Pabrik Bioetanol Bisa Dibangun 1,5 Tahun, Pasokan Bahan Baku E20 yang Lebih Sulit

Author: Redaksi Android62

Target campuran etanol 20 persen dalam bensin atau E20 pada 2028 menghadapi tantangan yang tidak terutama terletak pada pembangunan pabrik. Pemerintah menilai ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan justru menjadi penentu utama keberhasilan program tersebut.

Fasilitas produksi bioetanol dapat dibangun dalam waktu sekitar 1,5 tahun. Namun, rantai pasok dari kebun hingga fasilitas pengolahan harus mampu bertahan ketika kebutuhan etanol untuk campuran bahan bakar meningkat.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menekankan perbedaan antara kesiapan fasilitas dan jaminan pasokan. “Membangun pabrik itu 1,5 tahun bisa, tetapi bahan bakunya,” kata Eniya.

Pernyataan itu menempatkan pengembangan komoditas pertanian sebagai pekerjaan mendesak menjelang penerapan E20. Pemerintah menyiapkan tebu, singkong mukibat, dan jagung sebagai sumber awal bahan baku bioetanol.

Pasokan dari Tiga Komoditas

Masing-masing komoditas diarahkan untuk memanfaatkan hasil samping atau bagian yang tidak berfokus pada kebutuhan konsumsi langsung. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memperluas pasokan tanpa mengabaikan fungsi pangan dari komoditas terkait.

Bahan Baku Sumber untuk Bioetanol Pertimbangan Pemanfaatan
Tebu Molases atau tetes tebu Kenaikan produksi gula dapat menambah hasil samping.
Singkong mukibat Varietas singkong berukuran besar Kurang diminati untuk konsumsi langsung dan memiliki pati tinggi.
Jagung Bonggol jagung Memanfaatkan bagian jagung sebagai tambahan pasokan.

Tebu akan menopang produksi melalui molases yang dihasilkan dari proses pengolahan gula. Eniya menyatakan peningkatan produksi gula akan membuka peluang tambahan bahan baku untuk industri bioetanol.

“Semakin banyak kita produksi gula maka semakin banyak kita dapatkan bioetanol,” ujar Eniya dalam pernyataan di Jakarta. Dengan demikian, pengembangan bioetanol tebu berkaitan langsung dengan peningkatan produksi gula.

Untuk singkong, pemerintah memilih varietas mukibat yang dikenal berukuran besar dan memiliki rasa lebih pahit. Singkong tersebut juga memiliki kandungan pati yang cukup tinggi serta dinilai tidak banyak diminati untuk konsumsi langsung.

Pemanfaatan singkong mukibat diharapkan tidak berbenturan dengan kebutuhan pangan. Strategi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mencari bahan baku yang dapat diproduksi secara konsisten bagi kebutuhan energi.

Sementara itu, bahan baku dari jagung direncanakan berasal dari bonggol, bukan biji jagung untuk konsumsi. Peningkatan produksi jagung dipandang dapat turut menambah ketersediaan bahan bagi industri bioetanol.

Aturan dan Harga Masih Disiapkan

Kesiapan bahan baku bukan satu-satunya agenda yang sedang dikerjakan pemerintah. Kementerian ESDM juga tengah mendorong revisi Peraturan Presiden Nomor 40 mengenai swasembada gula dan penyediaan bioetanol.

Revisi tersebut direncanakan mengakomodasi penambahan kapasitas fasilitas pencampuran bioetanol. Kementerian ESDM akan berkomunikasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terkait prakarsa perubahan aturan itu.

Penambahan fasilitas pencampuran diperlukan karena perencanaan yang tersedia masih dinilai terbatas. Infrastruktur ini dibutuhkan agar pasokan etanol yang telah diproduksi dapat dicampurkan ke bensin sesuai kebutuhan program E20.

Pemerintah juga masih menyusun formula harga bioetanol berbahan jagung dan singkong. Saat ini, formula harga yang sudah tersedia hanya berlaku bagi bioetanol dari molases tebu.

Eniya menyebut penyusunan formula untuk bahan baku jagung dan singkong ditargetkan diselesaikan dalam enam bulan. Kepastian pengaturan harga diperlukan agar pengembangan tiga komoditas tersebut memiliki dasar yang sejalan dengan target E20 pada 2028.

Source: money.kompas.com
Berita Terbaru