Premi Reguler Tertekan, Industri Asuransi Jiwa Tetap Catat Rp47,27 Triliun Di Kuartal I/2026

Author: Redaksi Android62

Premi asuransi jiwa masih mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang belum mereda. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia atau AAJI mencatat pendapatan premi industri mencapai Rp47,27 triliun pada kuartal I/2026, hanya turun tipis 0,5% secara tahunan.

Di balik angka itu, AAJI melihat adanya sinyal bahwa kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial tetap kuat. Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo Karsono menilai hasil tersebut menunjukkan asuransi jiwa masih relevan meski situasi ekonomi belum sepenuhnya stabil.

Komposisi premi mulai bergerak

Perubahan juga terlihat dari jenis produk yang dipilih nasabah. Asuransi jiwa tradisional masih menjadi penyumbang terbesar dengan premi Rp30,10 triliun, meski angkanya turun 2,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, produk unitlink justru mencatat pergerakan yang lebih positif. Premi unitlink naik 4,1% menjadi Rp17,17 triliun dari sebelumnya Rp16,50 triliun.

Albertus menilai perbedaan arah ini memperlihatkan pasar yang makin beragam. Menurut dia, nasabah kini semakin matang dalam memilih produk perlindungan sesuai kebutuhan masing-masing.

Pola pembayaran ikut berubah

Selain komposisi produk, pola pembayaran premi juga menunjukkan dinamika tersendiri. Premi reguler masih mendominasi dengan nilai Rp28,17 triliun, meski turun 5,2% secara tahunan.

Sebaliknya, premi tunggal justru tumbuh 7,4% menjadi Rp19,10 triliun. AAJI melihat kondisi ini sebagai tanda adanya kebutuhan masyarakat atas pilihan perlindungan yang lebih fleksibel, baik untuk kebutuhan jangka panjang maupun pembayaran yang lebih praktis.

Konvensional dan syariah tidak bergerak seragam

Jika dilihat dari unit usaha, kinerja premi asuransi jiwa konvensional tercatat lebih kuat. Segmen ini naik 4,6% secara tahunan menjadi Rp42,86 triliun.

Berbeda dengan itu, premi asuransi jiwa syariah turun cukup dalam 32,2% menjadi Rp4,41 triliun. Pergerakan yang berlawanan ini menunjukkan kinerja antarsegmen belum berjalan seragam pada periode tersebut.

Bisnis baru masih mengalir

Dari sisi sumber pendapatan, premi bisnis baru pada kuartal I/2026 mencapai Rp27,90 triliun dan tumbuh 5,0% secara tahunan. Angka itu menandakan industri masih mampu menarik kontribusi dari nasabah baru.

Namun, premi lanjutan justru turun 7,5% menjadi Rp19,37 triliun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan premi dari polis yang sudah berjalan masih menghadapi tekanan.

Klaim tetap dibayarkan

Di tengah dinamika itu, industri asuransi jiwa tetap menyalurkan klaim. Pada Maret 2026, total klaim yang dibayar mencapai Rp38,73 triliun, naik 1,5% dari Rp38,16 triliun pada periode sebelumnya.

Ketua Bidang Literasi dan Perlindungan Konsumen AAJI Wianto Chen mengatakan pembayaran klaim tetap berjalan seiring pergerakan premi dan kondisi pasar yang berkembang. Pada saat yang sama, AAJI mencatat total pendapatan industri asuransi sebesar Rp47,63 triliun atau turun 6,0% secara tahunan, dengan hasil investasi minus Rp1,60 triliun dan aset industri mencapai Rp652,89 triliun.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru