ISPA Berulang Diam-Diam Menguras Anggaran, Harga Obat Naik hingga 15 Persen

Author: Redaksi Android62

ISPA menjadi kondisi dengan tagihan obat rawat jalan terbanyak yang dicatat Allianz Indonesia sepanjang 2025, dengan total 32.519 kasus. Jumlah tersebut menunjukkan keluhan yang sering dianggap ringan dapat berubah menjadi pengeluaran rutin bagi keluarga ketika terjadi berulang.

Tekanan biaya semakin besar karena harga obat terus meningkat dari tahun ke tahun. Allianz Indonesia mencatat kenaikan harga obat berada pada kisaran 6 hingga 15 persen setiap tahun, sementara inflasi medis Indonesia diproyeksikan mencapai 17,6 persen pada 2026.

Keluhan Sehari-hari Mendominasi Pengobatan

ISPA kembali menjadi kondisi yang paling banyak diklaim nasabah pada kuartal I 2026, dengan 10.026 klaim. Keluhan lain seperti diare, radang tenggorokan, demam, serta batuk pilek juga tercatat dalam jumlah besar.

Tingginya frekuensi penyakit umum tidak berarti biayanya selalu melampaui pengobatan penyakit kronis dalam satu kali kunjungan. Namun, kebutuhan konsultasi dan pembelian obat yang muncul berulang dapat mengganggu perencanaan keuangan rumah tangga.

Kondisi Kasus Rawat Jalan 2025 Klaim Kuartal I 2026
ISPA 32.519 10.026
Radang tenggorokan 8.581 2.795
Demam dan pilek 7.728
Diare 3.741
Demam 2.394
Batuk pilek 2.369

Data tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pengobatan tidak hanya muncul ketika seseorang menghadapi kondisi serius. Keluhan pernapasan dan pencernaan yang sering terjadi juga dapat memicu pengeluaran berkali-kali dalam setahun.

Harga Obat Menambah Beban Pengeluaran

Allianz Indonesia mencatat kenaikan harga obat tertinggi terjadi pada 2023, yakni 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan biaya ini dipengaruhi antara lain oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, yang berdampak pada bahan baku dan obat impor.

Pada 11 Juni 2026, Kementerian Kesehatan menetapkan penyesuaian harga obat komersial swasta dengan batas maksimal 20 persen. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengendalikan pasar serta melindungi masyarakat dari kenaikan harga yang tidak terkendali.

Chief Technical Officer Allianz Life Indonesia Brandon Heng menyatakan obat bukan komponen terbesar dalam inflasi medis. Meski demikian, kenaikan harga obat tetap menambah tekanan pada biaya kesehatan yang harus dipersiapkan masyarakat.

Pasien Kronis Menghadapi Kebutuhan Berulang

Dampak kenaikan harga juga dirasakan lebih besar oleh pasien yang membutuhkan terapi jangka panjang, termasuk penderita diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Konsumsi obat bagi kelompok ini tidak hanya dilakukan saat gejala muncul, melainkan berlangsung secara berkelanjutan.

Jenis Obat Kenaikan Harga Sepanjang 2025
Obat diabetes Sekitar 10 persen
Obat hipertensi Hingga 15 persen

Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia dr. Tubagus Argie menilai masyarakat kerap lebih siap menghadapi biaya penyakit berat. Padahal, ISPA, radang tenggorokan, demam, dan pilek juga tetap membutuhkan pengobatan serta pembelian obat.

“Masyarakat sering kali hanya mengantisipasi biaya ketika menghadapi penyakit berat. Padahal, penyakit yang umum terjadi seperti ISPA, radang tenggorokan, maupun demam dan pilek juga tetap membutuhkan pengobatan,” kata dr. Tubagus Argie.

Persiapan biaya kesehatan perlu mencakup kebutuhan obat, bukan hanya pemeriksaan dokter atau tindakan medis. Langkah tersebut menjadi penting ketika risiko sakit datang tanpa diduga di tengah kenaikan harga obat dan inflasi medis.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru