Persaingan baterai solid-state kini tidak lagi sekadar soal siapa yang paling cepat di laboratorium. Perebutan paten membuat Jepang semakin terlihat sebagai penantang serius yang mulai menekan ruang gerak China dalam teknologi generasi baru kendaraan listrik ini.
Kekuatan Jepang paling jelas terlihat dari penguasaan paten global. Kontribusi negara itu mencapai sekitar 37% dari total pengajuan paten baterai solid-state di dunia, sementara China berada di sekitar 30%.
Di tingkat perusahaan, posisi Jepang juga sangat dominan. Dari 30 institusi pemilik paten terbesar di dunia, 17 berasal dari Jepang, disusul tujuh dari China, lima dari Korea Selatan, dan satu dari Eropa.
Toyota menjadi nama paling menonjol dalam daftar itu. Pabrikan otomotif Jepang tersebut disebut memegang sekitar 40% dari total paten global baterai solid-state.
Namun, dominasi Jepang tidak berarti China tertinggal jauh. China masih memimpin riset dan memegang sekitar 35% pasar paten baterai solid-state global, dengan kekuatan yang juga terlihat pada area elektrolit.
Untuk paten terkait elektrolit, pangsa China mencapai sekitar 39% dari total dunia. Angka ini menunjukkan basis riset yang masih sangat kuat, terutama ketika pasar global mulai memusatkan perhatian pada teknologi solid-state.
Laju penelitian di China juga terus meningkat tajam. Jumlah publikasi ilmiah terkait baterai solid-state naik dari 21 penelitian pada 2015 menjadi 562 penelitian pada 2023, dan angka itu menjadi yang tertinggi di dunia.
Dorongan riset tersebut datang dari lembaga besar seperti Chinese Academy of Sciences dan Universitas Tsinghua. Keduanya disebut berhasil membuat langkah penting pada teknologi antarmuka solid-solid, yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama menuju komersialisasi.
Di sisi industri, perusahaan-perusahaan China mulai bergerak lebih agresif. Nama besar seperti CATL, BYD, dan SVOLT aktif mengajukan paten baru dan memperluas riset internal untuk mengejar ketertinggalan di tahap implementasi.
Sepanjang 2023, perusahaan-perusahaan China mengajukan lebih dari 500 aplikasi paten baru. Langkah itu memperlihatkan dorongan kuat dari industri dalam negeri untuk mempercepat transisi dari riset ke produk yang lebih siap digunakan.
Sejumlah perusahaan bahkan sudah masuk ke fase produksi percobaan. Gotion High-tech telah menyelesaikan desain lini produksi baterai solid-state berkapasitas 2 GWh dan mulai melakukan uji kendaraan.
Ganfeng Lithium juga mengklaim telah mengembangkan baterai solid-state dengan kepadatan energi 400 Wh/kg dan daya tahan hingga 1.100 siklus pengisian. Pencapaian seperti ini menunjukkan bahwa persaingan kini meluas dari soal paten ke kemampuan membawa teknologi ke tahap produksi.
Data hingga November 2025 mencatat ada 16.429 paten global terkait baterai solid-state yang mencakup 6.321 keluarga paten unik. Dengan jumlah sebesar itu, medan persaingan jelas tidak lagi berpusat pada China saja, tetapi juga melibatkan Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Dalam hitungan aplikasi paten, China dan Jepang juga sangat rapat. China mencatat 3.341 paten, sementara Jepang membukukan 3.225 paten, dengan Amerika Serikat di 2.355 paten dan Korea Selatan di 1.544 paten.
Kondisi tersebut membuat Jepang berada pada posisi yang semakin penting dalam arah industri ini. Dengan kekuatan paten yang besar, dominasi perusahaan, dan pengaruh pada teknologi yang mendekati komersialisasi, Jepang kini menjadi faktor utama yang ikut mengubah peta persaingan baterai solid-state.
Source: www.beritasatu.com