Penghentian Penyelidikan The Fed Memicu Skenario Baru, Trump Makin Dekat Dorong Pengganti Powell

Penyelidikan pidana terhadap Federal Reserve terkait pembengkakan biaya renovasi gedung dihentikan oleh Jaksa Distrik AS Jeanine Pirro. Keputusan ini langsung memicu sorotan baru karena membuka kembali ruang spekulasi soal posisi Jerome Powell dan peluang Donald Trump untuk mendorong perubahan di pucuk pimpinan bank sentral AS.

Meski jalur pidana dihentikan, perkara itu belum benar-benar hilang dari meja otoritas. Pirro mengalihkan kasus tersebut ke Kantor Inspektur Jenderal The Fed dan masih memberi sinyal bahwa penyelidikan dapat dibuka lagi jika muncul bukti baru yang dinilai relevan, sehingga tekanan terhadap The Fed tetap terasa.

Sinyal politik yang belum mereda

Langkah Pirro menambah lapisan baru dalam perdebatan seputar independensi Federal Reserve. Bagi pelaku pasar dan pengamat kebijakan, penghentian sementara penyelidikan bukan berarti ketegangan dengan Gedung Putih ikut selesai.

Situasi ini justru membuat masa depan Jerome Powell kembali menjadi bahan pembacaan politik. Selama bayang-bayang penyelidikan masih ada, setiap langkah Powell akan dinilai bukan hanya dari sisi kebijakan moneter, tetapi juga dari bagaimana ia merespons tekanan hukum dan tekanan politik yang mengiringinya.

Powell sebelumnya menyatakan akan menyelesaikan masa jabatannya sampai proses investigasi Departemen Kehakiman menjadi lebih jelas. Masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada 15 Mei 2026, tetapi ia masih memiliki opsi untuk tetap berada di Dewan Gubernur hingga 2028.

Opsi itu membuat peta suksesi di The Fed menjadi lebih rumit. Jika Powell memilih bertahan di dewan, ruang bagi Trump untuk menyusun ulang kepemimpinan bank sentral bisa menjadi lebih sempit dan proses transisi akan berjalan lebih lambat.

Perhitungan Powell ikut berubah

Brett Ryan, ekonom senior di Deutsche Bank, menilai penghentian penyelidikan belum menutup kemungkinan kasus itu dihidupkan kembali. Menurutnya, kondisi tersebut bisa ikut memengaruhi kalkulasi Powell saat memutuskan apakah akan meninggalkan kursinya di The Fed.

Ryan mengatakan, “Pirro tampaknya masih membuka kemungkinan untuk mengangkat kembali kasus ini, dan itu mungkin membuat Powell berpikir ulang untuk meninggalkan kursinya di dewan.” Pernyataan itu menggambarkan bahwa keputusan hukum dan pilihan pribadi Powell saling berkelindan.

Bagi pasar, keputusan Powell menjadi penting karena tidak hanya menyangkut keberlanjutan kepemimpinan bank sentral, tetapi juga arah komunikasi The Fed ke depan. Selama status Powell belum jelas, pelaku pasar harus membaca sinyal yang datang dari Washington dengan lebih hati-hati.

Kevin Warsh makin menonjol

Di tengah ketidakpastian itu, nama Kevin Warsh makin menguat sebagai kandidat yang disebut-sebut paling menonjol untuk menggantikan Powell. Warsh sudah menjalani sidang konfirmasi di Senat, meski prosesnya belum sepenuhnya mulus.

Sejumlah senator Partai Republik disebut menuntut penghentian total penyelidikan Departemen Kehakiman sebagai bagian dari dinamika yang mengiringi proses tersebut. Hal ini turut menambah kesan bahwa transisi kepemimpinan di bank sentral tidak hanya ditentukan oleh pertimbangan teknis, tetapi juga oleh manuver politik.

Dalam sidang konfirmasi, Warsh menekankan perlunya kerangka kerja baru untuk menghadapi inflasi yang bertahan lebih lama dari perkiraan awal. Ia juga memakai istilah “perubahan rezim” untuk menggambarkan pendekatan yang ingin ia dorong bila mendapat peran lebih besar di bank sentral.

Bagi pasar, bahasa seperti itu biasanya dibaca sebagai tanda bahwa arah kebijakan di bawah calon pemimpin baru bisa berbeda dari pendekatan Powell. Karena itu, sorotan terhadap Warsh tidak hanya datang dari Senat, tetapi juga dari pelaku pasar yang mencari petunjuk soal arah kebijakan moneter berikutnya.

Tarik-menarik independensi The Fed

Stephen Stanley, kepala ekonom AS di Santander US Capital Markets LLC, menilai apa yang terjadi di Washington tampak tidak lazim untuk ukuran Federal Reserve. Ia menyebut pola negosiasi dan pergeseran koalisi semacam itu biasa dalam politik, tetapi terasa mengganggu ketika masuk ke wilayah bank sentral.

Stanley mengatakan, “Apa yang kita bicarakan ini terdengar sangat normal untuk dinamika politik di Washington — pergeseran koalisi dan negosiasi di balik layar — tetapi hal itu sangat jauh dari yang biasa kita lihat dari The Fed, sehingga menjadi mengganggu.” Pandangan itu menegaskan kekhawatiran bahwa independensi bank sentral bisa terdorong oleh tekanan dari luar.

Di saat yang sama, pejabat The Fed tetap berupaya menjaga stabilitas suku bunga di tengah inflasi yang belum mencapai target dua persen. Tekanan itu makin berat karena kenaikan harga minyak global akibat konflik yang melibatkan Iran, membuat ruang gerak bank sentral kembali diuji dalam situasi yang sensitif.

Berita Terkait