Pelaku Akui Motif Balas Dendam dalam Penikaman Nus Kei, Dendam Lama Didalami Polisi

Pengakuan dua pelaku menjadi titik terpenting dalam pengusutan penikaman yang menewaskan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei. Dari pemeriksaan, polisi menyebut serangan itu didorong dendam lama dan dikaitkan dengan kematian seseorang yang diduga saudara kedua pelaku.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, menjelaskan bahwa para pelaku mengaku memiliki alasan pribadi saat menyerang korban. Ia menyebut korban dianggap sebagai otak di balik pembunuhan Fenansius Wadanubun alias Dani Holat, sosok yang diyakini sebagai saudara mereka.

Dugaan dendam lama yang masih ditelusuri

Keterangan pelaku membuka arah baru bagi penyidikan. Polisi kini mencocokkan pengakuan itu dengan rangkaian peristiwa yang diduga melatarbelakangi penyerangan, termasuk kejadian lama yang disebut terjadi di Jakarta.

Dalam pemeriksaan, pelaku juga menyebut lokasi yang dikaitkan dengan dendam itu berada di samping Apartemen Metro Galaxi Kalimalang, Bekasi. Informasi tersebut membuat aparat menduga kasus ini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan persoalan yang belum selesai sejak lama.

Rositah menegaskan bahwa motif yang diakui pelaku adalah balas dendam. “Motif pelaku adalah balas dendam. Kedua pelaku dendam karena korban Nus Kei adalah otak dibalik pembunuhan saudara kedua pelaku,” ujarnya.

Penikaman terjadi saat korban tiba di bandara

Serangan terhadap Nus Kei terjadi ketika ia baru tiba di Bandara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara, usai bepergian dari Jakarta. Peristiwa itu berlangsung sekitar pukul 11.25 WIT dan langsung memicu kepanikan di area bandara.

Menurut keterangan polisi, korban diserang orang tak dikenal menggunakan sebilah pisau. Usai melakukan penikaman, terduga pelaku disebut langsung melarikan diri dari lokasi kejadian.

Peristiwa berlangsung cepat di tengah aktivitas bandara yang biasanya ramai. Kondisi itu membuat petugas dan orang-orang di sekitar lokasi segera bereaksi setelah insiden terjadi.

Figur politik daerah yang menjadi sorotan

Kasus ini kemudian menarik perhatian luas karena Nus Kei bukan hanya korban penikaman, tetapi juga tokoh politik daerah. Ia menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, sehingga peristiwa ini menyangkut figur yang dikenal di ruang publik setempat.

Lokasi kejadian di area bandara turut menambah sorotan. Tempat yang umumnya diawasi ketat itu justru menjadi titik serangan yang berujung fatal, sehingga memunculkan perhatian pada sisi keamanan di ruang publik.

Di internal Partai Golkar, kabar penikaman itu ikut memunculkan reaksi. Sejumlah pihak mengimbau kader agar tetap waspada dan tidak terpancing situasi setelah peristiwa tersebut mencuat ke publik.

Hingga kini, penyidik masih mendalami hubungan antara pengakuan para pelaku, dugaan peristiwa lama di Bekasi, dan penikaman yang menewaskan Nus Kei di Maluku Tenggara. Aparat perlu memastikan apakah seluruh keterangan itu sesuai dengan bukti dan rangkaian fakta yang ditemukan di lapangan.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait