Ponorogo menunjukkan bahwa kenaikan produksi jagung tidak selalu harus bergantung pada perluasan lahan. Di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, penguatan hasil panen justru ditempuh lewat teknologi benih, pendampingan budidaya, dan kolaborasi lintas pihak.
Langkah itu menjadi sorotan dalam panen raya jagung yang melibatkan pemerintah, perusahaan, akademisi, dan kelompok tani. Model kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas kini makin bertumpu pada inovasi yang langsung diuji di tingkat petani.
Peran teknologi benih di lahan Ponorogo
Fokus utama kegiatan itu adalah penggunaan varietas jagung hibrida Dekalb DK19C di lahan Ponorogo. Evaluasi teknis di Desa Pijeran disebut memperlihatkan performa agronomi yang baik dan memberi bukti bahwa inovasi benih dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa target swasembada pangan nasional menuntut peningkatan produktivitas. Menurut dia, penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya lewat perluasan lahan tanam karena tantangan produksi semakin kompleks.
Hanif menilai pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian harus menjadi jalan utama. Ia juga menyebut kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta seperti Bayer sebagai contoh konkret untuk mendorong sentra produksi daerah agar menopang produksi jagung nasional.
Posisi Ponorogo dalam produksi jagung
Di tingkat daerah, Ponorogo berada di jajaran 10 besar penghasil jagung di Jawa Timur. Luas panen jagung di wilayah ini mencapai sekitar 39.046 hektare dengan produksi 284.242 ton pada 2025, atau produktivitas rata-rata 7,28 ton per hektare.
Posisi itu membuat Ponorogo dipandang punya peran strategis dalam mendukung target pangan nasional. Karena itu, peningkatan hasil tidak hanya diukur dari banyaknya panen, tetapi juga dari efisiensi biaya dan kualitas hasil yang diterima petani.
| Data | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Luas panen jagung Ponorogo | 39.046 hektare | Tahun 2025 |
| Produksi jagung Ponorogo | 284.242 ton | Tahun 2025 |
| Produktivitas rata-rata | 7,28 ton per hektare | Tahun 2025 |
| Luas panen jagung pipilan nasional | 0,24 juta hektare | Januari 2026 |
| Produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen | 1,38 juta ton | Januari 2026 |
Angka nasional masih bergerak naik
Data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut menunjukkan produksi jagung nasional masih tumbuh positif. Pada Januari 2026, luas panen jagung pipilan nasional mencapai 0,24 juta hektare, naik 11,17 persen dibanding Januari 2025 yang sebesar 0,22 juta hektare.
Dalam periode yang sama, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diperkirakan mencapai 1,38 juta ton. Angka itu naik 11,09 persen dari 1,25 juta ton pada Januari 2025.
Benih unggul dan manfaat ekonomi bagi petani
Dari sisi perusahaan, Bayer menempatkan inovasi benih sebagai alat untuk memperbaiki hasil usaha tani. Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia, Aditia Rusmawan, mengatakan inovasi pertanian harus memberi manfaat langsung bagi petani.
“Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, kami ingin membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi lebih baik,” kata Aditia.
Ia menjelaskan penggunaan Dekalb DK19C memperlihatkan bagaimana inovasi berbasis sains bisa diterapkan di lapangan untuk mendorong pertanian jagung yang lebih maju dan berkelanjutan. Bayer juga berencana memperkenalkan benih jagung Dekalb DK 19S dan DK 09S yang memiliki teknologi bioteknologi untuk melindungi tanaman dari hama di atas permukaan tanah seperti penggerek jagung dan ulat grayak.
Benih DK19S dan DK09S juga disebut memiliki toleransi terhadap herbisida Roundup Ready 2. Keunggulan tersebut dinilai penting karena rendemen yang tinggi dan kadar air yang rendah saat panen dapat membantu memangkas biaya pengeringan.
Pengalaman petani di lapangan
Manfaat penggunaan benih unggul juga dirasakan langsung oleh petani. Miswanto, petani jagung asal Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo, menyebut pertumbuhan tanaman lebih seragam setelah memakai benih Dekalb DK19C.
“Selain produksinya lebih tinggi, biaya juga lebih efisien karena kualitas panennya baik. Pendampingan budidaya dari Bayer juga membuat kami lebih percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan,” ujarnya.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa produktivitas tidak hanya diukur dari tonase panen, tetapi juga dari kemampuan menekan input dan memperbesar margin keuntungan bersih. Dalam konteks jagung, hasil yang maksimal dengan biaya lebih terkendali menjadi indikator penting bagi keberlanjutan usaha tani.
Model kolaborasi yang bisa diperluas
Kehadiran pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan, dan kelompok tani dalam panen raya di Pijeran memperlihatkan pola kerja sama yang dapat diperluas ke sentra produksi lain. Pola ini menempatkan petani bukan sekadar penerima teknologi, melainkan bagian dari proses inovasi yang diuji langsung di lahan.
Di Ponorogo, kerja sama semacam itu menjadi relevan karena daerah ini sudah memiliki basis produksi jagung yang kuat. Dengan dukungan teknologi benih, pendampingan budidaya, dan kebijakan yang mendorong efisiensi, peningkatan produktivitas jagung berpeluang memberi dampak ekonomi yang lebih nyata bagi petani.
