Penerimaan Bea Cukai 2026 Diperkirakan Tak Capai Target, Selisihnya Sudah Terlihat

Author: Redaksi Android62

Penerimaan kepabeanan dan cukai pada 2026 diperkirakan belum mampu menembus target dalam APBN. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut proyeksinya baru mencapai Rp320,6 triliun, atau setara 95,4 persen dari target Rp336 triliun.

Dengan hitungan itu, ada selisih yang memang sudah masuk dalam perhitungan pemerintah sejak awal. Meski begitu, Purbaya tetap menilai kinerja Bea Cukai masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya.

Realisasi semester I masih bergerak positif

Hingga semester I 2026, penerimaan Bea Cukai tercatat Rp152,0 triliun atau 45,2 persen dari target APBN 2026. Capaian tersebut tumbuh 3,4 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Komponen Realisasi Semester I 2026 Perubahan Tahunan
Total Bea Cukai Rp152,0 triliun 3,4 persen
Cukai Rp109,4 triliun 0,6 persen
Bea Masuk Rp26,3 triliun 11,3 persen
Bea Keluar Rp16,17 triliun 11,7 persen

Data itu menunjukkan bahwa tidak semua pos bergerak dengan laju yang sama. Cukai masih menjadi penyumbang terbesar, sementara bea masuk dan bea keluar justru mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi.

Produksi domestik dan perdagangan global ikut menopang

Purbaya menjelaskan, penerimaan cukai ditopang oleh produksi tembakau yang terjaga serta meningkatnya produksi minuman mengandung etil alkohol. Dua faktor ini membantu menjaga arus penerimaan tetap positif pada paruh pertama tahun ini.

Di sisi lain, bea masuk menguat karena kenaikan impor bahan baku dan bahan penolong untuk industri. Kondisi tersebut memberi tambahan penerimaan dan ikut mengangkat kinerja hingga pertengahan tahun.

Untuk bea keluar, dorongan datang dari penguatan harga crude palm oil di pasar global. Harga komoditas itu membantu mendorong kenaikan bea keluar sebesar 11,7 persen secara tahunan.

Target masih sulit dikejar sampai akhir tahun

Dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Purbaya memaparkan outlook penerimaan kepabeanan dan cukai hingga akhir tahun. Ia menyebut proyeksi Rp320,6 triliun itu masih berada di bawah target APBN, meski laju pertumbuhannya diperkirakan mencapai 6,8 persen secara tahunan.

Gambaran tersebut menegaskan bahwa penerimaan Bea Cukai masih bergantung pada kombinasi produksi domestik, aktivitas impor industri, dan harga komoditas global. Selama faktor-faktor itu bergerak terbatas, ruang untuk mengejar target penuh tetap tampak sempit.

www.suara.com mengutip pernyataan tersebut dalam laporan yang memuat rincian outlook dan capaian semester I 2026.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru