Harga LPDDR yang terus naik kini bukan hanya menjadi masalah bagi pembeli ponsel, tetapi juga mulai menekan sisi bisnis Samsung sendiri. Lonjakan biaya memori membuat perangkat Galaxy lebih mahal diproduksi, sementara permintaan konsumen ikut melambat karena pasar menjadi lebih berhati-hati.
Di saat yang sama, tekanan itu disebut bisa menyeret divisi semikonduktor Samsung ke situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Mengacu pada laporan MT Co yang dikutip sumber referensi, unit chip Samsung berpeluang mencatat kerugian finansial untuk pertama kalinya.
Permintaan AI mengubah arah pasokan memori
Akar persoalan ini berasal dari lonjakan kebutuhan pusat data AI dan perangkat keras yang mengandalkan RAM serta NAND. Kenaikan permintaan dari sektor tersebut menyedot kapasitas pasokan yang selama ini juga melayani elektronik konsumen.
Akibatnya, ruang untuk pasar ponsel menjadi semakin sempit. Kondisi ini membuat produsen smartphone harus bersaing lebih keras untuk mendapatkan komponen memori yang sama-sama diburu berbagai sektor.
Samsung berada dalam posisi yang sangat penting dalam rantai pasok LPDDR karena menguasai lebih dari 42% pasar. Besarnya pangsa itu membuat setiap perubahan permintaan global langsung terasa pada keseimbangan pasokan memori untuk perangkat konsumen.
Namun, saat kebutuhan AI melonjak, Samsung disebut tidak mampu mengejar permintaan dari pemain besar seperti Tesla dan Nvidia. Stok RAM pun makin banyak dialihkan ke pelanggan sektor AI, sementara pasokan untuk konsumen ikut terpangkas.
Galaxy ikut merasakan dampaknya
Pergeseran pasokan itu langsung mempengaruhi ketersediaan komponen untuk smartphone. Produsen yang sangat bergantung pada LPDDR kini menghadapi situasi saat kapasitas produksi tidak lagi dibagi seimbang seperti sebelumnya.
Gambaran skala tekanannya terlihat dari perbandingan yang disebutkan dalam artikel referensi. Untuk memenuhi kebutuhan RAM pada satu superkomputer AI Nvidia, Samsung disebut harus mengorbankan pasokan setara 4.600 unit Galaxy S26 Ultra yang memakai LPDDR5X.
Angka itu menunjukkan betapa besar prioritas baru yang muncul di industri semikonduktor. Ketika satu proyek AI menyerap komponen dalam jumlah besar, lini smartphone berada lebih jauh di belakang antrean pasokan.
Peringatan internal di tubuh Samsung
Laporan MT Co juga menyebut kepala divisi mobile Samsung, TM Roh, telah menyampaikan peringatan kepada manajemen internal soal potensi kerugian pertama di bisnis semikonduktor. Ia bahkan disebut meminta dewan direksi menyiapkan antisipasi kerugian sepanjang tahun di divisi MX semiconductor.
Peringatan tersebut memiliki bobot besar karena Samsung selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama di industri chip global. Jika proyeksi itu benar terjadi, maka tekanan harga memori tidak berhenti pada pasar ponsel, tetapi juga menyentuh bisnis inti pemasok komponen itu sendiri.
Artikel referensi menegaskan bahwa potensi rugi ini tidak muncul karena posisi Samsung melemah di pasar memori. Masalah utamanya justru ada pada ketidakseimbangan antara permintaan AI yang sangat besar dan ketersediaan RAM untuk pasar lain.
Harga ponsel mulai ikut naik
Dampak lonjakan harga RAM sudah mulai terlihat pada harga jual perangkat Samsung di sejumlah negara. Di Korea Selatan, Samsung baru-baru ini menaikkan harga Galaxy Z Fold, Galaxy Z Flip, dan Galaxy S25 Edge.
Kenaikan tidak berhenti di kelas premium. Harga di lini Galaxy A, Galaxy M, dan Galaxy F juga ikut naik, sehingga tekanan biaya komponen sudah merambat ke segmen yang lebih terjangkau.
Situasi ini membuat permintaan pasar semakin lemah. Biaya produksi yang naik bersamaan dengan minat beli yang menurun jelas menambah beban produsen, terutama ketika konsumen mulai lebih selektif dalam membeli ponsel baru.
Counterpoint, seperti dikutip dalam artikel referensi, melaporkan pasar smartphone India sudah turun 9%. Data itu memperkuat gambaran bahwa kenaikan harga memori tidak hanya dirasakan di pabrik, tetapi juga sudah memengaruhi penjualan secara nyata.
Tekanan yang belum menunjukkan tanda reda
Kasus Samsung memperlihatkan bagaimana ledakan AI dapat memicu efek berantai dari hulu ke hilir. Permintaan besar dari pusat data mendorong pasokan memori bergeser, lalu harga perangkat konsumen ikut tertekan, dan pada akhirnya penjualan smartphone melemah.
Bagi Samsung, kondisi ini menjadi lebih rumit karena perusahaan berada di dua sisi sekaligus. Samsung bukan hanya menjual Galaxy, tetapi juga memasok komponen penting yang kini diperebutkan oleh industri AI dan pasar elektronik konsumen.
Selama kebutuhan RAM dan NAND untuk AI tetap tinggi, tekanan pada LPDDR diperkirakan belum akan cepat mereda. Dalam situasi seperti ini, harga ponsel Galaxy dan kinerja bisnis semikonduktor Samsung sangat bergantung pada bagaimana pasokan dibagi antara kebutuhan AI global dan pasar perangkat konsumen.
