Gelombang pemutusan hubungan kerja di perusahaan teknologi AS kini berjalan bersamaan dengan lonjakan belanja kecerdasan buatan atau AI. Dalam lima bulan pertama 2026, jumlah PHK yang dikaitkan dengan AI bahkan sudah melampaui total gabungan sepanjang 2024 dan 2025.
Data itu menunjukkan perubahan besar dalam prioritas bisnis teknologi. AI tidak lagi dipandang sekadar alat bantu kerja, tetapi juga semakin sering muncul sebagai alasan utama restrukturisasi tenaga kerja.
AI makin sering dipakai sebagai alasan PHK
Menurut laporan terbaru firma outplacement Challenger, Gray & Christmas, AI menjadi alasan terbesar yang disebut perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan PHK pada tahun ini. Laju pengurangan karyawan yang dikaitkan dengan AI juga meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Porsinya dalam total PHK ikut naik dari 7 persen pada Januari menjadi 10 persen pada Februari, lalu 25 persen pada Maret, 26 persen pada April, dan hampir 40 persen pada Mei. Pada bulan itu, hampir 39.000 posisi dihapus karena otomasi, sehingga total PHK terkait AI tahun ini menembus lebih dari 87.000.
Andy Challenger, chief revenue officer Challenger, Gray & Christmas, mengatakan AI kini menjadi alasan utama yang diberikan perusahaan untuk memangkas pekerjaan. Tren bulanan itu memperkuat sinyal bahwa otomasi berada di pusat keputusan efisiensi banyak perusahaan.
Teknologi menjadi sektor paling terpukul
Sektor teknologi menanggung dampak paling berat dari gelombang ini. Perusahaan teknologi berbasis di AS mengumumkan 38.242 PHK pada Mei, menjadi total bulanan tertinggi sejak Agustus 2024.
Secara kumulatif, PHK di sektor teknologi tahun ini naik 66 persen menjadi sekitar 1,23 lakh posisi. Angka tersebut menempatkan industri teknologi sebagai penyumbang terbesar dalam gelombang pengurangan tenaga kerja saat ini.
Kondisi itu menjadi sorotan karena terjadi bersamaan dengan percepatan investasi AI di perusahaan yang sama. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana perangkat lunak dan infrastruktur komputasi mulai menggantikan pekerjaan manusia.
Belanja AI per karyawan ikut membesar
Riset Ramp AI Index memberi gambaran yang kontras. Secara keseluruhan, perusahaan belum menghabiskan lebih banyak uang untuk AI daripada untuk gaji karyawan, tetapi sebagian kecil perusahaan sudah mendekati titik itu.
TechCrunch yang mengutip laporan tersebut menyebut 1 persen perusahaan dengan adopsi AI tertinggi sebagai perusahaan “AI-pilled”. Kelompok ini menghabiskan rata-rata $7.500 per karyawan setiap bulan untuk alat AI dan sumber daya komputasi.
Dalam mata uang India, jumlah itu setara sekitar Rs 6,4 lakh per karyawan per bulan. Besaran ini membuat biaya AI per pegawai menjadi salah satu topik paling disorot di industri teknologi.
Ramp juga mencatat pengeluaran AI belum melampaui kompensasi manusia. Rata-rata software engineer di AS masih menerima sekitar $16.000 per bulan, lebih dari dua kali lipat belanja AI di perusahaan yang paling intensif menggunakan teknologi itu.
Meski begitu, kesenjangan antarperusahaan sangat lebar. Kelompok 10 persen teratas menghabiskan sekitar $611 per karyawan per bulan untuk AI, sementara perusahaan median hanya mengeluarkan $11,38 per karyawan, kira-kira setara dengan satu kursi perangkat lunak enterprise.
Biaya infrastruktur juga terus naik
Di antara perusahaan yang paling fokus pada AI, pengeluaran per karyawan naik 14,1 persen hanya dalam satu bulan terakhir. Banyak dari mereka juga bereksperimen dengan banyak model dan platform AI sekaligus, berpindah antara opsi premium dan open-source untuk menekan biaya.
Kenaikan tagihan komputasi mulai diakui para eksekutif industri. Eksekutif Nvidia baru-baru ini menyinggung kasus ketika belanja infrastruktur AI melebihi biaya tenaga kerja, sementara chief executive startup rekrutmen Mercor menyebut perusahaannya kini menghabiskan lebih banyak uang untuk penggunaan AI internal daripada untuk tenaga kerjanya.
Perpaduan antara PHK yang meningkat dan belanja AI yang melonjak menandakan perubahan besar dalam cara perusahaan teknologi menyusun anggaran. Tekanan itu kini datang bukan hanya dari tuntutan efisiensi, tetapi juga dari keputusan seberapa jauh otomatisasi akan menggantikan peran manusia.
