Korea Selatan menghadapi lonjakan penipuan yang semakin terang-terangan menyasar wisatawan asing dan penggemar K-pop. Data Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan menunjukkan jumlah korban warga asing naik hampir empat kali lipat, dari 5.307 kasus pada 2023 menjadi 8.671 pada 2024, lalu menembus 19.907 kasus pada 2025.
Di tengah pulihnya pariwisata dan ramainya agenda hiburan, para pelaku memanfaatkan ketertarikan pada budaya Korea untuk menjual barang koleksi palsu, tiket konser abal-abal, hingga transaksi daring yang berujung korban kehilangan uang. Pola ini membuat penggemar K-pop menjadi sasaran yang sangat rentan, terutama saat ada acara besar dan akses ke kanal resmi terbatas.
Modus yang paling sering dipakai
Para pelaku kerap menawarkan merchandise langka, edisi terbatas, atau pernak-pernik yang tampak meyakinkan. Setelah pembayaran dilakukan, barang tidak pernah dikirim atau ternyata palsu, sementara penjual menghilang tanpa jejak.
Skema lain berjalan lewat media sosial dan platform jual-beli. Setelah korban mentransfer uang, pelaku berhenti merespons, sehingga pola ini dikenal luas sebagai penipuan model “ghosting”.
Penipuan tiket konser juga menonjol karena banyak penggemar ingin segera mendapat akses ke pertunjukan besar. Dalam situasi seperti itu, tawaran cepat dari penjual yang tidak dikenal sering terasa menggiurkan, padahal risikonya tinggi.
Kasus di sekitar konser BTS di Busan
Kerawanan itu terlihat jelas saat konser grup BTS di Busan pada 12-13 Juni. Laporan kepolisian menyebut tiga dari lima kejahatan yang menargetkan warga asing di lokasi tersebut merupakan kasus penipuan.
Temuan itu memperlihatkan bahwa keramaian acara hiburan besar bisa menjadi ruang yang dimanfaatkan pelaku untuk mencari korban. Penggemar yang sibuk berburu tiket atau barang koleksi kerap lebih mudah lengah karena fokus pada acara yang ingin dihadiri.
Pariwisata meningkat, kriminalitas ikut terdorong
Lonjakan penipuan tersebut terjadi bersamaan dengan pulihnya kunjungan wisata ke Korea Selatan. Data pemerintah menunjukkan jumlah wisatawan asing naik 71,7 persen, dari 11 juta orang pada 2023 menjadi 18,9 juta orang pada 2025.
Pada periode yang sama, total kasus kejahatan terhadap warga asing juga meningkat 81,7 persen, dari 28.048 kasus menjadi 50.975 kasus. Kondisi ini memunculkan desakan agar otoritas memperkuat pencegahan kriminalitas di kawasan wisata utama dan titik keramaian penggemar K-pop.
Kim Joon-hwan dari Partai Demokrat menegaskan kenaikan itu dalam pernyataannya kepada parlemen. Ia menyebut angka penipuan warga asing naik dari 5.307 pada 2023 menjadi 8.671 pada 2024, lalu melonjak ke 19.907 pada 2025.
Langkah aman bagi wisatawan dan pemburu merchandise
Bagi wisatawan yang ingin berburu koleksi Hallyu, jalur resmi menjadi pilihan paling aman. Pembelian merchandise disarankan dilakukan melalui toko resmi seperti Weverse Shop atau gerai ritel fisik yang tepercaya di Korea.
Jika transaksi dilakukan dengan perorangan, metode pembayaran perlu dipilih dengan hati-hati. Sistem yang mendukung refund atau rekening bersama dapat membantu mengurangi risiko kerugian ketika barang tidak dikirim.
Harga yang terlalu murah juga patut dicurigai karena sering dipakai untuk memancing minat korban. Bukti percakapan dan transfer sebaiknya disimpan agar bisa digunakan saat pelaporan jika terjadi masalah.
Pola penipuan yang menargetkan penggemar K-pop menunjukkan bahwa popularitas budaya Korea ikut membuka peluang bagi pelaku kriminal. Karena itu, kewaspadaan saat membeli merchandise, tiket konser, dan barang koleksi menjadi hal penting bagi wisatawan asing di Korea Selatan.
Source: mediaindonesia.com






