Pasar asam sulfat global sedang menghadapi tekanan baru dari dua arah sekaligus, yakni ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan langkah pembatasan ekspor dari China. Kondisi ini membuat harga komoditas penting bagi industri pupuk dan pengolahan logam mulai tertekan naik, sementara pasokan di pasar internasional kian ketat.
Asam sulfat bukan bahan biasa di rantai industri. Komoditas ini memegang peran besar dalam produksi pupuk dan pelarutan tembaga serta logam lainnya, sehingga setiap gangguan suplai langsung terasa di sektor hilir.
Tekanan pasokan itu semakin kuat karena sebagian besar pasokan dunia berasal dari kilang minyak di kawasan Teluk Persia. Artinya, ketika ketegangan di wilayah tersebut meningkat, arus distribusi internasional ikut rentan terganggu.
Di saat yang sama, China mengambil langkah yang menambah kekhawatiran pasar. Negara itu membatasi ekspor asam sulfat pada Mei 2026, menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip Sputnik.
Freda Gordon, kepala Acuity Commodities, menilai kebijakan tersebut ikut mempercepat kenaikan harga. Ia juga melihat langkah itu memperburuk kelangkaan pasokan yang sudah lebih dulu dirasakan pasar global.
Tekanan datang ketika suplai sudah rapuh
Situasi di pasar tidak berdiri sendiri. Pembatasan dari China muncul ketika pasar memang sedang menghadapi tekanan dari sisi suplai, sehingga ruang penyesuaian menjadi lebih sempit.
Kondisi ini membuat pelaku industri harus bersiap menghadapi biaya bahan baku yang lebih tinggi. Dengan pasokan yang makin ketat, tekanan harga berpotensi terus berlanjut di banyak negara.
Analis pasar pupuk Argus, Sarah Marlow, menyebut Chile dan Indonesia sebagai dua negara yang berpotensi paling terdampak. Keduanya memiliki kebutuhan industri yang dapat ikut tertekan ketika akses terhadap asam sulfat semakin terbatas.
Timur Tengah masih jadi sumber ketidakpastian
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa China tengah mempertimbangkan larangan ekspor asam sulfat mulai Mei 2026. Rencana itu muncul saat pasokan global sudah terganggu akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada perkembangan diplomasi dan keamanan di kawasan Teluk Persia. Ketergantungan pasokan utama pada kilang minyak di wilayah itu membuat gangguan kecil sekalipun dapat mengubah arus distribusi global secara cepat.
Gencatan senjata yang telah diumumkan belum menghapus rasa waswas di pasar. Konflik AS-Israel dengan Iran masih menyisakan ketidakpastian, sementara jalur negosiasi damai belum menghasilkan kesepakatan yang jelas.
Selama stabilisasi belum terlihat, pasar asam sulfat diperkirakan tetap berada dalam sorotan. Industri pupuk dan sektor metalurgi menjadi pihak yang paling rentan karena keduanya sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku ini.
Source: www.beritasatu.com






