Pengiriman Atto 1 Mulai Normal Lagi, BYD Bersiap Kejar Posisi Teratas

Pengiriman BYD Atto 1 disebut sudah kembali normal bulan ini, setelah sempat terpukul oleh masa transisi menuju produksi lokal. Jika pasokan benar-benar pulih, model listrik mungil ini masih punya peluang untuk kembali menguat di pasar.

Situasi tersebut penting bagi BYD karena lima bulan pertama tahun 2026 belum memberi hasil yang memuaskan. Perkiraan pemulihan baru akan terlihat sekitar pertengahan Juli, saat pasar mulai membaca apakah distribusi yang kembali lancar ikut mengangkat angka penjualan.

Penurunan yang sangat tajam

Atto 1 sebelumnya sempat tampil sangat kuat dan menjadi salah satu andalan BYD di segmen BEV. Saat baru dirilis, mobil ini mampu mencatat total penjualan lebih dari 22 ribu unit dalam tiga bulan.

Namun tren berubah sejak Maret. Penurunan itu sempat terjadi saat libur Lebaran, tetapi kondisi yang lebih berat berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

Pada April, penjualan Atto 1 turun tajam. Sebulan setelahnya, angka distribusinya tinggal 26 unit, jauh di bawah pencapaian ketika model ini masih berada di puncak performa.

Transisi produksi lokal menekan distribusi

BYD menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipicu oleh transisi menuju produksi lokal. Karena pabrik sedang disiapkan, impor mobil dari China harus dikurangi lebih dulu.

Dampaknya langsung terasa pada penjualan mobil listrik BYD secara keseluruhan. Pada Mei 2026, penjualan BYD hanya bertahan di level ratusan unit, yang menjadi hasil terendah sejak penjualan dimulai sekitar dua tahun lalu.

Situasi ini menunjukkan bahwa proses peralihan produksi membawa konsekuensi besar pada pasokan. Selama impor dipangkas, unit yang tersedia untuk pasar ikut menyusut.

Tekanan persaingan di segmen BEV

Di tengah kondisi itu, BYD juga harus menghadapi kompetisi yang semakin ketat. Salah satu penantang yang menekan adalah Jaecoo J5 EV, yang membuat posisi Atto 1 tidak lagi senyaman sebelumnya.

BYD sendiri tetap menempatkan Atto 1 sebagai model penting karena statusnya sebagai mobil termurah di lini mereka. Model ini juga diprioritaskan untuk dirakit lokal guna memenuhi permintaan pasar yang masih besar.

Saat ini BYD merakit model terlarisnya, termasuk Atto 1 dan M6. M6 dikenal sebagai MPV listrik entry level terlaris dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp 400 jutaan.

Peluang kembali naik jika pasokan stabil

BYD menilai pemulihan masih terbuka jika pengiriman terus berjalan normal. Jika itu terjadi, Atto 1 berpeluang bergerak mendekati kondisi sebelum masa transisi produksi dimulai.

Momentum tersebut penting karena Atto 1 dan M6 sama-sama menjadi tulang punggung penjualan BYD dalam dua tahun terakhir. Keduanya juga selama ini menjadi mobil listrik terlaris di Indonesia.

Di sisi lain, BYD masih mengejar ketertinggalan di pasar BEV lewat M6 dan Sealion 7. Namun Sealion 7 belum dirakit lokal, sehingga Atto 1 tetap memegang peran besar dalam upaya menjaga volume penjualan.

Jika pengiriman benar-benar stabil lagi, BYD masih punya kesempatan untuk memperbaiki posisi Atto 1. Model mungil ini belum habis, tetapi nasibnya sangat bergantung pada kelancaran pasokan dalam beberapa waktu ke depan.

Source: ridertua.com

Berita Terkait