Penonton Java Jazz Ikut Koor, Wijaya 80 Hidupkan Nostalgia Pop Retro Era 1980-An

Penampilan Wijaya 80 di myBCA International Java Jazz Festival 2026 menjadi salah satu momen yang paling ramai disambut penonton di panggung MLD Spot. Trio yang digawangi Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe itu membawa pop retro yang membuat area konser langsung hidup sejak lagu pertama dimainkan.

Di tengah festival yang identik dengan jazz, warna musik mereka terasa menonjol. Perpaduan pop, city pop, dan aransemen modern memberi nuansa berbeda, sementara sentuhan nostalgia era 1980-an membuat penampilan itu mudah diterima penonton dari berbagai usia.

Identitas retro Wijaya 80 sudah terlihat sejak awal set. Hezky Joe tampil dengan kemeja hitam dan topi pelaut, lalu dukungan saksofon, terompet, serta perkusi mempertegas karakter musik yang mereka usung malam itu.

Mereka membuka penampilan dengan “Sudah Tahu” sebelum berlanjut ke “Anak Muda”. Lagu kedua langsung memancing reaksi meriah dari penonton yang memenuhi area panggung, terutama ketika Hezky Joe mengajak mereka ikut bernyanyi bersama.

“Java Jazz kita bertemu lagi malam ini. Mana suara anak muda di sini? Anak muda enggak jauh-jauh datang ke sini. Mari kita nyanyikan Anak Muda,” ujar Hezky Joe. Ajakan itu disambut koor penonton yang ikut bernyanyi hampir di setiap bagian lagu.

Suasana hangat itu terus dibawa ke lagu berikutnya, “Pemain Lama”. Sebelum nomor itu dimulai, Hezky Joe sempat melontarkan candaan yang membuat penonton tertawa dan semakin dekat dengan penampilan mereka.

“Biasanya kalau anak muda ini cenderung lagi gacor-gacornya jatuh cinta. Ini adalah sebuah lagu untuk para pemain cadangan. Java Jazz, are you ready? Ini dia Pemain Lama,” katanya. Lagu tersebut menjadi salah satu bagian paling hidup karena penonton bernyanyi sambil berjoget mengikuti perpaduan pop, funk, dan sentuhan retro.

Energi panggung tetap terjaga ketika Wijaya 80 membawakan “Cukup Dewasa” dan “Seharusnya Aku”. Lagu yang sudah luas dikenal itu kembali mengundang sing along dari berbagai sisi arena konser.

Sebelum “Seharusnya Aku” dimainkan, Hezky Joe mengatakan, “Ini adalah sebuah lagu yang ditulis di awal Wijaya terbentuk, kawan-kawan. Mari kita nyanyi bareng-bareng.” Seusai lagu itu, ia juga memperkenalkan para personel pengiring yang mendukung penampilan malam tersebut.

Momen lain yang mencuri perhatian datang saat Ardhito Pramono memperkenalkan “Bulan Bintang, Garis Menyilang”. Lagu itu merupakan hasil kolaborasi Wijaya 80 dengan Sal Priadi dan baru dirilis belum lama ini.

“Ini adalah sebuah lagu yang kami tulis bersama Sal Priadi. Bercerita tentang kisah cinta Hezky Joe. Lagu ini baru kami tulis beberapa bulan lalu, yakni Bulan Bintang, Garis Menyilang,” kata Ardhito. Pengantar itu memberi konteks baru bagi penonton sebelum lagu dibawakan di atas panggung.

Menjelang akhir pertunjukan, Wijaya 80 menutup set dengan dua lagu yang sama-sama kuat membawa emosi. Mereka membawakan “Masih Ada Kamu” lalu mengakhiri penampilan dengan “Terakhir Kali”, yang menjadi puncak dari suasana nostalgia pop retro malam itu.

Penampilan ini menunjukkan bahwa pop retro era 1980-an masih punya ruang kuat di panggung besar. Musik Wijaya 80 tidak hanya didengar, tetapi juga dinikmati dan dinyanyikan bersama oleh penonton, terutama generasi muda yang memenuhi area pertunjukan.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait