Persija Jakarta memang masih produktif dari sisi jumlah gol, tetapi efektivitas di depan gawang belum benar-benar menemani catatan itu. Mauricio Souza menilai masalah utama timnya bukan pada jumlah serangan atau peluang, melainkan pada penyelesaian akhir yang kerap tidak berubah menjadi gol.
Sorotan itu muncul menjelang duel Persija melawan Persis Solo di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dengan waktu persiapan yang singkat, Souza menempatkan latihan di area sepertiga akhir lapangan sebagai prioritas agar peluang yang tercipta tidak lagi terbuang percuma.
Fokus Persija ada pada ketajaman, bukan sekadar membangun serangan
Souza menilai Persija sebenarnya cukup mampu menciptakan situasi berbahaya. Namun, kualitas sentuhan terakhir dan ketenangan saat berada di depan gawang masih menjadi pekerjaan yang belum tuntas.
Ia menyebut persoalan tersebut sudah terlihat sejak awal kompetisi dan terus dipantau dari satu laga ke laga lain. Staf pelatih, menurutnya, rutin memakai evaluasi pertandingan sebagai dasar untuk menentukan menu latihan berikutnya.
“Ya, seperti yang saya katakan, kami telah mengerjakan ini sejak awal kompetisi. Terkadang memang bola tidak bisa masuk,” ujar Souza jelang laga melawan Persis Solo, Minggu (26/4/2026).
Pernyataan itu menggambarkan bahwa Persija tidak kekurangan ancaman, tetapi sering kehilangan momen saat peluang emas datang. Situasi seperti ini membuat efisiensi menjadi isu yang lebih penting dibanding hanya sekadar volume serangan.
Latihan diarahkan ke sepertiga akhir lapangan
Dalam persiapan menghadapi Persis Solo, Souza menyebut timnya banyak memberi porsi latihan pada penyelesaian akhir. Fokus itu diarahkan ke sepertiga akhir lapangan karena area tersebut dianggap paling menentukan hasil serangan.
“Kami menciptakan peluang di dua pertandingan terakhir, tetapi masih belum efektif di sepertiga akhir lapangan,” ucap Souza.
Ia menambahkan, “Jadi, dalam waktu persiapan yang singkat ini, kami mencoba banyak berlatih di sepertiga akhir lapangan, dengan banyak latihan penyelesaian akhir dengan berbagai cara.”
Pendekatan itu menunjukkan bahwa Persija sedang berupaya memperbaiki detail kecil yang bisa berdampak besar. Dalam pertandingan yang berjalan ketat, satu penyelesaian yang lebih tenang sering kali menjadi pembeda antara satu poin dan tiga poin.
Catatan gol tetap menempatkan Persija di papan atas
Meski performa penyelesaian akhir belum sepenuhnya meyakinkan, produktivitas Persija sejauh ini tetap tinggi. Hingga pekan ke-29, Rizky Ridho dan rekan-rekannya sudah mencetak 52 gol di Super League 2025/2026.
Jumlah itu membuat Persija berada di urutan ketiga daftar tim tersubur musim ini. Mereka hanya berada di bawah Borneo FC yang mencetak 61 gol dan Malut United dengan 54 gol.
Data tersebut memperlihatkan bahwa masalah Persija bukan pada minimnya peluang atau ancaman. Yang menjadi sorotan justru konsistensi saat peluang sudah berada di depan mata.
Menariknya, Persija juga masih lebih produktif dibanding Persib Bandung yang mencatat 50 gol. Dengan catatan itu, Persija tampak punya daya dobrak yang kuat, tetapi belum selalu mampu mengubah dominasi permainan menjadi skor akhir yang sepenuhnya meyakinkan.
Kondisi tersebut membuat Persija berada dalam situasi yang unik, karena produktif di angka gol namun masih belum klinis dalam penyelesaian. Souza kini dituntut memastikan pekerjaan di latihan benar-benar terbayar saat menghadapi Persis Solo, terutama karena efektivitas di depan gawang bisa menjadi penentu utama hasil pertandingan.
Source: www.suara.com






