QRIS dan IoT menjadi dua elemen utama dalam rancangan Smart Parking System yang disusun mahasiswa Program Studi Business Information System Universitas Pradita untuk Surabaya. Gagasan ini diarahkan agar pengelolaan parkir kota bisa lebih transparan, terpantau, dan selaras dengan kebutuhan smart city.
Rancangan tersebut tidak hanya menempatkan teknologi sebagai pusat solusi, tetapi juga membaca persoalan yang kerap muncul saat sistem parkir pintar dijalankan di lapangan. Integrasi digital, pemantauan real-time, dan transparansi retribusi menjadi titik yang ikut dibahas sejak awal dalam blueprint itu.
Dibangun dari analisis implementasi di Surabaya
Blueprint Smart Parking System ini disusun berdasarkan analisis implementasi parkir pintar di Surabaya. Dalam analisis tersebut, mahasiswa memetakan tantangan dari sisi teknologi, sosial, organisasi, dan kebijakan yang dapat memengaruhi efektivitas sistem.
Pendekatan itu membuat rancangan yang dihasilkan tidak berhenti pada konsep. Blueprint juga memuat langkah pengembangan agar penerapan sistem bisa berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Salah satu fokus penting ada pada integrasi sistem parkir digital dengan dashboard smart city. Melalui skema ini, monitoring parkir dapat dilakukan secara real-time dan membantu pemerintah kota meningkatkan efisiensi pengelolaan transportasi perkotaan.
Keterhubungan dengan dashboard kota juga dinilai penting untuk memperkuat transparansi retribusi parkir. Dengan data yang saling terhubung, pengawasan dapat dilakukan lebih jelas dan tata kelola menjadi lebih akuntabel.
QRIS sebagai alat bayar utama
Di sisi transaksi, QRIS ditempatkan sebagai instrumen pembayaran utama dalam rancangan tersebut. Model ini ditujukan untuk mendorong digitalisasi pembayaran parkir dan mengurangi ketergantungan pada cara konvensional.
Namun, penyediaan sistem saja tidak dianggap cukup. Blueprint itu menekankan bahwa kesiapan masyarakat dan juru parkir dalam menggunakan QRIS menjadi penentu utama keberhasilan implementasi.
Karena itu, edukasi masyarakat masuk ke dalam rekomendasi penting. Sosialisasi dan literasi digital dinilai perlu agar proses adaptasi ke parkir berbasis QRIS berjalan lebih mulus dan tidak memunculkan resistensi yang besar.
SDM dan uji coba bertahap ikut disiapkan
Perhatian besar juga diberikan pada sumber daya manusia. Pelatihan berkala bagi juru parkir dianggap penting agar mereka siap menjalankan sistem digital saat penerapan dimulai.
Pelatihan itu tidak hanya menyasar kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi. Tujuannya juga untuk membangun kesiapan SDM dalam menghadapi perubahan menuju smart mobility yang lebih terstruktur.
Selain SDM, blueprint ini mendorong penerapan bertahap melalui pilot project. Skema ini dipilih agar evaluasi bisa dilakukan sejak awal sebelum sistem diperluas dalam skala yang lebih besar.
Pendekatan bertahap dinilai lebih aman untuk menekan risiko kegagalan sistem. Melalui pilot project, kesiapan infrastruktur digital kota juga dapat diuji dan diperkuat sesuai kebutuhan implementasi.
Arah ke smart mobility yang lebih transparan
Rancangan Smart Parking System itu pada akhirnya diarahkan untuk mendukung ekosistem smart mobility. Parkir diposisikan sebagai bagian dari sistem transportasi kota yang harus saling terhubung dan bekerja efisien.
Dengan monitoring real-time, pemerintah memiliki visibilitas yang lebih baik atas kondisi parkir. Di saat yang sama, digitalisasi pembayaran membuka peluang perbaikan layanan dan pengelolaan retribusi yang lebih transparan.
Blueprint ini juga menegaskan bahwa transformasi smart city membutuhkan perpaduan antara teknologi dan kesiapan sosial. Infrastruktur digital saja belum cukup jika pengguna dan pelaksana di lapangan belum siap menjalankan sistem baru.
Karena itu, penguatan edukasi publik, pelatihan SDM, dan pengembangan bertahap ditempatkan sejajar dengan pemasangan IoT dan pemakaian QRIS. Melalui rancangan ini, Universitas Pradita menghadirkan acuan pengembangan parkir pintar di Surabaya yang juga bisa menjadi referensi bagi smart mobility di Indonesia.







