Sengketa AI+ kini tidak lagi berhenti pada soal kualitas sebuah ponsel. Perkara ini sudah masuk ke ranah yang jauh lebih besar, yakni reputasi merek, klaim privasi, dan tudingan soal seberapa “India” sebenarnya perangkat yang dipasarkan.
Di tengah sorotan itu, AI+ tetap bertahan pada posisi awalnya sebagai merek smartphone India yang mengusung privasi sebagai nilai utama. Perusahaan menegaskan bahwa data pengguna disimpan di infrastruktur cloud berbasis India dan dikelola lewat layanan yang disetujui di dalam negeri.
Kritik teknis memicu gelombang pertanyaan
Polemik mulai membesar setelah sejumlah kanal teknologi India, termasuk TechWiser dan TechBar, mengunggah video yang mempertanyakan perangkat lunak serta branding AI+. Temuan mereka cepat menyebar di media sosial dan memancing perdebatan di kalangan konsumen maupun pengamat industri.
Salah satu sorotan terkuat datang dari TechWiser yang mengatakan telah menganalisis perangkat AI+ menggunakan Android Debug Bridge atau ADB. Dari pemeriksaan itu, kanal tersebut mengaku menemukan aplikasi yang tidak terlihat di antarmuka pengguna biasa.
Menurut TechWiser, sebagian aplikasi itu tampak terhubung dengan perusahaan yang berbasis di Shanghai. Temuan ini langsung memunculkan pertanyaan tentang kesesuaian antara pesan privasi yang digencarkan AI+ dan aktivitas perangkat lunak yang berjalan di ponsel.
Dashboard privasi ikut dipertanyakan
Isu lain muncul dari privacy dashboard milik AI+, fitur yang dirancang untuk membantu pengguna memantau izin aplikasi di perangkat. TechWiser menyatakan beberapa layanan Google tampak mengambil izin tanpa seluruhnya tercermin dalam laporan dashboard tersebut.
Jika temuan itu benar secara teknis, maka transparansi fitur yang dipromosikan sebagai alat pemantau privasi ikut dipertaruhkan. Bagi pengguna, persoalannya bukan hanya izin aplikasi, tetapi juga apakah perangkat benar-benar memberi gambaran penuh tentang aktivitas sistem.
Label “Made in India” juga ikut disorot
Perdebatan kemudian bergeser ke identitas AI+ sebagai merek smartphone India. Kanal Mrwhosetheboss menyoroti kemiripan desain dan spesifikasi sejumlah perangkat AI+ dengan smartphone yang sudah lebih dulu beredar dari pabrikan China.
Sorotan itu memunculkan keraguan tentang seberapa besar perangkat keras dan perangkat lunak AI+ dikembangkan secara mandiri di India. Kritik ini menjadi sensitif karena sejak awal AI+ menonjolkan pesan tentang produksi domestik dan teknologi lokal.
AI+ membantah tuduhan tersebut dan tetap menegaskan bahwa produk, sistem operasi, serta infrastruktur pendukungnya dirakit dan dikelola di India. Perusahaan juga mempertahankan klaim bahwa data pengguna tetap berada di India.
Masuk ke meja hijau
Perselisihan itu akhirnya bergerak ke jalur hukum setelah AI+ menilai tuduhan para reviewer dibangun di atas analisis teknis yang tidak lengkap atau tidak akurat. Dalam dokumen pengadilan, perusahaan juga menegaskan bahwa komitmen privasinya tidak berubah.
AI+ menyebut video-video yang beredar telah menimbulkan kerugian reputasi. Perusahaan juga mengatakan tuduhan itu tidak diverifikasi secara independen oleh ahli teknis yang diakui.
Delhi High Court kemudian mengabulkan perintah sementara pada April 2026. Perintah itu membatasi TechWiser dan TechBar untuk menerbitkan konten yang dianggap merendahkan AI+ dan pendirinya selama perkara masih diperiksa.
Perintah sementara tersebut juga memuat klausul John Doe. Klausul ini dapat menjangkau pihak-pihak yang belum teridentifikasi tetapi diduga ikut menyebarkan unggahan serupa atau konten terkait lainnya.
Debat melebar ke kebebasan ulasan
Pada tahap sementara itu, pengadilan mencatat bahwa tuduhan yang beredar belum didukung oleh tinjauan teknis yang layak dari lembaga independen. Pengadilan juga menilai pernyataan semacam itu berpotensi menimbulkan kerusakan komersial jika belakangan terbukti tidak akurat.
Putusan itu segera memicu diskusi luas di komunitas teknologi dan hukum. Sebagian pihak memandang langkah tersebut sebagai cara melindungi reputasi perusahaan, sementara pihak lain khawatir dampaknya terhadap kebebasan ulasan independen dan kritik di internet.
Memasuki Mei 2026, TechWiser menantang injunction tersebut. Dalam sidang-sidang berikutnya, pengadilan mulai menyoroti bagaimana perintah ex parte awal diperoleh dan meminta pendiri AI+, Madhav Sheth, hadir di pengadilan.
Nama Sheth ikut membuat perhatian publik semakin besar karena ia dikenal luas di industri smartphone India. Sebelum memimpin AI+, ia pernah memimpin realme India.
Hingga kini, belum ada keputusan akhir atas tuduhan pokok dalam perkara tersebut. Artinya, klaim soal temuan perangkat lunak, tingkat risiko privasi, dan akurasi branding “Made in India” masih belum diputus secara final.
Kontroversi ini juga mendapat perhatian internasional setelah Arun Maini, atau Mrwhosetheboss, ikut membahas sengketa tersebut. Sorotan itu membuat isu AI+ meluas ke perbincangan tentang hak konsumen, akuntabilitas perusahaan, peliputan teknologi, dan kebebasan berbicara di ruang digital.
