Kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia masih sering bertumpu pada asumsi pendapatan yang linear dan stabil, padahal banyak perempuan pekerja hidup dalam pola kerja yang berlapis dan berubah-ubah. Dalam praktiknya, mereka kerap masuk ke pekerjaan formal, informal, freelance, hingga ekonomi gig untuk menjaga arus pendapatan tetap berjalan.
Kondisi itu membuat fleksibilitas kerja menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan gaya hidup. Bagi banyak perempuan, kerja jarak jauh juga menjadi cara untuk merespons tuntutan profesional dan domestik yang berjalan bersamaan, sekaligus memberi kontrol lebih besar atas waktu mereka sendiri.
Beban ganda yang belum diimbangi dukungan struktural
Data global dari US Bureau of Labor Statistics pada 2024 menunjukkan perempuan memiliki tingkat adopsi kerja jarak jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pola ini memperlihatkan bahwa fleksibilitas kerja sering dipakai perempuan untuk bertahan di tengah beban ganda yang belum sepenuhnya diakomodasi oleh sistem kerja.
Masalahnya, kebijakan publik dan strategi industri masih kerap memperlakukan perempuan sebagai pencari nafkah sekunder yang pasif. Padahal, dalam banyak situasi, perempuan justru menjadi pengambil keputusan utama dalam rumah tangga maupun konsumsi.
Pengasuhan anak masih menjadi titik rapuh
Kebutuhan fleksibilitas juga sangat terkait dengan dukungan pengasuhan anak. Cuti orang tua dan infrastruktur penitipan anak masih menjadi faktor penting, karena tanpa itu perempuan sering dipaksa beradaptasi sendirian.
Kasus kekerasan di Little Aresha Daycare di Yogyakarta yang terungkap pada April 2026 memperlihatkan rapuhnya sistem pendukung tersebut. Dalam peristiwa itu, 53 dari 103 anak dipastikan menjadi korban di fasilitas daycare tanpa izin operasional.
Kejadian itu menegaskan bahwa pengasuhan anak belum sepenuhnya aman bagi perempuan pekerja. Saat anak harus ditinggalkan dalam pengasuhan yang tidak aman, beban kerja perempuan tidak berhenti di kantor, tetapi berlanjut ke ruang domestik dengan risiko yang lebih besar.
Kebijakan yang kerap meleset dari kebutuhan nyata
Contoh lain terlihat pada kecelakaan Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Peristiwa itu menewaskan 16 orang, dan seluruh korban adalah perempuan.
Gerbong khusus perempuan berada di rangkaian paling belakang dan menjadi bagian pertama yang menerima benturan. Setelah kejadian, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengusulkan pemindahan gerbong khusus perempuan ke tengah rangkaian, sementara gerbong laki-laki ditempatkan di depan.
Usulan tersebut memicu protes karena dinilai tidak menyentuh akar persoalan dan justru memindahkan risiko ke kelompok lain. Perdebatan itu menunjukkan bahwa kebijakan yang dirancang untuk melindungi perempuan belum tentu memahami risiko yang mereka hadapi secara struktural.
Perempuan muda kini ikut menentukan arah konsumsi
Di tengah rapuhnya dukungan kebijakan, perempuan muda di Indonesia justru semakin aktif menentukan keputusan sosial dan konsumsi. Mereka mencari informasi lebih agresif, mempertimbangkan keamanan, memanfaatkan layanan kesehatan preventif, hingga ikut membentuk dinamika fandom dan ekonomi kreator.
Menurut Annisa Paramita, Head of Lifestyle Publisher di IDN, perempuan muda yang aktif mencari informasi cenderung memiliki tanggung jawab lebih tinggi dalam mengambil keputusan, daya beli lebih kuat, dan niat pembelian yang lebih jelas dibandingkan segmen lain. Media sosial juga mengubah posisi mereka dari penonton menjadi partisipan aktif yang dapat memengaruhi persepsi publik.
Industri masih belum menyesuaikan cara membaca perempuan
Pola yang sama terlihat di banyak industri yang menargetkan perempuan. Masih ada strategi yang menyusun produk dan layanan seolah pendapatan hanya datang dari satu sumber dan bersifat tetap.
Di sisi lain, pola komunikasi satu arah masih dominan, padahal ekosistem sekarang menuntut kredibilitas media dan validasi sosial yang lebih kuat. Melalui Indonesia Summit 2026 di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026, IDN meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei yang dikerjakan IDN Research Institute itu menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah, termasuk Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.
