil rumah tangga yang benar-benar bebas dari asap rokok.
Fakta itu menunjukkan bahwa merokok di ruangan berbeda tidak otomatis membuat keluarga aman. Asap tetap bisa menyebar ke seluruh rumah melalui celah pintu, ventilasi, pipa, hingga sistem listrik, dan di apartemen risikonya bahkan dapat berpindah antarruangan dan antarlantai.
Perlindungan paling efektif harus dimulai dari pembatasan total, bukan sekadar mengurangi intensitas paparan. CDC menegaskan tidak ada batas aman untuk paparan asap rokok pasif, terutama di dalam rumah.
Langkah yang disarankan cukup tegas. Jangan merokok di dalam rumah dan kendaraan pribadi, jangan mengandalkan ventilasi, kipas, AC, atau air purifier untuk menghilangkan paparan, dan terapkan aturan rumah bebas rokok agar semua anggota keluarga terlindungi.
Rokok elektrik juga tidak bisa dijadikan alternatif aman karena aerosolnya tetap mengandung zat berbahaya. Memberikan contoh hidup sehat kepada anak-anak dengan tidak merokok di lingkungan keluarga menjadi bagian penting dari perlindungan sehari-hari.
Berhenti merokok tetap menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko bagi orang terdekat. Dengan kebiasaan yang berubah dari sumbernya dan aturan rumah yang tegas, paparan asap maupun residu rokok yang bertahan lama bisa ditekan sebelum menimbulkan dampak kesehatan yang lebih jauh.
Source: lifestyle.bisnis.com






