PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) menjadi emiten yang paling menonjol dalam peta bisnis restoran cepat saji karena berhasil kembali masuk ke zona laba. Sepanjang tahun buku 2025, perusahaan pengelola Pizza Hut itu membukukan laba Rp 24,75 miliar setelah pada 2024 masih merugi bersih Rp 72,83 miliar.
Perbaikan tersebut muncul di tengah kondisi industri yang belum seragam. Pada saat satu merek mulai menata ulang performa keuangan dengan hasil positif, merek lain seperti KFC Indonesia yang dikelola PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) masih harus menekan kerugian, meski lajunya jauh lebih kecil dibanding sebelumnya.
Pizza Hut membalikkan hasil
Kinerja PZZA menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu menunggu ekspansi gerai. Pendapatan neto perusahaan naik menjadi Rp 3,05 triliun dari Rp 2,79 triliun, sementara beban pokok penjualan bergerak ke Rp 918,52 miliar.
Dari kombinasi itu, PZZA tetap menghasilkan laba bruto Rp 2,13 triliun. Pada saat yang sama, jaringan usahanya justru mengecil, karena jumlah gerai turun menjadi 575 outlet dari 591 gerai pada akhir 2024.
Perubahan juga terlihat pada sisi tenaga kerja. Jumlah karyawan PZZA menyusut menjadi 4.192 orang dari 4.467 orang pada akhir 2024, sehingga perbaikan laba tampak berjalan seiring dengan efisiensi operasional.
KFC belum lepas dari rugi
Berbeda dengan Pizza Hut, FAST masih mencatat rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Namun, nilainya turun tajam menjadi Rp 366,04 miliar dari Rp 796,71 miliar pada 2024.
Pendapatan KFC sepanjang 2025 bergerak relatif datar di Rp 4,88 triliun. Angka itu hanya sedikit lebih tinggi dibanding Rp 4,87 triliun pada periode sebelumnya, sehingga dorongan utama perbaikan datang dari pengendalian beban.
Salah satu penunjang perbaikan berasal dari penurunan beban pokok penjualan menjadi Rp 1,99 triliun. Di sisi jaringan, FAST juga menutup sejumlah gerai dan kini mengoperasikan 690 restoran, lebih sedikit daripada 715 gerai pada akhir 2024.
CFC masih bertumbuh di pendapatan
Di kelompok emiten lain, PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) yang mengelola CFC menunjukkan pola yang juga tidak sepenuhnya sama dengan laba bersihnya. Laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada induk turun tipis menjadi Rp 19,38 miliar dari Rp 21,03 miliar pada 2024.
Meski begitu, pendapatan usaha PTSP justru naik menjadi Rp 703,26 miliar. Merek CFC tetap menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi Rp 653,66 miliar, sehingga bisnis inti masih memegang peran utama dalam menopang usaha perusahaan.
Dengan beban pokok penjualan Rp 270,26 miliar, PTSP membukukan laba bruto Rp 433,94 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum otomatis mendorong laba bersih naik lebih kuat.
CSMI berfokus pada NWS Chicken
PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) mengambil jalur yang berbeda setelah menutup seluruh gerai Texas Chicken. Perusahaan kini memusatkan bisnis pada merek NWS Chicken dengan dukungan 24 karyawan berstatus kontrak.
Langkah itu belum langsung mengangkat kinerja keuangan. Sepanjang 2025, CSMI masih mencatat rugi bersih Rp 955,25 juta, sementara penjualan turun menjadi Rp 1,8 miliar dari Rp 1,9 miliar pada periode sebelumnya.
Posisi keuangan menunjukkan tekanan belum merata
Jika dilihat dari neraca, tiap emiten cepat saji ini membawa kondisi yang berbeda. PZZA mencatat aset Rp 4,94 triliun, liabilitas Rp 4,51 triliun, dan ekuitas Rp 435,85 miliar.
FAST memiliki aset Rp 894,62 miliar, liabilitas Rp 1,03 triliun, dan ekuitas Rp 354,32 miliar. PTSP berada pada aset Rp 184,23 miliar, liabilitas Rp 44,5 miliar, dan ekuitas Rp 39,85 miliar.
Sementara itu, CSMI membukukan aset Rp 170,09 miliar, liabilitas Rp 4,66 miliar, dan ekuitas Rp 4,66 miliar. Gambaran ini memperlihatkan bahwa bisnis cepat saji masih berada dalam fase seleksi ketat, dengan efisiensi dan penyesuaian jaringan menjadi penentu utama hasil usaha.







