PHEV Murah Mulai Menggeser Pasar, Mobil Cina Ubah Peta Elektrifikasi Indonesia

Author: Redaksi Android62

Pertarungan di pasar elektrifikasi Indonesia mulai bergeser ketika PHEV dari merek mobil Cina hadir dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Jika sebelumnya teknologi ini identik dengan banderol Rp 1 miliar ke atas, kini sejumlah model masuk ke rentang yang lebih dekat dengan daya beli kelas menengah.

Perubahan harga itu penting karena PHEV menawarkan jalan tengah di tengah transisi elektrifikasi. Teknologi ini tetap memberi efisiensi bahan bakar tanpa menuntut infrastruktur pengisian daya khusus, sementara adopsi EV murni masih tertahan oleh harga beli yang lebih tinggi dan jaringan charging yang belum merata.

Harga yang lebih rendah mengubah peta persaingan

Chery menjadi salah satu merek yang paling agresif mendorong pergeseran tersebut lewat Tiggo 8 CSH yang dipasarkan di kisaran Rp 400 jutaan ke atas. Setelah itu, Chery juga menambah lini PHEV lain melalui Tiggo 9 CSH yang ditempatkan di kelas lebih tinggi.

Langkah serupa datang dari submerek Jaecoo di bawah grup Chery. Mereka membawa J7 SHS dan J8 SHS ke Indonesia, dan keduanya bermain di segmen Sport Utility Vehicle.

BYD kemudian ikut memperluas pasar PHEV lewat M6 DM-i yang dibanderol Rp 298 jutaan sampai Rp 390 jutaan. Dengan rentang harga itu, PHEV dari merek Cina mulai tampil sebagai opsi yang lebih mudah dijangkau dibandingkan model elektrifikasi yang sebelumnya meluncur jauh di atasnya.

Hybrid diposisikan sebagai jembatan paling aman

Yannes Martinus Pasaribu, akademisi dan pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung, menilai hybrid berperan sebagai jembatan yang paling aman dalam masa transisi. Ia menyebut teknologi ini membantu konsumen menghemat BBM tanpa harus bergantung pada fasilitas pengisian daya khusus.

Yannes juga melihat strategi PHEV dan Range Extender Electric Vehicle atau REEV dari merek Cina sangat cocok dengan kondisi Indonesia. Menurut dia, pendekatan itu tidak memaksa konsumen langsung beralih ke full EV seperti yang terjadi di Eropa atau Cina, melainkan menawarkan solusi yang lebih realistis untuk pasar domestik.

Segmen middle income tetap jadi penentu

Pasar otomotif terbesar di Indonesia masih berada di segmen middle income class, dan di kelompok inilah harga menjadi faktor paling menentukan. EV murni masih dianggap mahal jika dibandingkan mobil ICE sekelasnya, sementara infrastruktur charging belum tersebar merata.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM berpotensi mendorong minat masyarakat terhadap kendaraan yang lebih efisien. Dalam kondisi seperti itu, PHEV yang dijual di bawah Rp 1 miliar punya peluang lebih besar menarik perhatian konsumen yang belum siap sepenuhnya meninggalkan mesin pembakaran.

Dengan deretan produk dari Chery, Jaecoo, dan BYD yang terus bertambah, persaingan di segmen ini diperkirakan makin ramai. Kehadiran mereka juga memperkuat posisi merek mobil Cina dalam peta elektrifikasi nasional, terutama karena menawarkan harga yang semakin mendekati pasar utama.

Source: otomotif.katadata.co.id
Berita Terbaru