Penguatan pelabuhan menjadi titik tekan utama Jawa Tengah dalam mengejar posisi sebagai basis industri padat karya. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menilai kesiapan infrastruktur logistik akan menentukan seberapa cepat investasi baru bisa masuk dan bertahan di daerah itu.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan hal tersebut saat menerima kunjungan kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI di Semarang. Ia menegaskan bahwa Jawa Tengah kini menjadi salah satu tujuan investasi dari dalam dan luar negeri, sehingga dukungan infrastruktur harus dipacu lebih cepat.
Arus kontainer besar, tetapi layanan pelabuhan masih terbatas
Luthfi menjelaskan bahwa kebutuhan logistik kontainer nasional mencapai sekitar 10 juta kontainer per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 7 juta kontainer berasal dari aktivitas industri di Jawa Tengah.
Namun, arus kontainer Jawa Tengah yang selama ini dilayani melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang baru sekitar 30 persen. Sisanya masih bergantung pada pelabuhan di Jawa Timur dan Jakarta, yang berarti biaya distribusi dan efisiensi logistik belum sepenuhnya ideal bagi industri di daerah.
Tanjung Emas dan opsi pelabuhan baru
Karena itu, Pemprov Jateng mendorong percepatan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas. Langkah ini diharapkan bisa menampung kenaikan aktivitas ekspor dan impor seiring tumbuhnya investasi industri.
Luthfi juga membuka opsi pengembangan pelabuhan baru di Kendal, Batang, Rembang, dan Cilacap. Jika pembangunan tersebut belum memungkinkan, pemerintah daerah menyiapkan dry port di Kendal dan Batang sebagai alternatif untuk memperlancar arus barang.
Ia menilai penguatan pelabuhan dan sistem distribusi akan berdampak langsung pada efisiensi logistik. Pada saat yang sama, daya tarik Jawa Tengah di mata investor juga akan meningkat karena lokasi produksi didukung infrastruktur yang lebih memadai.
| Aspek | Data | Keterangan |
|---|---|---|
| Kebutuhan kontainer nasional | 10 juta kontainer per tahun | Dipaparkan Ahmad Luthfi |
| Kontribusi industri Jawa Tengah | 7 juta kontainer per tahun | Berasal dari aktivitas industri di daerah |
| Layanan Tanjung Emas | Sekitar 30 persen | Masih belum menampung seluruh arus kontainer Jawa Tengah |
Investasi dan serapan tenaga kerja ikut tumbuh
Data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan realisasi investasi pada triwulan I 2026 telah mencapai Rp23 triliun. Investasi itu menyerap sekitar 92 ribu tenaga kerja, yang menegaskan bahwa sektor industri masih menjadi penggerak penting ekonomi daerah.
Sepanjang 2025, investasi yang masuk ke Jawa Tengah mencapai Rp110 triliun dan mampu menyerap sekitar 274 ribu tenaga kerja. Capaian tersebut menunjukkan dampak langsung penanaman modal terhadap pasar kerja lokal.
Luthfi menambahkan bahwa Jawa Tengah harus mampu menjual potensinya di tengah keterbatasan fiskal dan situasi geopolitik global. Menurut dia, daya saing daerah tidak hanya ditentukan oleh insentif, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur dan kemudahan distribusi.
Peluang ekspor ke Eropa semakin terbuka
Dari sisi perdagangan, Wakil Ketua BKSAP DPR RI Muhammad Husein Fadlulloh menilai Jawa Tengah memiliki peluang besar memperluas pasar ekspor. Ia menyoroti perjanjian perdagangan Indonesia-Uni Eropa yang mulai berlaku efektif pada 2027.
Menurut Husein, penghapusan tarif atas berbagai produk Indonesia akan membuka akses yang lebih luas ke pasar Uni Eropa. Kondisi itu dapat dimanfaatkan daerah untuk meningkatkan nilai ekspor dan memperkuat posisi produk unggulan di pasar global.
Ia juga menekankan bahwa BKSAP DPR RI memiliki jaringan kerja sama bilateral dengan 102 negara. Jaringan itu, kata dia, dapat dipakai untuk memperkenalkan potensi investasi, perdagangan, dan produk unggulan daerah ke pasar internasional.
Relokasi industri dan promosi investasi
Luthfi menyebut ada investor yang tengah menarik sebagian industri padat karya dari Vietnam ke Jawa Tengah. Menurut dia, kondisi di Vietnam mulai penuh, sementara Jawa Tengah punya peluang untuk mengambil posisi sebagai lokasi baru industri yang padat tenaga kerja.
Untuk memperbesar peluang itu, Pemprov Jateng juga mendorong dukungan jejaring diplomasi yang dimiliki BKSAP DPR RI. Kerja sama tersebut dinilai penting untuk memperluas akses pasar internasional sekaligus memperkuat promosi investasi daerah.
Di tengah pergerakan investasi yang terus mengalir, penguatan pelabuhan dan dukungan diplomasi menjadi dua langkah yang disiapkan Jawa Tengah agar tetap kompetitif sebagai tujuan industri padat karya.
