Sistem penerimaan di Sekolah Maung akan memberi ruang bagi prestasi nonakademik, bukan hanya nilai pelajaran umum. Jalur ini tetap memakai SPMB, tetapi seleksinya mempertimbangkan prestasi akademik dan juga capaian di bidang olahraga, seni, serta industri kreatif.
Model tersebut menjadi salah satu ciri utama program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang sedang disiapkan untuk tahun ajaran 2026/2027. Sebanyak 41 sekolah menengah atas dan kejuruan akan diubah menjadi Sekolah Maung, terdiri dari 28 SMA Negeri dan 13 SMK Negeri.
Pemprov Jabar tidak membangun sekolah baru untuk program ini. Pilihan yang diambil adalah mengembangkan sekolah unggulan yang sudah ada, lalu menyesuaikannya dengan pola pembelajaran yang lebih fleksibel agar layanan pendidikan bisa mengikuti minat dan bakat siswa.
Penetapan 41 sekolah itu juga tidak dilakukan secara sembarangan. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menyusunnya berdasarkan usulan dari Kantor Cabang Dinas Pendidikan di masing-masing wilayah, kemudian usulan tersebut diverifikasi oleh tim khusus sebelum dituangkan dalam Surat Keputusan Gubernur.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Purwanto, menjelaskan bahwa cabang dinas dianggap paling memahami kondisi wilayahnya. Karena itu, masukan dari daerah dijadikan dasar utama sebelum sekolah-sekolah tersebut masuk ke dalam program Sekolah Maung.
Di sisi lain, Pemprov Jabar masih harus mengurus perubahan nomenklatur resmi ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Langkah ini disiapkan agar identitas Sekolah Maung memiliki landasan hukum yang kuat secara nasional, dan perubahan nama maupun status baru akan dijalankan setelah ada izin dari pemerintah pusat.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa mekanisme penerimaan siswa di sekolah ini akan berbeda dari sekolah reguler. Dengan pertimbangan prestasi nonakademik, siswa yang menonjol di bidang olahraga, seni, atau industri kreatif tetap memiliki peluang masuk ke sekolah tersebut.
Selain membuka ruang bagi talenta yang tidak selalu terlihat dari nilai akademik, sekolah ini juga disiapkan dengan pembagian kelas yang lebih spesifik. Rencananya akan ada kelas seni, kelas olahraga, dan kelas industri kreatif agar pembinaan siswa bisa lebih sesuai dengan bidang unggulan masing-masing.
Pemprov Jabar menyebut sekolah yang masuk program ini bukan sekolah baru, melainkan sekolah unggulan yang diperbarui. Pengembangan fasilitas pembelajaran, integrasi teknologi, dan penguatan kompetensi tenaga pendidik juga ikut disiapkan dalam skema tersebut.
Untuk menjaga kualitas pengajaran, jumlah siswa per rombongan belajar akan dibatasi maksimal 32 orang. Dengan susunan seperti ini, Sekolah Maung diposisikan sebagai model pendidikan yang lebih adaptif dan memberi tempat bagi prestasi di luar akademik tanpa meninggalkan target untuk mencetak sumber daya manusia unggul.
Source: www.babelinsight.id






