Penurunan Bunga Kredit Masih Tersendat, Biaya Dana Bank Belum Ikut Ringan

Author: Redaksi Android62

Penurunan suku bunga kredit perbankan ternyata belum bergerak secepat yang banyak diharapkan meski BI Rate sudah berada di level rendah. Pada Februari 2026, rerata suku bunga kredit rupiah masih tercatat 8,80 persen, turun 44 basis poin dibandingkan periode yang sama sebelumnya yang berada di 9,22 persen.

Pergerakan itu menunjukkan arah penurunan memang sudah terbentuk, tetapi dampaknya belum merata di semua segmen pinjaman. Di balik lambatnya penyesuaian tersebut, biaya dana bank masih menjadi penahan utama.

Biaya pendanaan masih jadi beban

Otoritas Jasa Keuangan menilai penghambat terbesar berada pada cost of fund atau biaya pendanaan perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa penurunan bunga kredit tidak bisa berlangsung seragam karena sangat bergantung pada strategi pendanaan masing-masing bank.

Saat persaingan menghimpun dana masih ketat, transmisi dari suku bunga acuan ke bunga kredit cenderung tertahan. Dalam kondisi seperti itu, bank juga kerap memberikan special rate kepada nasabah besar agar dana tidak berpindah ke lembaga lain.

Tekanan di sisi pendanaan itu masih terlihat dari struktur dana perbankan. Meski rerata tertimbang suku bunga dana pihak ketiga rupiah turun 41 basis poin secara tahunan menjadi 2,68 persen pada Februari 2026, penurunannya belum cukup cepat untuk mendorong bunga kredit turun lebih dalam.

Bunga dana bergerak lebih cepat daripada kredit

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa pelonggaran moneter tetap menular ke industri perbankan. Namun, kecepatan penyesuaian di sisi dana dan kredit tidak sama.

Perry menyebut suku bunga deposito 1 bulan turun dari 4,81 persen pada awal Januari 2025 menjadi 4,19 persen pada Maret 2026. Penurunannya mencapai 62 basis poin, sementara suku bunga kredit pada periode yang sama hanya turun dari 9,20 persen menjadi 8,76 persen.

Selisih pergerakan itu memperlihatkan bahwa bunga dana lebih cepat menyesuaikan dibanding bunga pinjaman. Karena itu, penurunan di sisi kredit belum terasa secepat yang diharapkan oleh pelaku usaha maupun rumah tangga.

Ada jeda sebelum bunga pinjaman ikut berubah

OJK juga menjelaskan bahwa penurunan BI Rate tidak otomatis langsung diteruskan ke bunga kredit. Dian menyebut industri perbankan umumnya menunggu beberapa periode sebelum menyesuaikan suku bunga pinjaman, sehingga efek penuh pelonggaran moneter belum seluruhnya terlihat saat ini.

BI Rate sendiri bertahan di 4,75 persen sejak September 2025 dan masih memberi ruang untuk penurunan lebih lanjut pada 2026. Meski begitu, ruang tersebut baru akan terasa lebih kuat jika biaya pendanaan bank ikut turun dan kondisi likuiditas tetap mendukung.

Bank Indonesia menilai likuiditas perbankan masih longgar dan menopang transmisi kebijakan. Tetapi setiap bank tetap dapat bergerak dengan ritme yang berbeda karena dipengaruhi struktur dana, profil risiko, dan strategi bisnis masing-masing.

Dana murah dianggap paling penting

OJK menilai percepatan penurunan bunga kredit sangat bergantung pada penguatan dana murah atau current account saving account. Jika porsi dana murah meningkat, biaya pendanaan bank akan turun dan ruang penyesuaian bunga pinjaman menjadi lebih lebar.

Dian menyampaikan bahwa bank perlu mengoptimalkan strategi pendanaan agar komposisi dana murah makin besar. Dengan struktur dana yang lebih efisien, penurunan bunga kredit bisa berjalan lebih cepat dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi dunia usaha maupun masyarakat.

Perry juga menyoroti porsi special rate yang masih cukup besar, yakni 26,30 persen dari total DPK. Kondisi itu membuat ruang penurunan bunga kredit belum terbuka lebar karena sebagian dana bank masih dihimpun dengan biaya yang relatif tinggi.

Transparansi juga didorong lewat SBDK

Selain mendorong efisiensi pendanaan, OJK tetap mengawal transparansi suku bunga melalui Suku Bunga Dasar Kredit. Lewat POJK Nomor 13 Tahun 2024, komponen perhitungan SBDK distandardisasi agar lebih mudah dibandingkan antarbank.

Bank juga wajib mengumumkan komponen pembentuk SBDK pada sumber yang mudah diakses masyarakat dan pemangku kepentingan. Langkah ini diharapkan membuat disiplin pasar semakin kuat dan persaingan penetapan bunga menjadi lebih sehat.

Dengan BI Rate yang rendah dan likuiditas yang masih terjaga, perhatian pasar kini tertuju pada turunnya cost of fund, bertambahnya dana murah, dan berkurangnya special rate. Jika faktor-faktor itu membaik, bunga kredit berpeluang turun lebih cepat dan lebih terasa bagi pelaku usaha serta masyarakat.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru