Perimenopause dapat memengaruhi jauh lebih banyak hal daripada jadwal haid. Perubahan hormon pada masa transisi menuju menopause ini juga berkaitan dengan suasana hati, kemampuan fokus, kondisi kulit, rambut, kekuatan otot, dan kesehatan tulang.
Keluhan emosional pada fase ini tidak seharusnya dianggap sebagai sikap terlalu sensitif. Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc menyebut perubahan suasana hati merupakan respons biologis yang kerap hadir bersamaan dengan tekanan kehidupan sehari-hari.
Tekanan pekerjaan, anak yang mulai mandiri, hingga orang tua yang memasuki usia lanjut dapat memperberat beban emosional. Kondisi tersebut dapat muncul bersamaan dengan perubahan hormon, sehingga perempuan perlu memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
“Perimenopause bukan membuat perempuan menjadi lebih sensitif tanpa sebab. Perubahan suasana hati yang dialami merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering kali terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup,” ujar Leonita.
Ketika stres meningkat, metode STOP dapat digunakan sebagai langkah awal untuk merespons keadaan dengan lebih tenang. Metode ini mencakup berhenti sejenak, menarik napas perlahan, mengobservasi perasaan, lalu memilih respons yang paling membantu.
Bila perubahan emosi, gangguan fokus, atau brain fog mulai menghambat aktivitas dan kualitas hidup, konsultasi dengan tenaga profesional dianjurkan. Dukungan keluarga dan lingkungan kerja juga dapat membantu perempuan menjalani fase ini dengan lebih siap.
Perubahan fisik yang perlu diperhatikan
Penurunan estrogen turut memengaruhi metabolisme serta jaringan tubuh di luar organ reproduksi. Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC menjelaskan bahwa berkurangnya produksi kolagen dan elastin dapat membuat kulit lebih tipis, kering, dan kurang elastis.
Sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause. Setelah periode tersebut, kolagen kulit dilaporkan terus berkurang sekitar dua persen setiap tahun.
| Area Tubuh | Perubahan yang Dapat Muncul | Langkah Pendukung |
|---|---|---|
| Kulit dan rambut | Kulit kering, menipis, kurang elastis, rambut menipis | Perawatan sesuai kebutuhan kulit dan rambut |
| Otot dan tulang | Kekuatan otot dan kesehatan tulang perlu dijaga | Aktivitas fisik rutin secara bertahap |
| Emosi dan fokus | Mood berubah, fokus berkurang, brain fog | Pengelolaan stres dan bantuan profesional |
Rambut dapat tampak lebih tipis karena fase pertumbuhannya semakin pendek. Perubahan tersebut dapat dikelola melalui perawatan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing perempuan.
Nutrisi dan gerak tubuh
Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang dalam menghadapi perimenopause. Asupan yang tepat berperan menjaga metabolisme, mempertahankan massa otot, dan membantu menurunkan risiko penyakit kronis yang meningkat seiring usia.
Aktivitas fisik rutin juga penting untuk mempertahankan fungsi tubuh. dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR menyebut sekitar 72,9 persen perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang dapat memengaruhi kualitas hidup.
Olahraga tidak perlu dilakukan secara mendadak atau berlebihan. Aktivitas yang teratur dan bertahap dapat membantu menjaga kekuatan otot serta kesehatan tulang selama masa transisi.
Dalam seminar edukasi yang dilaporkan Suara.com, dokter lintas disiplin di Primaya Hospital menekankan perlunya pendekatan menyeluruh. Perimenopause bukan penyakit dan bukan pula penanda berakhirnya produktivitas perempuan.
Wulan Maharani Tilaar, President Director Martha Tilaar SPA, mengajak perempuan melihat fase ini sebagai kesempatan untuk memberi perhatian lebih besar pada fisik dan mental. Dengan nutrisi, gerak tubuh, perawatan diri, serta dukungan yang memadai, perempuan tetap dapat aktif dan berkarya pada setiap fase kehidupan.
