Perempuan Masih Tertinggal Di Pendidikan, Pendanaan, Dan Ruang Digital Saat Kesetaraan Belum Penuh

Perempuan masih menghadapi banyak pintu yang tertutup, baik saat masuk ke politik, membangun usaha, menempuh pendidikan, maupun bergerak di ruang digital. Di berbagai bidang itu, persoalan yang muncul bukan hanya soal kesempatan, tetapi juga soal kapan mereka dilibatkan, seberapa besar dukungan yang diterima, dan apakah ruang yang mereka masuki benar-benar aman.

Gambaran itu mengemuka dalam diskusi Leadership & Liberation in Heels: Women in Focus yang digelar Social Quotient Indonesia bersama Happy Hearts Indonesia di Kuningan City Ballroom, Jakarta Selatan. Forum tersebut menegaskan bahwa tantangan perempuan hari ini tidak lagi berdiri pada satu garis saja, melainkan tersebar di banyak ruang kehidupan yang saling berhubungan.

Saat perempuan baru dipanggil ketika keadaan sudah genting

Di ranah politik, perempuan kerap ditempatkan dalam situasi yang berat sejak awal. Nurul Izzah Anwar, Executive Chairperson Polity Malaysia, menyebut kondisi itu sebagai “bidang terjun”, ketika perempuan baru masuk ke posisi penting saat masalah sudah menumpuk.

Ia menilai pola seperti itu membuat perempuan diminta menyelesaikan krisis yang bukan mereka ciptakan. Dalam pandangannya, ruang bagi perempuan seharusnya dibuka sebelum keadaan berubah menjadi darurat, bukan setelah semuanya memburuk.

Nurul juga menyinggung pengalaman ibunya yang meninggalkan karier sebagai pakar ophthalmology dan peraih Gold Medalist in Obstetrics and Gynecology dari Royal College of Surgeons untuk masuk ke politik ketika sang ayah menjadi tahanan politik. Contoh itu dipakai untuk menunjukkan bahwa perempuan sering hadir di momen paling sulit, bukan di saat peluang masih stabil.

Akses modal masih jauh dari setara

Ketimpangan yang sama juga terlihat di dunia usaha. Gita Sjahrir, Director for Investor Relations PT TBS Energi Utama, menyebut hanya 2 persen perempuan pendiri usaha atau female founders yang memperoleh pendanaan dari modal ventura dan angel investment secara global.

Menurut dia, angka itu tidak berubah sejak 2010. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa perempuan yang membangun bisnis masih harus melewati jalur yang jauh lebih sempit dibanding pelaku usaha laki-laki.

Situasi ini membuat keberhasilan usaha perempuan tidak cukup ditopang oleh ide dan kerja keras. Dukungan modal tetap menjadi titik penentu, sementara akses menuju pendanaan masih belum terbuka secara adil.

Pendidikan belum sepenuhnya aman bagi anak perempuan

Jika akar perjuangan Kartini ada pada pendidikan, maka tantangan di lapangan menunjukkan pekerjaan itu masih panjang. Dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, biaya sekolah anak kerap lebih dulu diarahkan kepada anak laki-laki.

Yenny Wahid, social entrepreneur, political activist, dan advocate for peace and tolerance, menekankan bahwa Kartini tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kebaya atau simbol perayaan. Ia menilai inti perjuangan Kartini adalah kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari sudut pandang itu, semangat Kartini belum benar-benar selesai selama masih ada anak perempuan yang lebih dulu dikorbankan akses pendidikannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan dasar yang diperjuangkan Kartini masih hadir dalam bentuk yang berbeda.

Ruang digital menambah lapisan ancaman

Tantangan perempuan kini juga bergerak ke ruang digital yang lebih luas dan lebih cepat menyebarkan tekanan. Uni Lubis, pemimpin redaksi IDN Times, menyoroti bahwa ancaman terhadap perempuan kini tidak hanya datang dari media, tetapi juga dari algoritma, content creator, hingga kecerdasan buatan atau AI.

Ia menilai ruang digital bisa menjadi tempat yang sangat berbahaya bagi korban kekerasan seksual. Doxing, victim-blaming, dan komentar yang menyalahkan cara berpakaian korban dapat menyebar dengan cepat, sementara jejak digital yang terlanjur tersebar sulit dihapus.

Dalam kondisi seperti itu, literasi digital menjadi kebutuhan dasar. Uni menegaskan bahwa perlindungan perempuan di ruang digital tidak bisa dibebankan kepada individu semata, terlebih ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak orang untuk beradaptasi.

Dari parlemen, ruang usaha, sekolah, hingga media sosial, perempuan masih berhadapan dengan bentuk ketimpangan yang berbeda-beda. Perjuangan itu terus bergerak mengikuti zaman, tetapi pertanyaan dasarnya belum berubah: kapan kesetaraan hadir sepenuhnya, dan kapan ruang aman benar-benar tersedia bagi perempuan.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait