PT Pertamina International Shipping atau PIS dan PT PGN memperkuat arah kerja sama untuk membangun jalur energi rendah karbon lewat pengembangan infrastruktur serta moda pengangkutan maritim. Langkah ini menempatkan LNG, amonia, dan hidrogen sebagai fokus utama untuk mendukung transisi energi sekaligus menjaga rantai pasok nasional tetap efisien.
Sinergi tersebut muncul saat kebutuhan energi menuntut sistem distribusi yang lebih andal dan kesiapan infrastruktur yang lebih modern. Di tengah gejolak harga pasar global, kerja sama PIS dan PGN juga dipandang penting untuk menjaga kinerja jangka panjang Pertamina Group agar tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi pasar.
Kerja sama yang sudah berjalan di lapangan
Hubungan kerja kedua perusahaan sebenarnya sudah memiliki fondasi operasional sebelum kesepahaman baru diperkuat. Sejak tahun lalu, PIS tercatat telah melakukan 17 kali pengangkutan LNG untuk PGN melalui skema spot charter.
Pengiriman itu mencakup kebutuhan untuk FSRU Lampung, Jawa Barat, dan Terminal Arun. Catatan tersebut menunjukkan bahwa sinergi PIS dan PGN bukan dimulai dari tahap wacana, melainkan bertumpu pada aktivitas yang sudah berlangsung di lapangan.
Dorongan membangun infrastruktur yang lebih kuat
PIS menilai pengangkutan gas tidak bisa dilepaskan dari kesiapan infrastruktur yang memadai. Karena itu, perusahaan melihat fasilitas terapung dan moda angkut maritim dapat menjadi bagian penting untuk memperluas kapasitas logistik energi rendah karbon.
Direktur Utama PIS Surya Tri Harto menegaskan bahwa kerja sama ini diarahkan untuk memberi nilai optimal bagi seluruh Pertamina Group. Ia juga menyebut pentingnya kajian investasi agar bisnis ke depan tidak terlalu terekspos risiko fluktuasi harga pasar.
“Pada kerjasama ini kita bicara tentang optimal value untuk Pertamina Group, bukan hanya untuk PIS atau PGN. Kita coba kaji opsi investasi, supaya dalam jangka panjang tidak terlalu terekspos risiko fluktuasi harga pasar,” kata Surya Tri Harto.
Arah sinergi dari midstream ke downstream
Di sisi lain, PGN melihat kebutuhan infrastruktur gas akan semakin kompleks seiring meningkatnya pemakaian LNG. Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto menyampaikan bahwa sinergi dengan PIS akan diperluas ke tingkat kepemilikan dan pengelolaan sektor midstream hingga downstream gas.
Arah pengembangan itu dinilai penting karena ketahanan energi tidak hanya bergantung pada ketersediaan pasokan. Kemampuan mengalirkan energi secara efisien juga menjadi faktor penentu agar sistem energi lebih siap menghadapi tekanan pasar dan kebutuhan domestik yang terus berubah.
Fokus utama kerja sama PIS dan PGN
Berikut poin kerja sama yang menjadi perhatian kedua perusahaan:
- Pengembangan infrastruktur pengangkutan energi rendah karbon.
- Pemanfaatan moda maritim untuk LNG, amonia, dan hidrogen.
- Penguatan rantai pasok gas dari midstream hingga downstream.
- Kajian investasi untuk menekan risiko fluktuasi harga pasar.
Tim kerja bersama untuk proyek lanjutan
Untuk menindaklanjuti kesepahaman tersebut, PIS dan PGN akan membentuk tim kerja bersama. Tim ini bertugas mengkaji proyek-proyek konkret dari sisi teknis dan menyusun skema kerja sama jangka panjang yang bisa dijalankan secara bertahap.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi pengelolaan aset dan infrastruktur yang lebih terintegrasi. Pada saat yang sama, langkah ini juga memperlihatkan bahwa transisi energi membutuhkan dukungan transportasi, tata kelola logistik, dan strategi investasi yang mampu bertahan menghadapi dinamika pasar global.
LNG, amonia, dan hidrogen kini diposisikan sebagai bagian penting dalam jalur menuju sistem energi yang lebih bersih. Dengan sinergi yang sudah memiliki pengalaman operasional, PIS dan PGN kini bergerak ke tahap yang lebih luas untuk memperkuat ekosistem energi rendah karbon nasional.
