Pariwisata Yordania Terjun Bebas, Petra Hingga Jerash Nyaris Kehilangan Pengunjung

Author: Redaksi Android62

Di Petra, pemandangan yang biasanya penuh rombongan wisata kini berubah lengang. Para pedagang suvenir lebih banyak menunggu pembeli, sementara keledai dan kuda yang biasa dipakai wisatawan terlihat tidak banyak bergerak.

Sepinya kota batu pasir itu bukan karena minat pada Petra hilang, melainkan karena situasi Timur Tengah yang membuat banyak pelancong menunda perjalanan. Bagi mereka yang tetap datang, suasana yang hampir kosong justru menjadi pengalaman langka yang sulit ditemui saat musim ramai.

Wisatawan datang dengan ragu

Sejumlah pengunjung mengaku sempat mempertimbangkan batal berangkat setelah serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan. Kekhawatiran itu mereda setelah mereka mencari informasi dan mendapat keyakinan bahwa Yordania tetap aman untuk dikunjungi.

Ruslana Novak dari Ukraina mengatakan ia dan temannya nyaris merasa Petra seperti milik mereka sendiri. Constanza Venian dari Meksiko juga merasa beruntung memilih waktu yang tepat untuk datang ke Yordania.

Novak menggambarkan Yordania sebagai negara yang sangat tenang dan aman. Venian mengatakan ia membaca informasi tentang Yordania dan bertanya di grup Facebook, lalu mendapat jawaban yang sama bahwa negara itu aman.

Pariwisata terpukul keras

Kondisi di pintu masuk Petra memperlihatkan dampak langsung dari krisis kawasan. Khalid al-Saidat, pemilik toko berusia 36 tahun, menilai situasi itu mencerminkan jatuhnya pariwisata di Yordania.

Ia menyebut perang di Gaza sudah memangkas kunjungan wisata sebesar 80 hingga 90 persen, lalu konflik Iran membuat jumlah wisatawan asing turun hampir nol. Menurutnya, para pedagang kini membuka lapak setiap hari tanpa tahu apakah pendapatan yang didapat cukup untuk bertahan hidup.

Beberapa hotel bahkan disebut mulai mempertimbangkan penutupan karena pembatalan terus berdatangan. Dalam kondisi seperti itu, sektor wisata yang biasanya menjadi penggerak utama ekonomi setempat justru berjalan tersendat.

Angka kunjungan ikut merosot

Pariwisata memang memegang peran besar dalam ekonomi Yordania. Data resmi menunjukkan sektor ini menyumbang 14 persen dari produk domestik bruto, menopang 60.000 pekerja langsung, dan 300.000 orang lain yang bergantung padanya.

Tahun lalu, lebih dari tujuh juta pengunjung menghasilkan pendapatan 7,8 miliar dolar AS. Awal tahun ini sempat terlihat menjanjikan, tetapi perang segera mengubah arus wisatawan ke Petra secara drastis.

Adnan al-Sawair, ketua dewan komisioner otoritas pariwisata Petra, mengatakan Yordania mencatat 112.000 wisatawan asing dalam dua bulan pertama. Setelah itu, jumlah pengunjung Petra turun menjadi antara 28.000 hingga 30.000 orang pada Maret dan April.

Dampak merembet ke destinasi lain

Upaya mendorong wisata domestik memang sudah dilakukan, tetapi dampaknya disebut masih kecil. Sawair menilai sektor ini tetap sangat bergantung pada rombongan wisatawan asing.

Asosiasi agen perjalanan nasional menyebut kalender pemesanan sebelum perang sempat hampir penuh. Namun saat konflik memburuk, pemesanan itu hilang begitu cepat dan menyeret sekitar 1.400 pemandu berlisensi ke dalam krisis.

Dampak serupa juga terasa di Jerash, sekitar 50 kilometer di utara Amman. Pemandu lokal Amer Nizami mengatakan ia semula berharap musim terbaik sejak pandemi pada 2020, tetapi kini hampir tidak ada wisatawan yang datang.

Nizami menyebut dulu sekitar 5.000 wisatawan asing bisa datang setiap hari ke Jerash. Sekarang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan ia mengatakan terakhir kali mendapat tur berbayar di sana terjadi sekitar 20 hari lalu.

Ia menambahkan bahwa setiap krisis regional hampir selalu menghentikan pariwisata di Yordania, meski negara itu sendiri tidak sedang menghadapi masalah langsung. Di tengah kondisi tersebut, pedagang suvenir Ibrahim al-Atmeh juga memilih menutup lapaknya lebih awal karena sepi pembeli.

Yordania tidak memiliki pangkalan militer asing, tetapi memiliki kontingen terbatas dari beberapa negara di bawah perjanjian pertahanan dan kerja sama kolektif. Sejak perang dimulai, puing drone dan rudal juga sempat jatuh di wilayah kerajaan itu, sementara militer Yordania mengatakan 281 rudal dan drone Iran ditembakkan ke negara tersebut hingga awal gencatan senjata pada April, dengan sebagian besar berhasil dicegat.

Berita Terbaru