Paparan dari printer 3D tidak selalu berhenti pada hasil cetaknya saja. Saat material dipanaskan dan diproses, mesin ini dapat melepaskan gas serta partikel sangat halus yang berpotensi mengganggu paru-paru dan kesehatan tubuh.
Risiko itu membuat penggunaan 3D printer perlu dipikirkan lebih serius, terutama ketika alat dipakai di ruangan tertutup. Ventilasi yang memadai dan perlengkapan keselamatan menjadi langkah dasar agar kontaminan di udara tidak mudah terhirup.
Gas yang tidak terlihat
Salah satu perhatian utama datang dari senyawa organik volatil atau VOC. Zat ini dapat dilepaskan dari padatan maupun cairan tertentu dalam kondisi tertentu, dan dalam kadar tinggi dapat berbahaya bagi tubuh.
VOC memang lebih sering dikaitkan dengan cat, bahan kimia kuat, lem, atau perekat. Namun 3D printer dan filamen yang dipakai juga dapat melepaskan senyawa serupa, sehingga sirkulasi udara di ruang cetak tidak boleh diabaikan.
Partikel sangat halus yang masuk ke paru-paru
Selain gas, proses pencetakan juga dapat menghasilkan partikel ultrahalus. Partikel ini berukuran sangat kecil dan dapat masuk ke tubuh, terutama bila terhirup hingga ke paru-paru.
Paparan seperti ini dapat memicu peradangan, asma, sakit kepala, batuk, dan keluhan lain. Tingkat risikonya juga tidak selalu sama, karena jenis filamen yang digunakan ikut memengaruhi jumlah paparan yang muncul.
PLA dan ABS tetap perlu diwaspadai
PLA kerap dianggap lebih aman karena berasal dari bahan alami, terbarukan, dan sering disebut biodegradable. Meski begitu, material ini tetap dapat melepaskan partikel ultrahalus yang berpotensi berbahaya selama proses pencetakan.
ABS juga disebut dapat menghasilkan partikel serupa saat digunakan. Artinya, jenis material memang memengaruhi risiko, tetapi tidak ada filamen yang otomatis bebas dari paparan.
Resin dan cahaya terfokus ikut menjadi perhatian
Bahaya lain datang dari bahan resin yang dipakai pada sebagian printer. Pada beberapa sistem, cahaya terfokus seperti UV atau laser juga digunakan untuk memanipulasi material, sehingga reaksi bahan terhadap paparan itu ikut dipantau dari sisi keselamatan.
Karena itu, para peneliti masih terus mengkaji dampak kesehatan dari printer 3D dan material yang menyertainya. Meski penelitian masih berjalan, paparan debu mikroskopis dan emisi VOC sudah cukup dikenal sebagai risiko yang perlu diwaspadai.
Cara mengurangi paparan di sekitar printer
Langkah paling dasar adalah memastikan ruang cetak memiliki ventilasi yang baik sebelum printer dinyalakan. Perangkat sebaiknya ditempatkan di ruangan yang memiliki ruang cukup dan sistem pembuangan udara yang memadai.
Filter HEPA juga dinilai membantu mengurangi VOC, debu, dan partikel lain di udara. Dalam kondisi tertentu, printer tertutup bisa lebih tepat digunakan dibanding model terbuka, tergantung lingkungan pemakaiannya.
Risiko serupa juga tidak hanya muncul pada printer murah. Perangkat yang lebih mahal pun dapat menimbulkan hazard yang sama, sehingga harga tidak selalu menjadi penentu utama soal keamanan.
Perlindungan diri tetap diperlukan
Saat mengoperasikan printer, perlengkapan pelindung pribadi tetap penting dipertimbangkan. Sarung tangan, kacamata pelindung, pakaian lengan panjang, dan respirator dianjurkan, terutama bila ruangan sempit atau terbatas.
Langkah ini menjadi semakin penting di ruang kelas atau lingkungan pendidikan. Anak-anak lebih rentan terhadap paparan, sehingga jarak mereka dari printer yang sedang beroperasi sebaiknya dijaga.
3D printer tetap berguna jika digunakan dengan cara yang benar. Namun sebelum mesin dipakai di rumah, kantor, atau bengkel, pengguna perlu memastikan ventilasi berjalan, perlindungan dikenakan, dan bahan disimpan dengan tepat karena sifatnya bisa beracun.
