Sam Altman dibuat heran sekaligus malu setelah mengetahui ada pengguna di luar OpenAI yang justru memakai token AI lebih banyak daripada karyawan perusahaannya sendiri. Bagi bos OpenAI itu, kondisi tersebut terasa ironis karena pembuat ChatGPT malah kalah boros dari pihak eksternal.
Altman menyampaikan pengakuan itu dalam acara internal perusahaan. Ia menyoroti betapa cepatnya pola penggunaan AI berubah, sampai ukuran yang dulu terasa sangat besar kini terlihat biasa saja.
Salah satu contoh yang ia berikan adalah angka 100.000 token per bulan. Sebelum ChatGPT dirilis, jumlah itu dianggap sangat tinggi dan kemungkinan besar sudah menempatkan seseorang di jajaran pengguna token terbanyak di dunia.
Kini, menurut Altman, standar itu sudah bergeser jauh. Angka 100.000 token per bulan bahkan disebut mendekati rata-rata penggunaan per orang di dunia, bukan lagi level yang membuat orang tercengang.
Di internal OpenAI sendiri, pemakaian token disebut sudah mencapai 100 miliar token per bulan. Meski jumlah itu sangat besar, Altman mengakui ada pihak di luar OpenAI yang mencatat penggunaan lebih tinggi lagi.
Situasi itu membuatnya merasa tidak enak hati. Ia menilai karyawan OpenAI seharusnya menjadi pengguna paling aktif dari produk yang mereka bangun sendiri, apalagi perusahaan tersebut memang sudah punya budaya konsumsi token besar.
Budaya itu bahkan terlihat dari adanya papan peringkat penggunaan token di OpenAI. Para karyawan juga kerap memamerkan angka pemakaian mereka di media sosial X.
Sejumlah angka yang beredar terdengar ekstrem. Peter Steinberger, pencipta OpenClaw, pernah mencatat pemakaian senilai US$ 1,3 juta atau sekitar Rp 23,47 miliar dalam satu bulan.
Steinberger juga sempat membagikan tangkapan layar yang menunjukkan penggunaan mencapai 603 miliar token dalam 30 hari. The New York Times sebelumnya melaporkan ada karyawan OpenAI yang menghabiskan 210 miliar token hanya dalam satu minggu.
Di luar OpenAI, tidak semua perusahaan mengambil sikap serupa. Amazon dikabarkan menutup papan peringkat penggunaan token mereka, sementara Uber disebut menetapkan batas pemakaian setelah pejabat tinggi perusahaan menilai biaya AI makin sulit dibenarkan nilainya.
Altman melihat perubahan sikap itu sebagai tanda pergeseran besar di industri. Ia mengatakan isu penghematan AI muncul mendadak, padahal pada awal tahun 2026 hal itu belum menjadi pembahasan utama.
“Pada awal tahun 2026, hal ini sama sekali tidak pernah dibahas,” kata Altman. “Semua pihak merasa sangat puas dengan pengeluaran mereka.”
Kini, menurut Altman, situasinya berbeda dan biaya penggunaan AI menjadi perhatian serius. OpenAI, kata dia, terus mengembangkan model AI sambil mencari cara agar pengguna bisa mendapat manfaat lebih besar dengan biaya yang lebih rendah.
Di tengah lonjakan penggunaan itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan agar masyarakat menjadikan AI sebagai partner, bukan tuan. Ia menegaskan agar manusia tidak berubah menjadi budak AI.
Nezar menyampaikan pesan tersebut dalam acara Jogja Financial Festival di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026). Ia juga menyoroti lompatan AI yang bergerak cepat dari ChatGPT yang diluncurkan pada 2022 menuju Agentic AI, lalu ke fisikal AI.
Menurut Nezar, fisikal AI adalah tahap ketika Agentic AI diterapkan pada teknologi robotik. Ia mencontohkan robot cerdas yang dapat membantu pekerjaan sehari-hari manusia, mulai dari memasak, menjadi instruktur senam, hingga membantu tugas polisi lalu lintas.
Perubahan teknologi yang begitu cepat membuat ukuran konsumsi token ikut bergeser. Apa yang dulu dianggap luar biasa kini menjadi patokan biasa di tengah persaingan penggunaan AI yang makin agresif.
Source: www.cnbcindonesia.com






