Porsi Daging Merah Terlalu Banyak, Risiko Tidur Buruk Bisa Melonjak 60 Persen

Kebiasaan makan daging merah dalam porsi besar, terutama saat malam, dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. Dalam satu temuan, setiap tambahan konsumsi daging 100 gram per hari berhubungan dengan kenaikan risiko gangguan tidur hingga 60 persen.

Dampaknya tidak berhenti pada rasa begah setelah makan. Saat makan malam terlalu dekat dengan waktu tidur, tubuh dipaksa tetap bekerja keras untuk mencerna makanan berat ketika seharusnya mulai bersiap beristirahat.

Mengapa waktu makan ikut berpengaruh

Daging merah mengandung lemak dan protein dalam jumlah tinggi. Kedua komponen ini membutuhkan energi besar untuk diolah, sehingga sistem pencernaan tetap aktif lebih lama pada malam hari.

Penelitian dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menunjukkan bahwa makan terlalu larut malam berkaitan erat dengan tidur yang buruk. Ketika ritme jam biologis ikut terganggu, tubuh tidak lagi berada dalam kondisi paling nyaman untuk masuk ke fase istirahat.

Kondisi ini juga dapat memperburuk sleep apnea, yaitu henti napas sejenak saat tidur. Selain itu, makan terlalu dekat dengan jam tidur dapat memicu naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Pengaruh ke otak dan hormon tidur

Daging merah memang mengandung asam amino triptofan dan tirosin. Keduanya berperan dalam pembentukan serotonin, dopamin, dan melatonin yang membantu mengatur jam biologis tubuh serta rasa kantuk.

Studi dalam jurnal Aging and Disease menemukan bahwa konsumsi daging yang tinggi berkaitan dengan durasi dan kualitas tidur yang lebih buruk. Semakin besar asupannya, semakin buruk pula pola tidur yang tercatat.

Para peneliti menilai hal ini terjadi karena daging merah membawa asam amino lain yang bersaing untuk diserap otak. Akibatnya, jumlah triptofan dan tirosin yang berhasil masuk ke otak dapat berkurang, sehingga dorongan alami untuk merasa mengantuk ikut menurun.

Mendengkur dan gangguan tidur lain ikut meningkat

Temuan yang sama juga mengaitkan konsumsi daging tinggi dengan lebih seringnya mendengkur saat tidur. Dalam studi tersebut, asupan yang lebih besar berhubungan dengan gangguan tidur yang lebih sering muncul pada malam hari.

Ada dugaan bahwa kandungan protein yang sangat tinggi pada daging merah ikut memicu penurunan sensitivitas insulin. Selain itu, protein tinggi juga disebut dapat meningkatkan penanda inflamasi di dalam tubuh yang kemudian mengganggu siklus istirahat.

Meski begitu, daging merah tidak otomatis harus dihindari sepenuhnya. Sorotan utamanya ada pada porsi dan waktu makan, terutama bagi orang yang sudah sering mengalami tidur tidak nyenyak atau mudah terbangun di malam hari.

Langkah sederhana yang bisa dicoba

Mengatur makan malam lebih awal dapat memberi tubuh waktu lebih longgar untuk mencerna makanan. Cara ini membantu sistem tubuh tidak terlalu aktif saat malam mulai digunakan untuk beristirahat.

Memilih sumber protein yang lebih ringan juga bisa menjadi pilihan yang lebih aman bagi kualitas tidur. Pada banyak orang, perubahan kecil di jam makan sudah cukup memberi perbedaan pada kenyamanan tidur malam.

Source: www.beautynesia.id

Berita Terkait