5 Pemicu Mengidam Makanan Manis, Kurang Tidur Bisa Membuat Gula Makin Menggoda

Author: Redaksi Android62

Keinginan menyantap cokelat, kue, es krim, atau minuman manis setelah makan besar tidak selalu berkaitan dengan lemahnya pengendalian diri. Kurang tidur dapat mengganggu pengaturan rasa lapar dan kenyang, sehingga makanan tinggi gula serta kalori terasa lebih menarik ketika tubuh lelah.

Dorongan untuk mencari rasa manis juga dapat muncul akibat jadwal makan yang tidak teratur, stres, kebiasaan mengonsumsi gula, dan menu yang belum seimbang. Memahami pemicunya membantu seseorang memilih respons yang lebih tepat daripada langsung mengambil camilan tinggi gula.

Pemicu Perubahan dalam Tubuh Dampak pada Keinginan Makan
Kurang tidur Hormon lapar dan kenyang dapat terganggu Ketertarikan pada gula dan kalori meningkat
Melewatkan makan Kadar gula darah dapat menurun Tubuh mencari energi yang cepat diserap
Stres Kadar kortisol dapat meningkat Keinginan makanan manis dan berlemak muncul
Sering makan gula Sistem penghargaan otak terpengaruh Keinginan rasa manis dapat menguat
Menu tidak seimbang Rasa kenyang tidak bertahan lama Lapar lebih cepat dan mudah tergoda camilan

1. Tubuh Kurang Tidur

Penelitian dalam Sleep pada 2018 menyebut tidur yang tidak cukup berkaitan dengan peningkatan ghrelin, hormon yang memicu nafsu makan. Pada saat yang sama, leptin yang memberi sinyal kenyang dapat menurun.

Kondisi tersebut membuat mengidam makanan manis lebih mudah terjadi karena gula dipandang tubuh sebagai sumber energi instan. Makanan tinggi kalori pun dapat terasa lebih sulit ditolak saat kebutuhan istirahat belum terpenuhi.

2. Melewatkan Waktu Makan

Perut yang dibiarkan kosong terlalu lama dapat diikuti penurunan kadar gula darah. Tubuh kemudian cenderung mencari pilihan yang praktis dan mudah diserap, termasuk karbohidrat sederhana serta makanan manis.

Studi dalam Appetite pada 2020 mengaitkan rasa lapar berlebihan dengan meningkatnya keinginan terhadap makanan tinggi gula. Karena itu, keinginan membeli camilan atau minuman manis setelah terlambat makan tidak selalu semata-mata dipicu selera.

3. Stres dan Emosi yang Tidak Terkelola

Tekanan emosional dapat memengaruhi nafsu makan melalui kenaikan hormon kortisol. Penelitian dalam Psychoneuroendocrinology pada 2019 menghubungkan kadar kortisol yang lebih tinggi dengan keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.

Kebiasaan makan sebagai respons terhadap tekanan atau emosi tertentu dikenal sebagai emotional eating. Camilan manis dapat memberi rasa nyaman sementara ketika seseorang sedih atau tertekan, tetapi tidak selalu menjawab kebutuhan emosional yang mendasarinya.

4. Sering Mengonsumsi Makanan Manis

Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula secara rutin dapat membuat keinginan terhadap rasa manis muncul berulang. Studi dalam The American Journal of Clinical Nutrition pada 2018 menunjukkan bahwa asupan gula rutin dapat memengaruhi sistem penghargaan di otak.

Akibatnya, tingkat rasa manis yang sebelumnya sudah cukup dapat terasa kurang memuaskan seiring waktu. Pengurangan gula secara bertahap dapat memberi kesempatan bagi lidah untuk kembali mengenali rasa manis alami dari buah dan bahan makanan lain.

5. Menu Harian Kurang Seimbang

Asupan yang rendah protein, serat, dan lemak sehat dapat membuat rasa kenyang cepat menghilang. Saat lapar kembali datang dalam waktu singkat, makanan manis sering menjadi pilihan yang paling mudah dijangkau.

Penelitian dalam Nutrients pada 2021 menyebut protein dan serat dapat membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil. Penerapan pola makan seimbang, tidur cukup, jadwal makan teratur, dan pengelolaan stres dapat membantu mengendalikan keinginan makan tanpa harus menghindari makanan favorit sepenuhnya.

Berita Terbaru