Sebanyak 81 gletser dinilai paling berbahaya bagi manusia karena lokasinya dekat permukiman dan infrastruktur penting. Sebagian besar berada di Pegunungan Karakoram di Asia Tengah, sementara sebaran lainnya juga terlihat di Arktik, wilayah pegunungan tinggi di Asia Tengah, dan pegunungan Andes.
Peringatan itu muncul dari studi internasional yang dipimpin Universitas Portsmouth setelah para peneliti memetakan lebih dari 3.100 surging glaciers atau gletser melonjak di seluruh dunia. Jumlahnya hanya sekitar 1 persen dari total gletser di Bumi, tetapi wilayah yang ditempatinya mencakup hampir 20 persen dari luas area gletser global.
Gletser yang bergerak tidak biasa
Gletser melonjak tidak berperilaku stabil seperti kebanyakan gletser lain. Para peneliti menggambarkannya seperti cadangan es yang terkumpul dalam waktu lama, lalu dilepaskan tiba-tiba dalam fase gerakan cepat yang mendorong massa es maju sangat jauh.
Dr Harold Lovell, glasiolog yang memimpin penelitian tersebut, menekankan bahwa pola itu bukan sekadar fenomena alam di daerah tinggi. Gerakan mendadak itu dapat berdampak langsung pada ribuan orang yang tinggal di lembah-lembah di bawah jalur gletser.
Bahaya utamanya tidak berhenti pada perpindahan massa es. Perubahan itu juga dapat memicu rangkaian ancaman susulan yang menyebar ke sungai, lereng, hingga kawasan yang dihuni warga.
Enam ancaman yang menyertai lonjakan es
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature Reviews Earth and Environment mencatat enam bahaya utama dari gletser melonjak. Salah satunya adalah timbunan es yang dapat menutup bangunan, jalan, dan lahan pertanian di wilayah bawahnya.
Bahaya lain muncul ketika aliran sungai tertahan dan membentuk danau yang labil. Situasi ini menjadi berisiko karena bendungan alami dari es bisa berubah sewaktu-waktu dan memantik bencana yang lebih besar.
Retakan dalam pada tubuh gletser atau crevasses juga menjadi ancaman tersendiri. Celah es itu bisa membahayakan jalur pendakian dan aktivitas wisata di pegunungan yang bergantung pada akses aman.
Untuk gletser yang berbatasan dengan laut, lonjakan dapat menghasilkan banyak bongkahan gunung es. Kondisi tersebut menambah risiko keselamatan pelayaran dan memperumit aktivitas di wilayah pesisir.
Danau tak stabil dan banjir bandang super
Salah satu skenario paling berbahaya terjadi ketika danau terbentuk di depan atau di sekitar gletser. Jika bendungan alami itu jebol, air dapat meluncur deras ke bawah dan berubah menjadi banjir bandang yang menyapu permukiman di sepanjang sungai.
Pelepasan air lelehan secara mendadak dari bawah gletser juga dapat memicu runtuhnya bongkahan es besar. Dari sana, longsoran salju dan batu bisa mengikuti dan memperluas area kerusakan.
Karena itu, lembah yang tampak tenang dari kejauhan tetap bisa menyimpan risiko tinggi. Aktivitas manusia di bawah jalur gletser membuat dampaknya jauh lebih nyata dibandingkan sekadar perubahan bentang alam di pegunungan.
Wilayah yang paling perlu diwaspadai
Konsentrasi gletser berbahaya tidak tersebar merata. Pegunungan Karakoram menjadi salah satu titik perhatian utama karena banyak gletser berukuran besar dengan siklus lonjakan berulang berada di area itu.
Pola serupa juga ditemukan di wilayah lain yang didominasi pegunungan tinggi atau kawasan es luas. Para peneliti menilai daerah-daerah tersebut perlu diawasi lebih cermat karena interaksi antara gletser dan aktivitas manusia kerap terjadi sangat dekat.
Gletser yang paling mengkhawatirkan umumnya berukuran besar dan memiliki riwayat lonjakan yang berulang. Artinya, wilayah yang terlihat aman dalam satu periode belum tentu bebas dari ancaman di waktu berikutnya.
Iklim yang menghangat membuat prediksi makin sulit
Studi itu juga menunjukkan bahwa perubahan iklim membuat perilaku gletser melonjak semakin sulit dibaca. Suhu yang lebih hangat dan cuaca ekstrem dapat mendorong lonjakan terjadi lebih cepat dari pola alaminya.
Curah hujan yang tidak biasa dan musim panas yang sangat menyengat ikut disebut dapat mempercepat perubahan tersebut. Bagi otoritas setempat, kondisi ini menambah tantangan dalam melindungi komunitas yang tinggal di zona rawan.
Para peneliti menilai pemantauan satelit dan observasi lapangan perlu diperkuat. Dengan pengawasan yang lebih intensif, pola gletser melonjak bisa dipahami lebih jelas dan sistem peringatan dini dapat dikembangkan dengan lebih akurat.
Ancaman dari gletser ekstrem tidak hanya datang dari gerakan es yang tiba-tiba, tetapi juga dari efek berantai yang bisa menjalar ke lembah, sungai, jalur pendakian, hingga jalur pelayaran di wilayah tertentu.
Source: www.beritasatu.com






