Kota Pekalongan kembali mencatat hasil yang menonjol di ajang Evaluasi Kampung Keluarga Berkualitas tingkat Provinsi Jawa Tengah. Melalui Kampung KB Urip Rejo di Kelurahan Kuripan Yosorejo, daerah ini berhasil menempati peringkat dua setelah bersaing dengan 35 kabupaten dan kota se-Jawa Tengah.
Capaian tersebut menjadi penanda bahwa penguatan program berbasis keluarga di Pekalongan mulai menunjukkan hasil. Namun, di balik prestasi itu, masih ada pekerjaan rumah yang belum tuntas, terutama pada penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang atau MKJP.
Gerakan yang tak lagi berdiri sendiri
Sekretaris Dinsos-P2KB Kota Pekalongan, Nur Agustina, menjelaskan bahwa program Kampung Keluarga Berkualitas sebenarnya sudah dirintis sejak lama. Dalam perkembangannya, program itu tidak lagi berjalan sendiri, tetapi disatukan dengan berbagai agenda pembangunan lain di tingkat kelurahan.
Sejak 2024, seluruh kelurahan di Kota Pekalongan didorong menerapkan program tersebut secara menyeluruh. Pendekatan ini juga digabungkan dengan program lain seperti Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak, Kelurahan Pelangi, Desa Cantik, serta program strategis dari OPD.
Menurut Nur Agustina, pola integrasi itu membuat percepatan pembangunan berjalan lebih sinergis. Seluruh amanat kementerian yang dijalankan OPD di Kota Pekalongan juga diupayakan bergerak bersama di tingkat kelurahan.
Pekan evaluasi yang menghasilkan tiga kelurahan terbaik
Dinsos-P2KB pada 2024 melakukan evaluasi berkala terhadap 27 Kampung Keluarga Berkualitas di seluruh kelurahan. Dari proses itu, muncul tiga kelurahan terbaik, yakni Jenggot sebagai juara pertama, Kuripan Yosorejo sebagai juara kedua, dan Podosugih di posisi ketiga.
Tiga kelurahan tersebut kemudian dijadwalkan mewakili Kota Pekalongan dalam evaluasi tingkat Provinsi Jawa Tengah secara bergiliran selama tiga tahun. Pada 2025, Jenggot menjadi wakil lebih dulu dan berhasil meraih juara satu di tingkat provinsi.
Kuripan Yosorejo mendapat giliran pada 2026. Dalam penilaian yang dilakukan secara online itu, kampung tersebut tampil bersama kader Pokja Kampung KB dan OPD terkait hingga akhirnya meraih peringkat dua di Jawa Tengah.
Bersaing dengan kota besar
Hasil penilaian menempatkan Kota Semarang di posisi pertama, Kota Pekalongan di posisi kedua, dan Kota Surakarta di posisi ketiga. Persaingan disebut berlangsung ketat karena Pekalongan harus berhadapan dengan kota-kota besar yang memiliki fasilitas lebih memadai.
Agustina menilai capaian itu sebagai prestasi luar biasa bagi Kota Pekalongan. Ia juga menyebut pendampingan serta paparan tim saat evaluasi sudah berjalan dengan sangat baik.
Meski begitu, nilai positif tersebut belum menutup seluruh kekurangan yang masih ada di lapangan. Salah satu titik yang masih perlu diperkuat adalah capaian MKJP di Kuripan Yosorejo.
MKJP masih menjadi fokus pembenahan
Sebagian besar peserta KB di wilayah itu masih menggunakan metode non-MKJP seperti suntik dan pil. Sementara itu, IUD, implan, MOW, dan MOP menjadi indikator penting dalam penilaian Kampung Keluarga Berkualitas.
Agustina menyebut target MKJP di Kuripan Yosorejo baru sekitar 20 persen dan belum maksimal. Kondisi itu juga dipengaruhi budaya patriarki yang masih cukup kuat di wilayah selatan Kota Pekalongan.
Tantangan lain datang dari masih banyaknya warga yang belum memahami manfaat dan keamanan MKJP. Sebagian warga bahkan menganggap metode kontrasepsi jangka panjang berisiko atau berbahaya sehingga kurang diminati.
Karena itu, Dinsos-P2KB mendorong para Penyuluh Keluarga Berencana untuk terus melakukan edukasi dan advokasi kepada masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman warga tentang pentingnya penggunaan MKJP.
Program yang kini jadi gerakan bersama
Saat ini seluruh 27 kelurahan di Kota Pekalongan telah membentuk Kampung Keluarga Berkualitas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa program yang semula hanya menjadi percontohan kini berkembang menjadi gerakan bersama di seluruh wilayah kota.
Evaluasi juga dilakukan setiap tahun secara berkala untuk melihat perkembangan masing-masing Kampung KB. Mekanisme ini dipakai agar program tidak berhenti sebagai formalitas, tetapi benar-benar memberi dampak pada kualitas keluarga dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk tahun 2027, Kelurahan Podosugih dijadwalkan menjadi wakil Kota Pekalongan dalam evaluasi tingkat Provinsi Jawa Tengah. Penetapan itu mengikuti ketentuan bahwa kelurahan yang sudah meraih juara tidak dapat ikut kompetisi kembali.
Melalui capaian Urip Rejo di Kuripan Yosorejo, Pemerintah Kota Pekalongan berharap Kampung Keluarga Berkualitas terus menjadi wadah integrasi program pembangunan di tingkat kelurahan. Program ini kini diposisikan bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat pembangunan keluarga secara nyata.
Source: halosemarang.id






