Pemilih Muda Eropa Memalingkan Dukungan, Kanan Ekstrem Mulai Menimbang Jarak Dari Israel

Author: Redaksi Android62

Sejumlah partai sayap kanan ekstrem di Eropa mulai mengubah sikap terhadap Israel ketika kritik publik atas perang di Gaza semakin meluas. Posisi yang dulu dianggap menguntungkan secara politik kini dinilai semakin berisiko karena opini pemilih, terutama kalangan muda, bergerak ke arah yang lebih kritis.

Perubahan itu terlihat bukan hanya di satu negara, tetapi dalam perdebatan yang lebih luas di Eropa dan Barat. Dukungan terbuka kepada Tel Aviv yang sebelumnya bisa dipakai sebagai modal politik kini disebut tidak lagi mudah dijual kepada pemilih.

Dukungan yang mulai kehilangan daya tarik

Shaiel Ben-Ephraim, pakar politik internasional, menilai perang Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran ikut menggeser cara publik memandang hubungan antara partai kanan ekstrem dan Israel. Menurut dia, konflik yang terus membesar membuat posisi pro-Israel yang selama ini dipakai sebagian kelompok kanan ekstrem kehilangan daya tarik politiknya.

Ben-Ephraim menyebut kedekatan dengan Israel sekarang tidak lagi otomatis memberi keuntungan elektoral. Dalam sejumlah kasus, sikap itu justru bisa berubah menjadi beban ketika sentimen publik bergerak ke arah sebaliknya.

Ia menyinggung Bulgaria sebagai contoh, ketika partai kanan ekstrem di negara itu dilaporkan kehilangan dukungan suara karena sikapnya terhadap aksi Israel di Gaza. Kasus tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang terlalu dekat dengan Israel bisa dipandang negatif oleh pemilih.

Pemilih muda ikut mendorong pergeseran

Salah satu faktor penting di balik perubahan ini adalah sikap pemilih muda di Eropa dan Barat. Ben-Ephraim menilai generasi muda makin sulit menerima dukungan tanpa syarat terhadap Israel, terutama di tengah perang di Gaza yang terus memicu kemarahan publik.

Pergeseran itu semakin kuat di ruang digital. Di media sosial, perdebatan soal antisemitisme kerap bercampur dengan kecaman terhadap kebijakan Israel, sehingga sebagian pemilih muda menjauh dari partai-partai yang dianggap terlalu dekat dengan Tel Aviv.

Ben-Ephraim juga melihat pola serupa di Amerika Serikat. Kelompok di bawah usia 50 tahun disebut semakin kritis terhadap Israel, sehingga perubahan opini ini tidak hanya terbatas di Eropa.

Hubungan yang sejak awal tidak kokoh

Di balik perubahan sikap tersebut, relasi Israel dengan partai-partai kanan ekstrem di Eropa memang disebut sejak awal tidak berdiri di atas fondasi yang kuat. Kedekatan itu lebih banyak bertumpu pada sentimen anti-Islam dan penolakan terhadap imigran Muslim, bukan pada kesamaan politik yang benar-benar solid.

Pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dituduh telah berusaha keras membangun hubungan dengan kelompok-kelompok itu. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan jangkauan politik luas seperti yang diharapkan, sehingga manfaat strategisnya tetap terbatas.

Ben-Ephraim juga menyoroti bahwa tabu lama untuk bekerja sama dengan partai yang punya latar belakang kontroversial, termasuk yang dikaitkan dengan masa lalu Nazi, kini mulai diabaikan. Sejumlah pihak memilih menempuh kerja sama politik demi kepentingan tertentu, meski risikonya besar bagi reputasi.

Partai kanan ekstrem kini berhitung ulang

Dengan opini publik yang berubah, partai-partai kanan ekstrem di Eropa dipaksa membaca ulang apakah dukungan terbuka kepada Israel masih menguntungkan. Bagi mereka, menjaga jarak bisa menjadi pilihan yang lebih aman jika kedekatan dengan Israel dinilai tidak sejalan dengan sentimen masyarakat.

Namun, Ben-Ephraim menilai hubungan itu tidak akan langsung putus. Masih ada kepentingan politik, finansial, dan jaringan yang membuat kedekatan tersebut tetap bertahan meski kritik terhadap Israel terus menguat.

Di sisi lain, tokoh sayap kanan seperti Geert Wilders di Belanda disebut tidak akan langsung mengubah sikap dalam waktu singkat. Meski begitu, arah umum di kalangan kanan ekstrem Eropa tetap bergerak ke posisi yang lebih kritis terhadap Israel, seiring perang dan tekanan publik terus membentuk ulang peta dukungan politik.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru