Makan terlalu cepat ternyata bukan sekadar soal kebiasaan terburu-buru di meja makan. Pola ini berkaitan dengan tiga hal yang sering luput disadari, yaitu berat badan yang lebih mudah naik, pencernaan yang terasa lebih berat, dan gula darah yang lebih sulit stabil.
Masalahnya muncul karena tubuh tidak punya cukup waktu untuk memproses rasa kenyang dengan baik saat makanan masuk terlalu cepat. Akibatnya, efeknya baru terasa setelah makan selesai, ketika sinyal lapar dan kenyang belum sempat bekerja secara optimal.
Risiko makan berlebihan lebih besar
Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah asupan makanan yang menjadi lebih banyak dari kebutuhan tubuh. Kebiasaan ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas karena otak belum sempat menerima tanda bahwa tubuh sudah cukup makan.
Ahli gizi Andy De Santis, MPH, RD, menjelaskan bahwa mengunyah makanan dengan lebih saksama membantu mengubah cara tubuh melepaskan hormon lapar dan kenyang. Saat makan berlangsung terlalu cepat, sinyal “sudah cukup makan” tidak diproses secara optimal oleh otak.
Kondisi itu membuat seseorang masih merasa lapar beberapa menit setelah makan. Jika kebiasaan ini berulang, dorongan untuk ngemil di luar jam makan pun bisa lebih sering muncul dan total kalori harian menjadi lebih sulit dikendalikan.
Pencernaan ikut terbebani
Kecepatan makan juga memengaruhi kerja sistem pencernaan. Mengunyah dengan baik adalah bagian penting dari proses ini karena membantu mempersiapkan makanan untuk diproses lebih lanjut di saluran cerna.
Saat makan dilakukan tergesa-gesa, tubuh tidak mendapat dukungan optimal untuk mengolah makanan secara bertahap. Kebiasaan tersebut dikaitkan dengan gangguan pencernaan seperti gastritis dan asam lambung naik.
Selain itu, makan cepat dapat membuat udara berlebih ikut masuk ke saluran cerna. Hal ini bisa memicu kembung dan gas berlebih, dan pada sebagian orang dapat memperburuk gejala sindrom iritasi usus besar.
Dampaknya juga terasa pada gula darah
Kecepatan makan tidak hanya berpengaruh pada kenyang dan pencernaan, tetapi juga pada respons tubuh terhadap gula darah. Uji klinis acak yang diterbitkan di jurnal Nutrients menemukan bahwa pada perempuan sehat, mengonsumsi makanan yang sama dalam waktu lebih lama menghasilkan respons gula darah yang lebih baik.
Temuan itu menunjukkan puncak gula darah yang lebih rendah dan durasi gula darah tetap tinggi yang lebih singkat. Artinya, tempo makan ikut berperan dalam proses metabolik tubuh, bukan hanya dalam kenyamanan saat makan.
Kebiasaan makan cepat juga dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap resistansi insulin dan sindrom metabolik. Kondisi tersebut mencakup rangkaian masalah yang dapat meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan stroke.
Dalam satu studi yang melibatkan hampir 9.000 orang, kelompok yang makan cepat tercatat lebih berisiko mengembangkan sindrom metabolik dalam tiga tahun berikutnya dibanding mereka yang makan lebih lambat. Studi skala besar dari Jepang yang melibatkan hampir 200.000 peserta juga menemukan bahwa kebiasaan makan cepat menjadi prediktor risiko diabetes, bahkan setelah faktor-faktor lain diperhitungkan.
Kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi efeknya menumpuk
Makan terlalu cepat sering muncul karena tuntutan waktu dan ritme aktivitas yang padat. Namun, kebiasaan yang tampak sepele ini bisa memberi dampak berlapis pada tubuh jika terus berlangsung dari hari ke hari.
Berat badan, kenyamanan pencernaan, dan kestabilan gula darah sama-sama dapat terdampak ketika tubuh terus dipaksa menerima makanan tanpa jeda yang cukup untuk memproses sinyal kenyang. Karena itu, makan lebih perlahan tetap menjadi langkah penting untuk membantu tubuh mengatur asupan dan merespons makanan dengan lebih baik.
Source: www.beautynesia.id






