Peta Persaingan Menuju Bulan Berubah Cepat, NASA Kini Dikejar China Hingga Hitungan Bulan

Author: Redaksi Android62

NASA kini berada dalam tekanan besar karena China disebut makin dekat dengan misi berawak yang mengelilingi Bulan. Jika target itu tercapai, Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya negara yang pernah membawa manusia ke wilayah Bulan.

Peringatan tersebut datang dari Kepala NASA Jared Isaacman. Dalam pandangannya, perlombaan ke Bulan sekarang tidak hanya soal kebanggaan teknologi, tetapi juga soal pengaruh geopolitik dan siapa yang lebih dulu mencatat sejarah baru di luar angkasa.

Isaacman menyampaikan pandangannya dalam pidato utama di konferensi ASCEND di Washington, AS, pada 19 Mei lalu. Ia menilai momen ketika dunia kembali menyaksikan penerbangan awak antariksa mengelilingi Bulan kemungkinan besar akan dipimpin taikonaut China.

Hingga saat ini, China belum mengumumkan jadwal resmi untuk misi tersebut. Namun, berbagai laporan dan pengamat antariksa menyebut Beijing tengah menyiapkan peta jalan terstruktur dengan target jangka panjang mendaratkan manusia di Bulan sebelum 2030.

Jika proyeksi itu terwujud, China akan semakin mendekati capaian yang selama puluhan tahun dikuasai Amerika Serikat. Seluruh penerbangan berawak yang pernah mencapai wilayah Bulan, baik mengorbit, mengelilingi, maupun mendarat di permukaan Bulan, sejauh ini masih merupakan misi NASA.

Dorongan untuk bergerak lebih cepat membuat NASA menyesuaikan strategi dan jadwal program Artemis. Awalnya, misi Artemis 3 yang akan mendaratkan manusia di Bulan dijadwalkan meluncur pada 2028, tetapi dalam revisi terbaru jadwal itu bergeser ke masa uji terbang di orbit rendah Bumi pada 2027.

Setelah itu, Artemis 4 dijadwalkan melakukan pendaratan di Bulan pada 2028. Pergeseran ini menunjukkan NASA ingin mengambil langkah lebih agresif untuk menjaga posisinya dalam persaingan yang kian sempit.

Isaacman bahkan menilai selisih waktu dalam perlombaan ini hanya dihitung dalam bulan, bukan tahun. Ia membandingkan laju program China dengan semangat Amerika pada era 1960-an ketika bersaing dengan Uni Soviet.

Dalam penilaiannya, Amerika menargetkan kembalinya warga AS ke Bulan sebelum masa jabatan Presiden Trump berakhir. Di sisi lain, pesaingnya juga membidik pendaratan sebelum 2030, sehingga ruang untuk terlambat semakin kecil.

Penyesuaian strategi NASA tidak berhenti pada jadwal misi berawak. Badan antariksa AS itu juga mengubah prioritas program agar sumber daya bisa dialihkan ke pembangunan pangkalan di permukaan Bulan.

Salah satu langkah besar yang diambil adalah menghentikan pengembangan proyek stasiun antariksa Lunar Gateway. Keputusan ini dibuat untuk memindahkan sumber daya ke pembangunan pangkalan di Bulan dan memperbanyak misi pendaratan robot.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa NASA tidak hanya mengejar waktu, tetapi juga merombak arah program agar tetap kompetitif. Di tengah percepatan ambisi antariksa China, perubahan itu menjadi bagian dari upaya mempertahankan posisi Amerika dalam perlombaan ke Bulan.

Dukungan politik ikut mengalir ke arah yang sama. Anggota Kongres AS melalui Komite Anggaran DPR menyetujui alokasi dana lebih besar untuk program eksplorasi antariksa pada anggaran tahun fiskal 2027.

Dana tambahan itu ditujukan agar NASA tetap berada di jalur yang tepat. Dengan tekanan dari China, perubahan jadwal di internal NASA, dan dukungan anggaran yang menguat, persaingan menuju Bulan kini bergerak semakin cepat dan semakin ketat.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru