Harga Pertamax yang menembus Rp17 ribu membuat perhitungan konsumen dalam memilih mobil baru ikut berubah. Biaya operasional kini mendapat perhatian lebih besar, terutama bagi pembeli yang ingin menekan pengeluaran harian dan jangka panjang.
Dalam situasi itu, kendaraan elektrifikasi kembali mendapat sorotan karena menawarkan efisiensi yang lebih baik dibanding mobil bensin murni. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah langkah BYD yang disebut tengah menyiapkan mobil hybrid super irit untuk pasar Indonesia.
BYD membaca arah pasar
Pabrikan asal China tersebut dikabarkan menyiapkan sejumlah model Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV untuk memperluas dominasinya di pasar nasional. Teknologi yang diandalkan adalah sistem Dual Mode atau DM-i, yang menggabungkan mesin bensin dan motor listrik dalam satu paket efisien.
Pada penggunaan sehari-hari, motor listrik akan menjadi sumber tenaga utama di banyak kondisi berkendara. Mesin bensin tetap bekerja saat diperlukan, terutama untuk menjaga efisiensi sekaligus memperpanjang jarak tempuh.
Pola kerja itu membuat PHEV berbeda dari hybrid konvensional. Fokusnya bukan sekadar membantu mesin bensin, melainkan menekan konsumsi bahan bakar secara signifikan dengan peran motor listrik yang lebih dominan.
Model yang disiapkan menuju GIIAS 2026
Salah satu model yang paling menonjol adalah BYD M6 DM-i, mobil keluarga tiga baris penumpang yang disebut akan mendapat teknologi Super Hybrid DM-i versi terbaru. Baterai hybrid pada model ini memungkinkan mobil berjalan dalam mode listrik murni hingga sekitar 105 kilometer.
Jika digabungkan dengan mesin bensin, jarak tempuh totalnya diklaim bisa mencapai sekitar 1.100 kilometer. Angka itu menjadi daya tarik kuat di tengah mahalnya bahan bakar, terutama bagi keluarga yang membutuhkan kabin lega dan efisiensi tinggi sekaligus.
Selain itu, BYD juga menyiapkan SUV baru bernama Sealion 08 PHEV yang dijadwalkan meluncur menjelang GAIKINDO Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2026. Model ini menawarkan kemampuan jelajah gabungan hingga sekitar 900 kilometer.
Jarak tempuh tersebut membuat Sealion 08 PHEV relevan bagi pengguna yang kerap bepergian jauh tanpa ingin terlalu sering berhenti mengisi bahan bakar. Di saat yang sama, BYD juga memperkuat lini premium melalui sub-brand Denza.
Tekanan baru di kelas premium
Denza sebelumnya telah memperkenalkan Denza B5 yang mengusung teknologi Dual Mode Offroad atau DMO. Selain itu, Denza B8 juga dipersiapkan sebagai SUV tujuh penumpang dengan sistem Super Hybrid terbaru.
Kehadiran model-model tersebut diperkirakan menambah tekanan bagi SUV premium bermesin bensin murni. Di pasar yang semakin sensitif terhadap biaya operasional, efisiensi menjadi nilai jual yang makin sulit diabaikan.
Kenapa PHEV makin relevan
Konsumen kini tidak hanya menghitung harga beli kendaraan, tetapi juga biaya kepemilikan jangka panjang. Konsumsi bensin dan beban pajak tahunan menjadi bagian penting dalam keputusan pembelian.
Kendaraan listrik maupun elektrifikasi umumnya mendapat berbagai insentif yang mendukung efisiensi biaya. Mobil listrik bahkan disebut memiliki pajak tahunan yang jauh lebih rendah dibanding kendaraan bermesin bensin pada kelas yang sama.
Karena itu, PHEV menjadi pilihan tengah bagi konsumen yang belum siap beralih penuh ke mobil listrik murni. Mereka tetap mendapatkan fleksibilitas mesin bensin, namun dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat.
Bagi pasar Indonesia, pilihan seperti ini terasa semakin relevan karena kebutuhan mobilitas sangat beragam. Ada pengguna yang memerlukan kendaraan untuk rute dalam kota, tetapi juga tetap ingin nyaman dipakai menempuh perjalanan jauh.
Dengan latar kenaikan harga Pertamax, mobil hybrid super irit seperti BYD M6 DM-i dan Sealion 08 PHEV berpotensi mencuri perhatian besar. GIIAS 2026 bisa menjadi panggung penting untuk melihat seberapa besar minat pasar terhadap model elektrifikasi berdaya jelajah panjang itu.
