Bagi investor yang memburu dividen saham tambang, harga momentum paling penting jatuh pada 28 April 2026. Pada tanggal itu, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sama-sama memasuki fase ex dividen, sehingga pembelian saham setelah hari tersebut tidak lagi memberi hak atas pembagian laba tahun buku 2025.
Langkah berikutnya ada pada 29 April 2026, saat recording date menjadi penentu siapa yang resmi tercatat dalam Daftar Pemegang Saham. Dari titik ini, hanya investor yang sudah masuk daftar yang berhak menerima pembayaran tunai sesuai jadwal yang telah ditetapkan masing-masing emiten.
ADMR siapkan dividen US$ 120 juta
Di antara dua emiten tersebut, ADMR menjadi salah satu yang paling disorot karena menyiapkan dividen tunai sebesar US$ 120 juta. Nilai itu setara 44,25 persen dari laba bersih perseroan yang mencapai US$ 271,21 juta sepanjang tahun lalu.
Sekretaris Perusahaan Alamtri Minerals Indonesia, Mahardika Putranto, menyampaikan bahwa pembagian itu merupakan hasil keputusan resmi perusahaan. Ia mengatakan, “Sesuai dengan hasil RUPS Tahunan, total nilai dividen yang akan dibagikan sebesar US$ 120 juta.”
Berdasarkan estimasi yang beredar, dividen ADMR diperkirakan setara Rp117 per saham. Dengan mengacu pada harga penutupan Jumat sebelumnya, yield dividen ADMR disebut berada di kisaran 6,22 persen.
ADRO kombinasikan dividen interim dan final
ADRO juga menarik perhatian pasar karena menyiapkan pembagian dividen final senilai US$ 197,50 juta. Jika digabung dengan dividen interim US$ 250 juta yang telah dibayarkan pada Januari 2026, total alokasi dividen perusahaan untuk tahun buku 2025 mencapai US$ 447,50 juta.
Jumlah tersebut mencerminkan hampir seluruh laba bersih ADRO pada periode yang sama. Informasi dari laporan investasi.kontan.co.id menyebut, setiap pemegang saham ADRO akan menerima sekitar Rp11.700 per lot saham.
Dari sisi imbal hasil, yield ADRO berada pada kisaran 4,59 persen. Angka itu disebut dua kali lipat lebih tinggi dibanding rata-rata bunga deposito di bank umum, sehingga membuat saham ini tetap masuk radar pencari pendapatan dividen.
Jadwal pembayaran jadi penentu masuk daftar penerima
Setelah melewati ex dividen dan recording date, perhatian investor beralih ke jadwal pencairan dana. Untuk ADMR, pembayaran dividen tunai dijadwalkan cair pada 6 Mei 2026, sedangkan ADRO direncanakan membayar dividen pada 8 Mei 2026.
Urutan tanggal ini penting karena menentukan apakah investor masih berhak tercatat sebagai penerima dividen. Pembelian saham pada atau setelah 28 April 2026 tetap memberi peluang ikut pergerakan harga, tetapi tidak lagi membawa hak atas dividen yang sudah diputuskan.
Saham tambang ini tetap dipantau pasar
Di luar pembagian laba, prospek ADMR juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Mengacu pada data kabarbursa.com, pendapatan perusahaan diproyeksikan mencapai Rp 31,78 triliun pada 2026, sehingga ekspektasi pertumbuhan bisnis masih ikut menopang minat investor.
Kombinasi jadwal ex dividen, recording date, besaran pembagian laba, dan estimasi yield membuat ADMR dan ADRO kembali ramai diperbincangkan. Setelah hak dividen jatuh ke pemegang saham yang tercatat tepat waktu, pasar biasanya akan menilai kedua emiten ini dari sisi kinerja dan daya tarik imbal hasilnya.
