Perum Jasa Tirta II memastikan air irigasi dari Jatiluhur tetap tersedia untuk petani hingga akhir 2026. Kepastian ini menjadi penting karena musim kemarau diprediksi mulai berlangsung pada Mei 2026, saat kebutuhan pengelolaan air harus semakin ketat.
Direktur Utama PJT II, Imam Santoso, menyebut ketersediaan air masih aman berdasarkan pemantauan kondisi Waduk Ir. H. Djuanda. Ia menegaskan bahwa distribusi akan dijalankan secara terukur dengan pengawasan hidrologi yang intensif agar pasokan tetap mencukupi.
Pengamanan aliran air diperketat
PJT II memetakan sejumlah risiko yang dapat mengganggu layanan irigasi di wilayah kerjanya. Sedimentasi, gangguan sistem suplesi, dan potensi kerusakan bendung menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi kelancaran aliran air ke jaringan irigasi.
Untuk menghadapi kondisi itu, perusahaan menyiapkan pengaturan pintu air pada saluran sekunder yang terdampak. Distribusi juga dilakukan dengan pola gilir-giring agar layanan tetap merata meski pasokan harus dijaga ketat.
Langkah teknis lain ikut diperkuat di lapangan. Pembersihan gulma dan sampah pada saluran irigasi dijalankan lebih intensif, sementara sarana pompa dioptimalkan untuk membantu menghadapi kemungkinan penurunan debit saat kemarau menguat.
Skala layanan yang harus dijaga
Daerah Irigasi Jatiluhur memiliki luas layanan sekitar 503.713,80 hektare. Luas wilayah layanan ini menunjukkan besarnya ketergantungan aktivitas pertanian pada stabilitas distribusi air dari jaringan irigasi tersebut.
Karena itu, pemantauan hidrologi dilakukan secara real-time. Cara ini dipakai agar potensi kekeringan dapat diantisipasi lebih cepat dan keputusan operasional di lapangan bisa menyesuaikan perubahan kondisi air.
Koordinasi di lapangan untuk menjaga distribusi
Selain penguatan teknis, PJT II juga mengandalkan koordinasi lintas sektor untuk mencegah gangguan pemanfaatan air. Sinergi dilakukan bersama pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, BBWS Citarum, TNI, dan Satpol PP.
Koordinasi rutin membantu memastikan jadwal distribusi air dan kondisi debit tersampaikan lebih terbuka kepada petani. Dengan begitu, petani mendapat ruang untuk menyesuaikan pola tanam ketika kondisi iklim mulai mengering.
Imam Santoso menegaskan bahwa pasokan air berkelanjutan untuk sektor pertanian tetap menjadi prioritas utama. Ia menyebut distribusi air harus berlangsung optimal, terukur, dan merata agar kebutuhan petani tetap terpenuhi sepanjang musim kemarau 2026.
