Permukaan Taftan Naik Hampir 9 Sentimeter Dalam 10 Bulan, Ilmuwan Minta Pemantauan Diperketat

Author: Redaksi Android62

Permukaan tanah di sekitar puncak Gunung Taftan tercatat naik sekitar 3,5 inci atau hampir 9 sentimeter dalam rentang 10 bulan. Temuan itu membuat gunung berapi di tenggara Iran ini kembali dipandang lebih serius, karena selama ini Taftan tidak lagi dianggap benar-benar “mati”.

Kenaikan tanah tersebut tidak serta-merta berarti letusan akan segera terjadi. Namun, hasil pengamatan itu menunjukkan adanya tekanan gas di bawah permukaan yang patut diawasi lebih ketat.

Status yang berubah

Selama bertahun-tahun, Taftan masuk kelompok gunung berapi yang dianggap punah karena tidak meletus sejak era Holosen. Era itu dimulai 11.700 tahun lalu, sehingga gunung ini sebelumnya tidak dipandang sebagai ancaman langsung bagi manusia.

Kini, pandangan itu mulai bergeser. Dengan adanya tanda pergerakan di bawah permukaan, Taftan dinilai lebih tepat disebut sebagai gunung berapi dorman, bukan benar-benar punah.

Pablo González, ahli vulkanologi dari Institut Produk Alami dan Agrobiologi atau IPNA-CSIC, menilai temuan ini menjadi alasan kuat untuk meningkatkan pemantauan. Ia juga menyebut status bahaya Taftan selama ini cenderung diremehkan.

Jejak yang terlihat dari satelit

Perhatian para peneliti mulai meningkat ketika Mohammad Hossein Mohammadnia, mahasiswa doktoral yang bekerja bersama González, memeriksa citra satelit pada 2020. Saat itu, ia belum menemukan tanda aktivitas vulkanik di Taftan.

Situasinya berubah pada 2023 ketika warga mulai melaporkan emisi gas dari gunung itu di media sosial. Emisi tersebut bahkan disebut masih tercium dari kota Khash, yang berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi gunung.

Karena Taftan berada di wilayah terpencil dan tidak memiliki sistem pemantauan GPS seperti Gunung St. Helens, tim peneliti mengandalkan citra Sentinel-1 milik Badan Antariksa Eropa atau ESA. Dari data itu, mereka menemukan adanya pengangkatan tanah yang tipis di dekat puncak.

Sumber dorongan di bawah gunung

Mohammadnia memperkirakan sumber pengangkatan berada pada kedalaman sekitar 490 hingga 630 meter di bawah permukaan. Para peneliti mengesampingkan gempa bumi dan curah hujan sebagai penyebab, karena tidak ada tanda yang mendukung faktor eksternal itu di kawasan tersebut.

Waduk magma Taftan sendiri berada lebih dari 2 mil di bawah permukaan, jauh lebih dalam dibandingkan sumber pengangkatan yang terdeteksi. Karena itu, tim menduga perubahan terjadi pada pipa hidrotermal di bawah gunung berapi yang memicu penumpukan gas.

Kemungkinan lain yang dipertimbangkan adalah adanya sebagian kecil magma yang bergeser di bawah gunung berapi. Pergerakan itu dapat mendorong gas naik ke batuan di atasnya, meningkatkan tekanan di pori dan rekahan batuan, lalu membuat permukaan tanah terangkat tipis.

Mengapa Taftan tetap perlu dipantau

Taftan adalah stratovolkano setinggi 3.940 meter yang berdiri di kawasan pegunungan hasil subduksi kerak samudra Arab di bawah benua Eurasia. Saat ini gunung tersebut masih memiliki sistem hidrotermal aktif dan fumarol, yakni lubang penghasil sulfur berbau.

Meski begitu, letusan Taftan belum tercatat dalam sejarah manusia. Kondisi itu membuat pengawasan langsung tidak sederhana, apalagi ada aktivitas kelompok pemberontak dan konflik perbatasan antara Iran dan Pakistan di wilayah sekitarnya.

González mengatakan tahap berikutnya adalah bekerja sama dengan ilmuwan yang memantau emisi gas di gunung itu. Ia menegaskan kajian ini bukan untuk memicu kepanikan, melainkan agar otoritas di Iran menyiapkan sumber daya untuk meninjau kondisi Taftan secara lebih serius.

Source: www.cnbcindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru