Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku terharu saat menghadiri open house Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta. Ia menilai pendidikan adalah investasi jangka panjang yang dapat mengubah hidup keluarga, terlebih karena pengalaman pribadinya sendiri terkait bantuan beasiswa.
Pramono mengatakan, tanpa bantuan pemerintah melalui beasiswa, dirinya mungkin tidak bisa menempuh pendidikan. Dari ruang sekolah itu, ia melihat langsung wajah para siswa yang dinilainya penuh harapan dan semangat untuk menatap masa depan.
Perubahan siswa yang membuat haru
Kepala SRMA 10 Jakarta, Ratu Mulyanengsih, juga merasakan perubahan besar pada para siswa yang didampingi hampir setahun. Ia mengaku sempat menangis melihat kondisi awal mereka, namun kini justru terharu karena perkembangan yang ditunjukkan anak-anak didiknya.
Perubahan itu tampak dalam kepercayaan diri siswa yang tampil di depan tamu undangan. Dua siswa, Jasmia Kusuma Dewi dan Naira Intan Safitri, bahkan dipercaya memandu acara dengan lancar dalam open house tersebut.
Panggung untuk keberanian dan bakat
Acara di Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta menjadi ajang bagi para siswa menampilkan bakat masing-masing. Penampilan yang disuguhkan meliputi tari Gadis Bersolek Betawi, karate, pidato dalam bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin, paduan suara, hingga pembacaan puisi.
Selain itu, siswa juga menampilkan atraksi baris variasi, tarian, dan sejumlah pertunjukan lain yang disambut tepuk tangan meriah oleh para tamu. Mereka tampil mengenakan seragam PDL hijau army dan seragam pesiar merah marun dalam rangkaian pertunjukan tersebut.
Percakapan singkat yang menyentuh
Sebelum masuk ke aula, Pramono sempat berbincang singkat dengan Muhammad Sesa, salah satu siswa yang ikut atraksi. Saat ditanya tentang latar belakangnya, Sesa mengaku sempat putus sekolah sebelum akhirnya bisa kembali belajar.
Ketika Sesa menyampaikan bahwa dirinya senang bisa kembali bersekolah, Pramono mengingatkannya agar terus rajin belajar dan menjaga semangat. Percakapan singkat itu menjadi salah satu momen yang paling berkesan dalam kunjungan tersebut.
Sekolah Rakyat sebagai strategi memutus kemiskinan
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi besar Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Menurut dia, program ini tidak hanya mendorong anak-anak agar tetap bersekolah, tetapi juga menyentuh pemberdayaan keluarga mereka.
Ia menyampaikan bahwa orang tua siswa juga akan didukung melalui program strategis pemerintah, termasuk perbaikan rumah agar lebih layak huni. Tujuan akhirnya adalah anak lulus sekolah, sementara orang tua menjadi lebih mandiri tanpa terus bergantung pada bantuan sosial.
Gus Ipul juga menjelaskan bahwa lulusan Sekolah Rakyat memiliki dua jalur masa depan, yakni melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau masuk dunia kerja sebagai tenaga terampil sesuai bakat. Ia bahkan menyinggung kemungkinan lahirnya calon pemimpin nasional dari sekolah tersebut pada masa mendatang.
Pertumbuhan jumlah siswa dan aturan tegas
Saat ini Sekolah Rakyat disebut telah menjangkau lebih dari 15 ribu siswa di 166 titik di seluruh Indonesia. Pada tahun ajaran 2026/2027, jumlah itu akan bertambah lebih dari 32 ribu siswa sehingga totalnya diperkirakan mencapai sekitar 45 ribu siswa.
Khusus untuk SRMA 10 Jakarta, penjangkauan calon siswa tahun ajaran 2026/2027 telah mencapai 90 siswa jenjang SMA, 90 siswa jenjang SMP, dan 27 siswa jenjang SD. Penjangkauan untuk siswa SD masih terus berlangsung hingga kuota terpenuhi.
Di lingkungan Sekolah Rakyat, Gus Ipul menegaskan ada tiga larangan utama, yaitu tidak boleh ada bullying, tidak boleh ada kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, dan tidak boleh ada intoleransi. Ia menyampaikan bahwa setiap pelanggaran akan ditindak tegas.
Dukungan untuk pengembangan di Jakarta
Pramono menilai kekuatan Sekolah Rakyat terletak pada kemampuannya membangun optimisme pada anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan siap mendukung pengembangan sekolah tersebut.
Dukungan itu termasuk pembahasan penambahan kapasitas sekitar seribu siswa di Jakarta. Di akhir acara, Gus Ipul, Pramono, dan para siswa kembali meneriakkan yel-yel khas Sekolah Rakyat, termasuk seruan “Cerdas bersama, Tumbuh setara!” dan “Sayangi orang tua, hormati guru!”
